Melatih Jiwa Kepemimpinan dan Kemandirian Siswa Melalui Kegiatan LDKS

  • Whatsapp

Oleh: Leny, S.Pd
Pendidik SMA Negeri 1 Merawang, Kabupaten Bangka

Bulan September lalu, SMA Negeri 1 Merawang baru saja usai mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) untuk calon pengurus OSIS 2020. Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa merupakan sebuah pelatihan tingkat dasar ikhwal segala sesuatu yang berkaitan dengan kepemimpinan. Kegiatan LDKS ini biasanya dilaksanakan setiap tahun oleh Pengurus OSIS yang sedang menjabat kepada calon Pengurus OSIS yang akan datang baik itu jenjang sekolah menengah pertama maupun jenjang sekolah menengah atas.

Menilik Kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa selama ini, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa umumnya dibagi menjadi dua tahapan kegiatan, yakni LDKS mental dan LDKS fisik. Dua tahapan tersebut diadakan di tempat dan waktu yang berbeda. Untuk LDKS mental, pemateri lazimnya adalah kepala sekolah, dewan guru, psikolog, atau mendatangkan psikolog dari suatu lembaga, dapat pula. LDKS Mental dapat diadakan di luar sekolah ataupun di lingkungan sekolah dalam rentang waktu 2-5 hari disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan LDKS fisik untuk jenjang sekolah menengah ini, sebaiknya memang diadakan di lingkungan sekolah dalam rentang waktu 4 – 7 hari. Pelaksana LDKS fisik ini biasanya adalah Pengurus OSIS yang sedang menjabat dengan pantauan secara ketat oleh Dewan Guru dan Pembina OSIS.

Materi seperti apa yang diberikan dalam kegiatan LDKS mental? Lazimnya materi yang dapat melatih jiwa kepemimpinan dan kemandirian siswa. Penyuluhan dikemas menarik agar tidak membosankan, pengalaman nyata semisal hiking, menyusuri lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah yang sudah dikondisikan sedemikian rupa agar siswa mendapatkan sensasi yang berbeda dari biasanya, dan permainan-permainan yang memiliki nilai kepemimpinan dan kemandirian. Dalam pelaksanaannya, kegiatan LDKS mental ini dapat dipecah menjadi empat sesi antara lain sesi penyuluhan (mengenai karakter pemimpin sejati, cara berkomunikasi yang benar layaknya seorang pemimpin, pentingnya kemandirian, dll), sesi problem solving, sesi challange, dan sesi dinamika kelompok.

Sesuai dengan labelnya, LDKS fisik adalah kegiatan yang dilakukan untuk melatih fisik siswa agar kuat dan terlatih sehingga tak mudah merasa lelah secara fisik. Biasanya LDKS fisik ini diberikan dalam bentuk pelatihan baris berbaris tingkat dasar (balik kanan, hadap kanan/kiri, hadap serong kanan/kiri, jalan di tempat, meluruskan barisan, dan langkah tegap maju), baris berbaris tingkat menengah (buka tutup barisan, perpaduan antara Jalan di tempat dengan Balik Kanan serta keempat jenis hadap-hadapan, perpaduan antara Langkah Tegap Maju dengan Balik Kanan serta keempat jenis hadap-hadapan), baris berbaris tingkat tinggi (haluan kanan/kiri beregu, belok kanan/kiri beregu, langkah tegap maju beregu, perpaduan antara Langkah Tegap Maju, Balik Kanan, keempat jenis hadap-hadapan, dan Jalan Ditempat).

Pasca latihan tersebut, panitia akan menguji skill baris berbaris siswa berupa perpaduan keseluruhan materi baris-berbaris. Tujuan kegiatan LDKS fisik jelas untuk melatih kemandirian sekaligus kedisiplinan tingkat tinggi, karena umumnya selama pelaksanaan kegiatan ini, siswa diwajibkan hadir di tempat latihan baris berbaris tepat waktu dan wajib mematuhi seluruh aturan dan perintah yang diberikan oleh pelatih. Jika melanggar, hukuman push up adalah hal yang pasti diberikan untuk siswa laki-laki dan hukuman squat jump merupakan hal yang tentu diwajibkan untuk siswa perempuan.

Setelah calon Pengurus OSIS yang baru mengikuti seluruh rangkaian kegiatan LDKS mental maupun LDKS fisik, diadakanlah seremoni pelantikan oleh pengurus OSIS yang menjabat sekarang. Setelah acara pelantikan selesai, purna sudah tugas pengurus OSIS sekarang dan digantikan oleh pengurus OSIS yang baru. Pelantikan dan pengesahan ini tentu disahkan oleh kepala sekolah dan disaksikan oleh dewan guru.

Namun, jika ditinjau dari hakikatnya, Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa sepertinya akan lebih ideal jika diikuti oleh seluruh siswa. Mengapa? Bisa kita lihat, cukup banyak siswa yang walaupun sudah bersekolah di jenjang menengah, masih saja bergantung kepada orang tuanya mulai dari hal-hal yang sebetulnya dapat ia persiapkan sendiri sampai pada hal-hal yang sesungguhnya dengan berusaha dapat ia selesaikan sendiri. Lambat laun, ketergantungan ini akan menjadi kebiasaan yang sukar untuk diubah. Bagi siswa dimana orang tuanya berasal dari kelas menengah ke bawah kemandiriaan merupakan sebuah urgensi. Sedangkan bagi siswa yang memiliki orang tua dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas, kemandirian adalah sesuatu hal yang tak perlu dilakukan, karena semua fasilitas dan kemudahan telah tersedia di depan mata tanpa perlu bersusah payah untuk diusahakan. Tak usah membantu orang tua membersihkan rumah, pun tak pernah memikirkan beban kehidupan keluarga. Alhasil life skill kemandirian merupakan hal yang mewah bagi siswa-siswa keluarga mapan.

Begitulah kenyataannya. Sebagai pendidik sudah saatnya kita melakukan refleksi. Pentingkah seluruh siswa mendapatkan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa ini? (***).

Related posts