Media Sosial, Sarana Personal Branding

  • Whatsapp

Oleh: Krisna Ayu Mayangsari Udhaningrum
Mahasiswi Universitas Sebelas Maret/Pemerhati Isu sosial dan Ekonomi

Di zaman kemajuan teknologi yang sangat pesat seperti sekarang, hampir tidak ada orang yang tidak memiliki akun media sosial. Ada facebook, instagram, twitter, youtube, whatsapp, dan ratusan aplikasi populer lainnya. Masing-masing aplikasi tersebut, memiliki keunggulan sesuai dengan kebutuhan yang dicari oleh penggunanya. Ada whatsapp bagi pengguna yang menginginkan komunikasi suara maupun tatap muka, instagram dengan fasilitas posting foto dengan berbagai fitur penunjang, dan lain sebagainya.
Keberadaan media sosial di tengah masyarakat menawarkan berbagai keuntungan dan kemudahan. Penyampaian informasi serba cepat, publikasi kegiatan yang terintegrasi antara satu aplikasi dengan aplikasi lainnya hingga peluncuran bisnis dengan jangkauan yang sangat luas.
Bayangkan saja semisal kita memiliki usaha pakaian yang berada di salah satu kota dan ingin memperkenalkan produk kita ke seluruh Indonesia dapat kita lakukan dengan hanya melakukan unggahan di media sosial. Dengan strategi tertentu, produk kita akan dikenal orang yang berada di Sabang dan Merauke. Betapa mudahnya.
Bagai dua sisi mata pisau, selain banyak sisi positif, nyatanya media sosial juga menyimpan sisi negatif yang sering kali tidak disadari oleh penggunanya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Rosarita Niken Widiastuti bahwa tingginya angka penggunaan media sosial oleh masyarakat Indonesia berbanding lurus dengan potensi konflik, karena semakin tingginya risiko penyebaran konten negatif, pesan provokasi berantai dan ujaran kebencian melalui media sosial.
Alih-alih menggunakan media sosial secara bijak, saat ini marak media sosial menjadi sarana untuk melakukan perundungan maya (cyber bullying), ujaran kebencian, postingan bernada keluhan, mengumbar aib sendiri, mencemarkan nama baik orang lain dan penyebaran berita berita bohong untuk menjatuhkan reputasi pihak tertentu. Pengguna perlu memperhatikan apa yang ia bagikan di akun miliknya agar tidak merugikan dirinya sendiri maupun orang lain di masa mendatang.
Selain hal-hal yang berkaitan dengan memicu timbulnya konflik dengan pihak lain, jenis unggahan kita di media sosial juga dapat memperngaruhi karir dan peluang memperoleh pekerjaan. Beberapa waktu lalu salah satu akun instagram mengunggah pernyataan Menteri Ketenagakerjaan, Muhammad Hanif Dhakiri yang berasal dari salah satu koran “Ke depan pengecekan akuntan medsos akan menjadi tren bagi perudaahaan saat akan menerima karyawan, sehingga, kalau medsos kita enggak benar itu bisa mengganggu perjalanan karier kita“.
Sebenarnya, apabila kita perhatikan beberapa tahun terakhir, perusahaan tertentu sudah mulai meminta para calon pelamar kerja untuk mencantumkan akun media sosial. Hal tersebut menjadi salah satu cara HRD untuk menilai apakah kandidat sudah sesuai dengan karakter dan nilai yang dibutuhkan perusahaan.
Bila kita cermati, apa yang kita bagikan di media sosial juga sangat berkaitan dengan personal branding. Personal branding adalah citra diri kita di mata orang lain. Apa yang kita bagikan di media sosial merupakan cerminan karakter diri. Apakah kita seorang dengan karakter positif atau negatif.
Salah satu tokoh yang dapat dijadikan contoh dalam melakukan personal branding adalah Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat. Seperti kita ketahui beliau adalah sosok pemimpin yang aktif di media sosial dan memiliki banyak pengikut. Apa yang beliau bagikan di akun instagram pribadinya memiliki ciri khas dan daya tarik tersendiri. Terlihat beliau adalah sosok yang humoris, aktif dan dekat dengan masyarakat.
Selain itu, tokoh lain yang juga menggunakan akun media sosialnya untuk melakukan personal branding adalah Analisa Widyaningrum, seorang psikolog dan social media influencer. Wanita cantik tersebut menjadikan akun instagramnya sebagai sarana untuk mempromosikan program pengembangan diri yang dirintisnya. Sebagai seorang psikolog, Analisa juga sering membagikan kegiatan-kegiatan pribadinya secara positif yang tentunya akan menambah nilai lebih dan menjadi inspirasi bagi orang lain.
Begitu besar peran media sosial dalam mem-branding diri kita. Apakah kita ingin dikenal sebagai motivator? Seorang yang membagikan inspirasi untuk menjadi pengusaha? Trendsetter di dunia fashion? Seorang influencer di bidang pendidikan? Ataukah sebaliknya, dikenal sebagai pribadi dengan citra negatif. Begitu banyak tokoh yang lahir dari bukan siapa-siapa menjadi seorang influencer yang berawal dari postingan-postingannya di media sosial.
Dulu, kita sering mendengar kalimat bijak, “Mulutmu adalah harimaumu”. Seiring perkembangan zaman, kalimat tersebut mengalami modifikasi menjadi, “Jarimu, harimaumu”. Mulai sekarang bagikan hal-hal positif agar kita dikenal sebagai orang yang membagikan nilai-nilai postif bukan sebaliknya.
Jangan sampai karir terganggu, hubungan dengan orang lain bermasalah, dan kita dikenal sebagai seorang dengan citra negatif. Bisa jadi kebaikan-kebaikan yang kita bagikan di jejaring sosial menjadi pintu rezeki kita di masa depan. Jadi, mau dikenal sebagai apa melalui unggahan kita di media sosial?(***).

Related posts