Melawan Perlambatan Ekonomi dengan Amunisi Teknologi

  • Whatsapp

Oleh: Irsyadinnas
Statistisi Pemda Belitung Timur

Baca Juga

Mencermati kondisi ekonomi daerah kita dalam beberapa tahun belakangan ini, kita patut khawatir. Lihat saja, data series pertumbuhan ekonomi yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Babel menunjukkan angka yang fluktuatif dan bahkan cenderung semakin lambat di tahun 2018 lalu. Setelah awalnya sempat mengalami perlambatan di tahun 2015 jika dibandingkan dengn tahun 2014. Namun, kabar baiknya pada tahun 2016 dan 2017 perekonomian di Babel mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya 2015. Perekonomian global yang semakin membaik pasca resesi yang sempat terjadi tahun 2013 mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap beberapa komoditas lokal seperti timah, karet dan kelapa sawit. Namun di tahun 2018 kembali terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Secara kuantitatif pertumbuhan ekonomi Babel secara berturut-turut dari tahun 2014 sampai dengan 2018 adalah 4,09 persen, 3,90 persen, 4,50 persen, 4,83 persen, dan 4,67 persen.

Pertumbuhan Ekonomi di Pulau Bangka, Pulau Belitung dan Total Bangka-Belitung (persen), 2014-2018

Sumber: BPS Babel, 2019

Memperhatikan bahwa ekonomi daerah yang merupakan bagian integral dari ekonomi nasional sangat dipengaruhi oleh perekonomian global yang akhir-akhir ini, tengah mengalami pelambatan. Artinya, fakta pelambatan begitu nyata, sementara imbasnya akan menjalar ke seluruh dunia sampai dengan ke seluruh pelosok daerah. Penyebabnya, perdagangan global nyaris macet total, sedangkan mata rantai produksi tercerai-berai.

Efek pelambatan global sudah mulai berimbas pada perekonomian RI. Pertumbuhan triwulan III-2019 hanya 5,02 persen atau pertumbuhan terendah sejak triwulan III-2017. Kemenkeu memperkirakan pertumbuhan sepanjang 2019 hanya akan sekitar 5,04 persen. Menghadapi fakta tersebut, ekonom negeri ini berupaya menyusun berbagai skenario kebijakan guna merelaksasi perekonomian agar pelambatan tidak berlanjut, bahkan diupayakan kembali naik.

Dalam berbagai literatur dan referensi ekonomi, seringkali disinggung bahwa salah satu upaya signifikan untuk melawan perlambatan ekonomi ini adalah melalui pemanfaatan teknologi secara tepat sebagai bagian dari faktor produksi. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana disrupsi teknologi bisa menjadi faktor penentu upaya menghindari siklus pelambatan ekonomi? Secara konseptual, teknologi bersama tenaga kerja dan modal merupakan faktor produksi yang apabila dikelola secara efisien akan meningkatkan produktivitas. Adopsi teknologi bisa maksimal jika kualitas sumber daya manusia (SDM) memadai. Sementara, penguatan SDM melalui sistem pendidikan formal bersifat jangka panjang. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim di Kompas 100 CEO Forum di Jakarta, Kamis 28 November 2019 lalu, memperkirakan, jika semua pihak berpartisipasi, dampak perbaikan pendidikan baru akan dirasakan lima belas tahun kemudian. Oleh karena itu, perlu terobosan dalam jangka pendek ini.

Sebagai wujud dari upaya pemerintah untuk mendukung pengembangan dan pemanfaatan teknologi dalam melawan perlambatan ekonomi dan menguatkan ekonomi kreatif, maka pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map E-Commerce) Tahun 2017-2019 yang sudah diberlakukan sejak tanggal 3 Agustus 2017 lalu.

Untuk menghadapi tekanan ekonomi global, pemerintah terus berusaha menangkap sektor alternatif sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara, salah satunya melalui industri berbasis brainware yang di dalamnya adalah industri kreatif dan industri digital. Dikutip dari situs Kementerian Koordinator Perekonomian (Kemenko), selama ini perkembangan ekonomi kreatif telah berkembang cukup pesat. Hal ini bisa dicermati dari hasil survei yang diadakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerjasama dengan BPS, hasil survei menyebutkan bahwa telah terjadi peningkatan besaran PDB Ekonomi Kreatif di tahun 2014 sebesar Rp785 triliun menjadi Rp853 triliun, dan berkontribusi terhadap total PDB nasional sebesar 7,38 persen di tahun 2015. Angka pertumbuhan tersebut diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 12 persen di tahun 2019. Hal ini diperkuat pula dengan perubahan signifikan dari jumlah pengguna internet di Indoensia yang telah mencapai 51,8 persen dari total penduduk Indonesia.

Selain upaya pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan ekonomi global sebagai telah diurai di atas, di sisi lain pelaku usaha harus mampu juga menemukan peluang baru di tengah stagnasi ekonomi global ini. Merupakan keniscayaan, bahwa di setiap tantangan tersembuyi peluang untuk menyelesaikannya. Seringkali, teknologi dianggap faktor kunci pemanfaatan peluang bisnis, seperti terjadi pada Tokopedia, Go-Jek, Traveloka, Bukalapak, dan usaha start-up lainnya.

Pada prinsipnya teknologi sebenarnya hanyalah instrumen penunjang dalam daktor produksi. Faktor utama yang penting dalam produksi adalah SDM. Data BPS menyebutkan bahwa dari total jumlah penduduk bekerja di Indonesia pada Agustus 2019 yang sebanyak 126,51 juta jiwa, sekitar 57,54 persen di antaranya berlatar belakang pendidikan SD dan SMP. Sebesar 18,33 persen berlatar berpendidikan SMA, Sekolah Menengah Kejuruan 11,73 persen, Diploma I-III sebesar 2,7 persen dan Universitas 9,7 persen. Ini berarti bahwa tenaga kerja di Indonesia masih di dominasi oleh pekerja dengan latar belakang pendidikan SD dan SMP ke bawah.

Berkenaan dengan hubungan tenaga kerja dan peluang teknologi ini, setidaknya ada dua hal yang harus menjadi perhatian. Pertama adalah mengadopsi teknologi yang sifatnya sederhana, tepat guna, namun bisa mendongkrak produktivitas secara nyata. Adopsi teknologi di sektor mikro dan menengah bisa menjadi salah satu terobosan penting agar terjadi peningkatan kinerja sektor yang merupakan 97 persen entitas dunia usaha di Indonesia.

Kedua, meningkatkan kapasitas melalui program pelatihan di bidang teknologi. Kartu Indonesia Kerja salah satunya diarahkan untuk reskilling atau upskilling pekerja. Kerja sama dengan institusi profesional penyedia keterampilan menjadi salah satu kunci keberhasilan, selain merevitalisasi balai latihan kerja yang sudah ada. Selain itu, bisa juga mendorong dunia usaha agar memberi fasilitas pelatihan karyawan untuk menguasai ketrampilan baru berbasis digital.

Mengakhiri tulisan ini, penulis menyampaikan catatan khusus bahwa, seluruh elemen bangsa, baik pemerintah dan terutama dunia usaha, khususnya para pelaku usaha di bidang ekonomi kreatif harus terus berkarya dan berinovasi, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi dalam proses bisnis agar bisa berselancar dengan baik di tengah pusaran gelombang hambatan ekonomi. Pemanfaatan teknologi sebagai amunisi untuk membantu kita menemukan kebaruan cara guna efektivitas dan efesiensi biaya produksi dan merevitalisasi perekonomian kita secara menyeluruh untuk menuju percepatan ekonomi berkelanjutan. (***)

Related posts