by

Melawan Paperless Society dengan Mengaktifkan Kembali Mading Sekolah

-Opini-154 views

Oleh: Tohir, S.T
Guru SMK Negeri 1 Bakam, Kabupaten Bangka

Paperless society atau masyarakat tanpa kertas merupakan sebuah fenomena yang dilahirkan dari perubahan dunia yang semakin digital. Sebenarnya keberadaan paperless society ini, sudah diramalkan sejak tiga dekade silam tepatnya tahun 1978. Adalah Frederick Wilrid Lancaster, seorang information scientist berkebangsaan Amerika yang pertama kali memprediksi bahwa penggunaan kertas untuk keperluan surat menyurat, dokumentasi, penerbitan buku, dan lain-lain akan digantikan oleh teknologi digital. Selain itu, perpustakaan sebagai gudangnya buku tidak lagi menangani dokumen cetak. Hal ini diutarakan Lancaster & Smith dalam bukunya yang berjudul The future of the librarian lies outside of the library di halaman 391 tertulis bahwa “Pustakawan, pada waktunya, akan menjadi spesialis informasi dalam lingkungan yang tidak dilembagakan”.

Mungkin banyak di antara kita yang mendukung dan ikut ambil bagian dalam tatanan paperless society, bisa jadi karena kemudahan yang ditawarkan teknologi tak membuat orang-orang repot mencari kertas dan pena ketika akan menulis. Ditambah lagi, komunikasi non kertas yang berbantukan teknologi membuat siapa saja dan dimana saja dapat ngobrol secara realtime.

Membayangkan masyarakat dunia bertransformasi sepenuhnya menjadi paperless society membuat saya ngeri-ngeri sedap. Karena Penulis beranggapan, kertas merupakan sebuah media yang harus selalu eksis disepanjang peradaban manusia. Artinya, selama manusia masih bernafas dan menginjakan kaki di bumi, kertas pun harus selalu digunakan disetiap negeri. Kenapa begitu? Secara sederhana, Penulis berpendapat, komunikasi berbantuan teknologi hanya akan efektif untuk pesan atau tulisan yang tidak terlalu panjang dan diperuntukkan kepada orang-orang rentang usia produktif. Coba pikirkan jika ada sebuah prosa yang sangat panjang ditulis diperangkat teknologi dan anda diminta untuk menuliskan kesan sebagai tanggapan, bukankah akan lebih baik pemahaman anda tentang prosa tersebut jika prosa dicetak pada kertas? Bayangkan pula bagaimana susahnya seorang nenek berusia 70 tahun harus membaca tulisan di perangkat elektronik? Alih-alih mengerti apa maksud dari tulisan tersebut, yang ada justru kepalanya menjadi pusing. Betul tidak? Bandingkan kepuasan yang didapatkan siswa ketika tugas sekolahnya dikumpulkan menggunakan file dan yang dikoreksi guru di buku tulis siswa. Guru yang menyematkan centang maupun silang, ditambah nilai pada pojok kanan atas buku tulis siswa akan memberikan kepuasan tersendiri kepada siswa ketimbang mengumpulkan tugas berupa file yang tidak memberikan kesan berarti bagi siswa.

Selain itu, kertas juga memiliki kebaikan yang tidak dimiliki oleh perangkat teknologi. Kebaikan yang dimaksud adalah semacam kebebasan berimajinasi dan berkreasi. Tak percaya? Ambil sebuah kertas putih kosong dan pena untuk menggambar, anda akan memiliki karya seni yang unik. Ambil sebuah kertas putih kosong dan pena untuk menulis catatan cinta, bubuhi dengan kecupan bibir anda yang berlipstik, anda akan memiliki ekspresi cinta yang terasa nyata. Kebebasan berimajinasi dan berkreasi ini, dapat disentuh secara nyata, sangat kontras dengan perangkat teknologi dengan fitur pengeditan paling mumpuni sekalipun.

Masih terinspirasi dari Lancaster yang juga menyatakan bahwa komputer dan perpustakaan yang mengarah ke perpustakaan digital tidak akan selalu memberi kita informasi bahwa orang lain dan kehidupan akan terasa hidup. Inilah yang menjadi alasan kuat lainnya agar kertas harus tetap eksis di sepanjang masa. Dalam lingkup sekolah, kertas dapat terus dilestarikan keberadaannya melalui pengaktifan kembali majalah dinding (mading) sekolah. Keberlangsungan mading di sekolah di era digital seperti sekarang, selain untuk melawan paperless society, juga memiliki manfaat lainnya. Penulis deretkan mulai dari mading mengajak siswa untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, kreativitas, keberanian, dan imajinasi tentunya bermediakan kertas dan di pajang di dinding sekolah. Unjuk karya siswa bisa berupa tulisan tentang gagasan-gagasan baru, karya seni unik, tutorial cara melakukan sesuatu, foto candid warga dan lingkungan sekitar sekolah yang memiliki unsur estetika, humor, takzim, dan lain sebagainya.

Teknisnya, OSIS sekolah membentuk sebuah tim yang beranggotakan siswa-siswi pegiat dan pehobi literasi. Mereka ditugaskan sebagai tim pendayagunaan mading sekolah. Seluruh siswa yang memiliki karya akan memberikan hasil karyanya kepada tim pendayagunaan mading sekolah. Kemudian, tim secara periodik akan berkumpul dan melakukan semacam rapat redaksi guna memilah dan memilih karya yang layak tampil di mading sekolah, menyusun tata letak dan menempelkan karya tersebut di sebuah karton. Setiap periode mading yang ditampilkan hendaknya memuat hasil kolaborasi beragam unsur kecerdasan siswa di sekolah.

Mading sekolah seyogyanya harus terus diberdayakan untuk melawan paperless society, mengingat biaya penerbitan mading lebih murah dibandingkan dengan penerbitan koran atau majalah sekolah. Ditambah lagi mading memiliki sisi kemeriahan, karena karton mading bisa dihias di sana sini yang sebagai bentuk kebebasan berekspresi siswa.

Agar siswa termotivasi untuk mengumpulkan buah karyanya kepada tim pendayagunaan mading sekolah, maka sekolah perlu memberikan reward kepada setiap karya yang terbit di mading sekolah. Kurang lebih semacam honor yang diberikan media massa ketika tulisan seseorang dimuat di media massa tersebut. Honor tidak melulu berupa uang, bisa berupa apa saja sebagai bentuk apresiasi sekolah terhadap siswa yang mendukung gerakan melawan paperless society.

Mudah-mudahan dengan kegiatan seperti ini, kertas tidak tergerus keberadaannya dimakan zaman, sehingga walaupun keberadaan paperless society tetap tidak bisa dihindari, paperless society tak akan melenyapkan eksistensi kertas di alam semesta. (***).

Comment

BERITA TERBARU