by

Melihat Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0

-Opini-164 views

Oleh: Syahrezy Fajar
Mahasiswa STISIPOL Pahlawan 12 Bangka

Kemajuan zaman yang ditandai dengan masuknya paham modernisasi telah memasuki berbagai sendi kehidupan. Istilah modern pula yang pada akhirnya menuntun setiap orang untuk berasumsi bahwa pola pikir dan kehidupan mereka telah beberapa langkah lebih maju dari era terdahulu. Modernisasi yang kita pahami sekarang tidak lepas dari peranan revolusi industri yang mulai ramai diperbincangkan belakangan ini. Revolusi industri yang pertama kali dimulai sekitar tahun 1760 di Inggris merupakan fase awal kemajuan umat manusia dalam peradaban dunia yang ditandai dengan penggunaan mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan. Kemudian, revolusi industri 2.0 datang ditandai dengan penerapan produksi massal dan mulai dimanfaatkannya tenaga listrik. Penggunaan elektronik dan teknologi otomatisasi dalam kegiatan industri menandai hadirnya revolusi industri 3.0. Penggunaan teknologi yang semakin masif diterapkan di berbagai bidang kehidupan di banyak negara menjadi pertanda bahwa revolusi industri 4.0 telah digaungkan.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, revolusi industri 4.0 merupakan kondisi dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya yang tidak hanya digunakan dalam proses produksi, namun juga digunakan di seluruh rantai nilai industri berbasis digital sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan menghasilkan produk yang berkualitas. Artificial Intelligence (AI) atau yang lebih sering disebut dengan kecerdasan buatan merupakan senjata pendongkrak era ini. Selain AI, juga terdapat teknologi lain yang menjadi andalan dalam menopang industri 4.0, yakni internet of things, human-machine interface, teknologi robotic dan sensor serta teknologi percetakan tiga dimensi (3D).
Dewasa ini, kecerdasan buatan semakin menunjukkan peningkatan eksistensinya. Otomatisasi digital tidak lagi hanya digunakan dalam bidang industry, namun juga telah diadopsi ke berbagai bidang yang lain. Peran mesin dan robot perlahan tapi pasti sudah mulai menggeser peran manusia dalam berbagai aktivitas. Misalnya, peran pelayan manusia yang digantikan oleh robot di sebuah restoran seafood di Shanghai, China. Menurut pengakuan manajer restoran, ia memilih robot karena memiliki efisiensi 9 hingga 10 kali lebih tinggi dibanding manusia. Selain itu, robot juga tidak akan mengeluh dan tidak memiliki masalah dengan faktor kelelahan ketika sedang berada di jam sibuk (nextren.grid.id).
Ancaman Revolusi Industri 4.0 Terhadap Tenaga Kerja Lokal
Beragam kemudahan yang dibalut dengan efektif dan efisien menjadikan era ini sangat didambakan banyak orang. Penerapan konsep industri 4.0 juga dapat mengurangi waktu dan biaya produksi serta meminimalkan kesalahan kerja. Akan tetapi, dibalik kemudahan dan sisi positif yang ditawarkan, industri 4.0 juga menyimpan permasalahan yang urgent, yakni permasalahan terkikisnya lapangan pekerjaan. Revolusi industri 4.0 menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa pihak, khususnya bagi para tenaga kerja. Hal yang paling disorot adalah hal yang menyangkut persoalan pekerjaan manusia yang nantinya bakal digantikan oleh teknologi mesin atau robot. Di Indonesia, dampak dari adanya revolusi industri 4.0 ini, bahkan telah menyebabkan “Tsunami PHK” di sektor perbankan.
Berdasarkan data dari Jarkom SP Perbankan, tercatat sejak 2016 hingga akhir 2018 sebanyak 50.000 karyawan bank telah menjadi korban PHK. Efek dari pemanfaatan teknologi yang memaksimalkan penggunaan mesin atau robot telah melanda seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Akibatnya, industri 4.0 ini diperkirakan telah menggerus ratusan juta lapangan pekerjaan di berbagai negara. Revolusi industri memang mempunyai andil yang sangat besar dalam mengeliminasi beberapa pekerjaan strategis saat ini, termasuk pekerjaan yang notabene tidak membutuhkan skill khusus dalam mengerjakannya.

Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0
Menilik perkembangan era digital yang semakin meningkatkan penetrasinya. Sudah sepatutnya seluruh negara di dunia, khususnya Indonesia menyiapkan berbagai strategi dalam menghadapi tantangan yang akan ditimbulkan era ini. Harus diakui, Indonesia saat ini belum cukup kuat untuk dapat mengikuti arus industri 4.0 sebab Indonesia masih berkutat dengan permasalahan minimnya kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada. Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk dapat menyukseskan industri 4.0 ini. Hal ini didukung oleh kemungkinan bonus demografi yang akan diterima Indonesia dalam beberapa tahun kedepan dimana akan lebih banyak penduduk berusia potensial dan produktif. Namun, bonus demografi itu akan terasa sia-sia apabila tidak disupport dengan SDM yang berkualitas. Oleh sebab itu, salah satu hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah dalam menyikapi permasalahan ini adalah dengan meningkatkan kualitas sistem pendidikan saat ini. Pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam memberikan suplemen keterampilan bagi generasi ini.
Peningkatan sistem pendidikan Indonesia sangat diperlukan dalam upaya untuk memastikan bahwa kompetensi yang dimiliki SDM Indonesia sesuai dengan kebutuhan industri yang berbasis digital. Jangan sampai pendidikan yang didapat hanya sekedar menghargai formalitas pendidikan tanpa memiliki sesuatu yang dapat menjadi bekal dalam menghadapi persaingan era digitalisasi ini dimana kita tidak hanya bersaing dengan sesama rekan manusia tetapi juga dengan otomatisasi mesin atau robot. Dalam beberapa tahun kedepan permasalahan yang berkaitan dengan industri 4.0 ini diyakini akan memasuki fase yang lebih kompleks.
Perencanaan kesiapan sejak dini harus dimiliki setiap individu agar tidak tergerus oleh kekuatan zaman digital yang perkembangannya nampak semakin liar. Dalam menghadapi supremasi industri 4.0, pemerintah Indonesia saat ini pun sudah mulai memfokuskan pada strategi meningkatkan keahlian dan kompetensi SDM melalui program pendidikan vokasi link and match antara pendidikan dan industri. Langkah ini patut diberikan apresiasi, namun masih dibutuhkan berbagai strategi dan plan-plan yang lain guna menciptakan SDM yang berdaya saing tinggi. Kolaborasi antar pemangku kepentingan seperti instansi pemerintah, pelaku industri hingga akademisi merupakan suatu keharusan. Jika proses ini telah berjalan dengan baik, maka kiranya Indonesia akan siap menghadapi era revolusi industri 4.0.(***).

Comment

BERITA TERBARU