by

Medali Tanpa Harga Diri

-Cerpen-486 views

Karya: Rusmin

Lembayung menelungkup dalam awan. Senja mulai tiba. Kelelawar mulai mencari dahan untuk berlindung. Disebuah lapangan sepakbola, lelaki itu masih asyik dengan kesendiriannya. Memandang ke arah lapangan yang rumputnya bersih karena sering dimakan sapi. Sebuah tembakan dari jarak jauh yang dilontarkan seorang pemain yang sedang berlatih mencengangkannya. Tendangan yang pernah menjadi bagian dari dirinya.
“Ah,sudahlah,” desisnya sambil meninggalkan arena lapangan sepakbola kampung yang pernah membesarkan namanya hingga menjadi seorang pesepakbola yang terkenal.
Usai magrib, seperempat penduduk negeri ini sedang berada di depan tipi. Bagaimana tidak malam ini tim sepakbola negeri ini akan bertarung dibabak final melawan negara Tirai Bambu. Sebuah pertarungan yang amat prestise.
“Kalau dalam sektor ekonomi kita sudah kalah, mudah-mudahan dalam sektor olahraga khususnya sepakbola kita akan juara dan mengeskalasi harkat dan martabat bangsa,” ulas seorang komentator televisi.
“Karena olahraga khususnya sepakbola merupakan alat perjuangan juga. Mengangkat merah putih di kancah internasional,” sambungnya dengan narasi berapi-api.
Dulah hanya menelan ludah. Pandangan matanya menatap ke arah luar rumahnya. Sepi. Tak ada aktivitas. Tak ada lalulalang orang. Tak ada sama sekali. Orang-orang sibuk di depan televisi. Mendukung tim nasional atau timnas sepakbola yang sedang bertarung mengangkat harkat dan martabat bangsa di kancah internasional.
“Nasionalisme? Itu hanya untuk orang kecil saja. Untuk orang berkuasa itu santapan pagi mareka,” desisnya.
###

Sebagai pemain sepakbola yang pernah memakai seragam timnas, Dulah bangga. Maklum pemain timnas adalah pemain pilihan dari sekian ratus juta penduduk negeri ini. Persaingan masuk dalam skuat timnas amat ketat dan sarat persaingan yang kompetitif antar pemain. Tak semua pesepakbola bernasib baik bisa menjadi pemain timnas. Berlaga dilapangan hijau dengan garuda didada. Diriuhi tepuk ratusan ribu penonton yang memadati stadion. Dan tentu saja ekspos pemberitaan yang sangat luar biasa dari berbagai media yang membuat semua rakyat di negeri ini hafal wajah dan nama pemainnya.
Dulah teringat waktu pertama kali memperkuat tim sepakbola nasional. Selain dipenuhi rasa grogi, garuda di dada yang ada dalam kostum membuat suasana hatinya kacau balau saat pelatih menetapkan nama dalam daftar 11 pemain utama atau line up. Diturunkan sebagai pemain inti. Pemain yang berposisi sebagai playmaker itu masih ingat dengan wejangan dari pelatih, terutama sang manejernya.
“Kalian adalah patriot bangsa. Kalian harus bangga berlaga di lapangan hebat dengan kostum hebat yang berlambangkan garuda. Apakah kalian semua siap membela merah putih?” tanya sang manager dengan suara lantang.
“Siap!” teriak Dullah dan rekannya dengan semangat 45 yang amat membara.
Tak heran dalam pertandingan eksebisi itu timnas menghajar Timnas Negeri Sakura dengan skor telak 3-0. Dullah menjdi pemain terbaik lewat assistnya yang mampu diselesaikan striker haus gol ke gawang negeri Sakura. Dan besoknya Dullah terkejut aksinya di lapangan hijau menghiasi halaman suratkabar ibukota.
Dullah pun menjadi idola. Pemilik klub klas top memburunya untuk membela klub mereka. Harga jual Dullah sebagai pemain sepakbola terangkat. Bahkan menjadi pemain dengan rekor harga termahal.
Malam itu adalah pertandingan final Piala Asia Pasific. Timnas sukses meraih tiket ke final dan siap tempur untuk menghadapi tim negara Gajah Putih. Sejuta asa telah terpatri dalam jiwa para pemain. Inilah momentum bagi semua pemain Timnas untuk menunjukkan klas sebagai pesepakbola dunia.
“Kita harus tunjukkn kepada mereka, bahwa kita sebagai tim bukan hanya disegani lawan tapi kita menjadi tim yang ditakuti lawan,” pesan sang pelatih.
“Siap,” teriak Dullah dan kawan-kawan dengan narasi membara.
“Saatnya kita menang dan menang,” seru sang pelatih memompa semangat pemainnya.
“Siap menang,” teriak pemain timnas bergemuruh dalam ruang ganti pemain.
###

Itulah kenangan manis dan terakhir Dulah bersama timnas diarena persepakbola nasional. Dulah bahagia sekali. Airmatanya selalu meleleh membasahi pipinya kalau mengenang peristiwa heroik 2×45 menit itu. Bagaimana tidak, disaat injury time, ketika wasit hendak meniupkan peluit, tendangan kerasnya dari luar kotak pinalti mampu menggetarkan jala gawang Timnas Gajah Putih yang dikawal pemain klub dunia Barcelona. Tendangan keras ke pojok kiri gawang membuat skor berubah menjadi 1-0. Dan timnas juara Piala Asia untuk pertama kalinya. Sambutan terhadap para pemain pun sangat luarbiasa saat tiba di tanah air. Presiden pun memberi waktu untuk bertemu dan sekadar makan siang bersama pemain Timnas.
Dan usai pertandingan itu, Dulah sering mendapat teror dari orang-orang yang tak dikenalnya. Dulah pun tak pernah lagi dipanggil Timnas. Apalagi semenjak sang pelatih mengundurkan diri, Dulah tak pernah lagi dipanggil dalam Pelatnas. Bahkan diklubnya sendiri Dullah jarang dimainkan 90 menit. Pemain berkostum nomor punggung 10 itu lebih banyak di bangku cadangan.
“Sekarang kamu baru tahukan, siapa sebenarnya penguasa sepakbola itu?. Kami, bukan kalian para pemain. Tanpa kami kalian hanyalah pemain kampung tak dikenal orang dan dunia. Kami yang membuat kalian terkenal dan hebat. Tapi kamu membantah dan mementingkan tim dan nama baik bangsa. Sekarang kamu terima akibatnya,” ujar seseorang lewat telepon genggamnya.
Suara itu amat dikenal. Sangat familiar dengan Dullah dan kawan-kawan di Timnas. Suara yang selalu menggelegar di ruang ganti. Suara yang selalu menyuarakan nasionalisme di dada para pemain. Suara yang selalu melecutkan nafas nasionalisme dalam setiap pergerakan pemain di lapangan hijau.
###

Tiba riba Dullah kaget. Suara istrinya menggagetkannya dari mimpinya. Televisi pun sudah mati. Tak ada lagi gambar pemain yang mengejar bola di lapangan. Tak ada sama sekali.
“Ayo cuci muka. Kita makan sahur. Ntar telat. Anak-anak sudah siap di meja makan,” ujar istrinya.
Dengan mata yang masih berat, Dullah pun menyegerakan diri ke kamar mandi. Bukan hanya sekadar mencuci muka tapi berwudhu dan siap ke mesjid untuk menunaikan Sholat Subuh usai makan sahur bersama keluarganya. (***)

Comment

BERITA TERBARU