Me Hoa Kenalkan Alex dan Bahar saat Kampanye

  • Whatsapp
Majelis hakim Bawaslu Babel saat sidang lanjutan dugaan pelanggaran administrasi Pemilu 2019 dengan terlapor calon anggota DPD RI, Bahar Buasan dan Alexander Fransiscus, kemarin. (Foto: Roni Bayu)

Pelapor Akui Ada Bagi Jilbab & Kartu Nama

PANGKALPINANG – Badan Pengawas Pemilu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Bawaslu Babel) menggelar sidang marathon terhadap dugaan pelanggaran administrasi pemilu dengan terlapor calon perseorangan atau anggota DPD RI daerah pemilihan Bangka Belitung, Alexander Fransiscus dan Bahar Buasan.
Dalam sidang lanjutan Kamis (21/3/2019) di Sekretariat Bawaslu Babel di Komplek Perkantoran Pemerintah Provinsi Babel di Kelurahan Air Itam, Kota Pangkalpinang, hadir juga terlapor Me Hoa yang merupakan calon anggota legeslatif dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (Caleg PDIP) untuk DPRD Kabupaten Bangka Tengah dan Imam Wahyudi, caleg DPRD Provinsi Babel dari Dapil Kabupaten Bangka.
Sidang dengan agenda pembuktian ini, mendengar kesaksian pelapor, Aeti warga Tanah Merah, Kecamatan Namang Kabupaten Bangka Tengah. Dalam sidang itu ia menyampaikan, hadir pada kampanye yang dimotori Me Hoa. Dia hadir karena diajak oleh Rustam tetangganya untuk menghadiri kampanye.
“Karena hubungan baik, datang saja,” katanya.
Dijelaskan dia, pertemuan kampanye dialogis di Kecamatan Pangkalanbaru saat itu dihadiri oleh Caleg DPRD Kabupaten Bangka Tengah Me Hoa, Caleg DPR RI Rudianto Tjen dan dua calon anggota DPD RI daerah pemilihan Babel Alexander Fransiscus dan Bahar Buasan.
“Yang banyak bicara Ibu Me Hoa. Ya, Ibu Me Hoa memperkenalkan Pak Bahar dan Bapak Alex dan menyebutkan nomor urut,” ungkapnya.
Namun Aeti mengatakan, pertemuan yang digelar pada 23 Februari 2019 pukul 16.00 WIB di depan rumah warga itu tidak diikutinya hingga selesai. “Ada dikasih kartu nama, saya gak ngambil dan dikasih jilbab,” tukasnya.
Sidang yang dipimpin komisioner Jafri didampingi Edi Irawan, Dewi Rusmala dan Firman TB Pardede kemarin, usai pemeriksaan keterangan saksi-saksi kemudian ditunda. Dan Imam Wahyudi yang menerima mandat dari Rudianto Tjen ditolak keterangannya oleh majelis sidang.
“Kehadiran Imam Wahyudi tidak diperkenankan memberikan keterangan, karena suratnya hanya untuk menghadiri sidang,” kata Jafri kepada sejumlah wartawan usai sidang.
Menurut Ketua Majelis Sidang ini, selepas pemeriksaan saksi-saksi Bawaslu hanya mempunyai waktu selama dua hari lagi guna memutuskan dugaan pelanggaran administrasi pemilu terhadap calon perseorangan atau anggota DPD RI Alexander dan Bahar Buasan ini.
“Tadi adalah sidang kelanjutan sidang kedua pembuktian. Tadi sudah ada dari KPU, Panwas Bangka Tengah dan Bangka Selatan. Kita juga mengundang saksi dari terlapor Me Hoa dan Rudianto Tjen,” imbuhnya.
Sayangnya, Mei Hoa justru terlambat mendatangi Sekretariat Bawaslu Babel untuk menghadiri siding. Dia yang datang sekira pukul 13.00 WIB beralasan, tidak dapat menghadiri persidangan pagi hari, dikarenakan ada agenda Pansus DPRD Bangka Tengah.
“Tadi ada Pansus. Sebagai warga negara yang baik, saya memenuhi panggilan Bawaslu,” tukasnya.
Seperti diketahui, tiga caleg PDIP yakni Rudianto Tjen, Me Hoa, Imam Wahyudi dan dua calon anggota DPD RI Dapil Babel, Alexander Fransiscus dan Bahar Buasan dilaporkan warga melanggar kampanye pemilu ke Bawaslu. Laporan itu terkait kampanye caleg atau parpol tapi ditunggangi oleh calon anggota DPD. Terhadap laporan itu Bawaslu menilai kampanye seperti ini melanggar administrasi pemilu. (ron/1)

Related posts