Mega Proyek Museum Maritim Molor

  • Whatsapp
PROYEK MOLOR – Pengerjaan pembangunan mega proyek museum maritim di Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung senilai hampir Rp31 miliar yang berakhir kontrak per 31 Desember 2019 lalu, terlihat masih jauh dari tahap penyelesaian. (foto diambil Sabtu 04 Januari 2020). (Bastiar Riyanto)
  • Realisasi Pekerjaan Sekitar 60 Persen
  • Diduga Pekerja Tidak Dilindungi BPJS Ketenagakerjaan

SIJUK – Mega proyek pembangunan museum maritim Belitung di Desa Tanjung Tinggi Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung, senilai Rp. 30.906.727.000,- dengan akhir kontrak pada 31 Desember 2019 lalu, rupanya belum selesai dikerjakan.
PT. Dian Citra Indonesia (PT. DCI) selaku kontraktor pelaksana yang ditunjuk Direktorat Jenderal Kebudayaan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, tidak dapat menyelesaikan pembangunan museum maritim tepat waktu.
Pantauan wartawan dilapangan Sabtu (4/1/2020), tampak realisasi pembangunan museum diperkirakan tidak lebih dari 60 persen. Terlihat dinding dan atap bangunan yang dirancang 2 lantai tersebut belum terpasang. Besi kerangka atap pun masih berserakan.
Para pekerja juga tampak terus bekerja dengan diawasi seorang pengawas. Parahnya, tidak lagi terlihat ada papan proyek di lokasi pekerjaan.
Diketahui proyek museum maritim Belitung dengan nomor kontrak: 3701/E2.6/LK/2019, dimulai tanggal 09 September 2019, dengan masa pengerjaan selama 114 hari.
Sementara itu, Jumadi selaku Seat Manager PT DCI mengklaim bahwa progres pengerjaan museum dengan ribuan meter kubik tanah timbunan sudah mencapai 87 persen.
“Sudah 87 persen,” kata Jumaidi, Sabtu (04/01/2020).
Menurutnya, pekerjaan akan selasai pada akhir Januari nanti. Kendati demikian, Jumaidi tak menampik kalau pekerjaan sudah melewati waktu normal sesuai dengan kontrak.
“Waktu normal kita sesuai kontrak selama 114 hari,” ucapnya.
Mirisnya informasi diperoleh dari salah seorang pekerja, diduga
PT. DCI tidak melindungi para pekerjanya dengan BPJS Ketenagakerjaan.
Hanya saja persoalan ini, ditepis oleh Jumadi. Dikatakan olehnya, total seluruh pekerja berjumlah lebih dari 200 orang sudah didaftarkan ke BPJS ketenagakerjaan.
“Itu salah satu syarat,” kelit Jumaidi.
Sedangkan pelaksana proyek Suhendra menambahkan semua pekerjaan sesuai kontrak, dan perusahan mengikuti aturan tidak keluar dari jalur.
“Kita ikut aturan,” sambungnya.
Hal tersebut berbeda seperti disampaikan oleh seorang pekerja yang minta identitasnya dirahasiakan.
“Pekerja tidak dilindungi dengan BPJS Ketenagakerjaan,” tandasnya.
Ia mengungkapkan, saat hanya tersisa sekitar 60 orang pekerja saja, sedangkan yang lain sudah terlebih dahulu pulang. (yan/6)

Related posts