by

Matca Gagel

-Cerpen-354 views

*Karya: Rusmin

Di kampungnya, nama Matcagel begitu populer. Kendati tidak memangku jabatan struktural pada pemerintahan kampung, namun aktivitas sosial kemasyarakatan yang dilakoni pria berumur 40 tahun ini amat membantu masyarakat. Tak heran, masyarakat kampung selalu mengunakan jasa Matcagel. Mulai mengurus warga yang sakit hingga masalah penguburan mayat. Bahkan terkadang, jika ada hajatan, masyarakat kampung menggunakan jasa Matcagel untuk mengundang orang-orang.
Nama Matcagel makin berkibar dan menjadi perbincangan para pejabat di kecamatan, tatkala tahun lalu, ia menolak untuk dicalonkan sebagai Kepala Kampung. Kendati dukungan terus mengalir, baik secara lisan maupun lewat berbagai organisasi di kampung, bahkan lengkap dengan tandatangan para warga, pria berputri satu ini tetap menolak.
“Bukannya saya menolak keinginan yang tulus dari bapak, ibu, saudara, kawan-kawan serta sahabat. Namun secara jujur, saya akui, bahwa saya belum mampu mengemban amanah yang dibebankan kepada saya. Saya akan berdosa bila amanah yang kalian berikan kepada saya tidak mampu saya jalankan dengan baik dan benar. Selain itu, saya tidak mau dijuluki sebagai orang yang tidak nabat alias tidak tahu diri. Saya tahu kemampuan diri saya,” kata Matcagel satu tahun lalu, ketika warga kampung mendatanginya. Namun dalam seminggu ini, perasaan hati Matcagel sungguh gelisah. Ambisi di ubun-ubun yang telah mampu dikelolanya dengan baik setahun lalu, kini menggerogoti hati nurani dan sekujur tubuhnya. Terutama otak yang ada di kepalanya membangunkan ambisi.
Pertemuannya dengan para petinggi parpol tingkat provinsi seminggu lalu, telah mewarnai jalan pikirannya. Saat itu, Matcagel bersama beberapa warga kampung sedang asyik menikmati kopi bikinan istri Mang Bujang. Tiba-tiba, empat pria berpakaian safari turun dari mobil keluaran terbaru.
“Bapak yang bernama Matcagel?” tanya salah seorang diantaranya.
“Benar. Ada apa ya, Pak?” jawab Matcagel heran. “Kami berempat dari pengurus parpol tingkat provinsi. Kami berniat untuk menjadikan bung sebagai caleg tingkat kabupaten. Kami berharap Bung tidak menolak keinginan kami ini,” jelas pria itu.
“Caleg?” tanyanya. “Ya. Bung kami siapkan pada urutan nomor peci untuk daerah pemilihan kabupaten ini mewakili parpol kami. Jujur Bung. Banyak aktivis LSM, dan organisator yang berminat menjadi caleg di parpol kami. Tapi kami belum memberikan jawaban. Kami berharap Bung bersedia menerima pinangan kami. Kalupun Bung belum bisa memberikan jawaban, kami akan datang lagi ke kampung ini, seminggu lagi,” jelas orang itu.
Malam itu, bulan bersinar terang menyinari bumi. Matcagel sedang duduk berdua sang istri di teras depan rumah. Sedikitnya sudah tiga batang rokok kretek harga termurah telah dihisapnya. Keberaniannya untuk menyampaikan sesuatu kepada sang istri belum juga muncul. Ada sesuatu yang menghalangi kerongkongan dan mulutnya untuk berkata. Tiba-tiba suara Matcagel terdengar.
“Bu, saya ingin minta pendapat ibu,” kata Matcagel lirih.
“Soal ape, Yah?” tanya istrinya.
“Anu Bu. Tadi siang saya ketemu dengan pengurus parpol provinsi. Mareka meminta saya untuk jadi caleg,” ungkap Matcagel. “Ha…Ha…Ha… Ayah ini ade-ade bae. Jangan ngelantur ah,” timpal istrinya.
“Ngelantur macem mana. Ini suratnya. Ayah akan ditempatkan di daerah pemilihan kabupaten ini dengan posisi nomor urut peci,” jawab Matcagel sambil memperlihatkan sebuah surat berkop parpol kepada istrinya.
“Yah. Jadi orang itu harus nabat. Tahu diri. Tahu akan kemampuan diri,” ujar istrinya.
“Maksud Ibu?” tanya Matcagel.
“Jadi caleg itu harus memiliki kemampuan. Bukan cuma kemampuan dukungan bae. Udah ah, Ibu mau ke kamar. Ngantuk,” ujar sang istri meninggalkan Matcagel yang masih kebingungan. Pagi harinya, Matcagel sarapan berdua dengan anaknya yang baru duduk di bangku SMP. Sambil menikmati nasi goreng buatan sang istri, Matcagel berbicara dengan anaknya.
“Aak. Ayah kemaren siang ditawari pengurus Parpol Provinsi jadi Caleg untuk daerah pemilihan kabupaten ini. Macem mana pendapat Aak?” tanya Matcagel kepada anaknya.
“Yah. Jadi orang itu harus tahu diri. Tahu akan kemampuan Ayah. Ape Ayah pikir jadi Caleg itu mudah. Ayah harus punya kemampuan,” jawab sang putri Matcagel.
“Kemampuan apa?” tanyanya.
“Kemampuan itu kan bukan cuma sebatas dukungan aja. Banyak hal lainnya. Udah Yah oke. Aak mau ke sekolah. Ntar telat lagi,” jawab sang putri sambil meninggalkan Matcagel setelah sebelumnya mencium tangannya.
Siang harinya, usai pertemuan di Balai Kampung soal pembangunan SLTP terpadu di kampung ini, Matcagel masuk ke ruangan Kepala Kampung. “Hai Mat. Ape kabar. Sudah lama gak kesini. Apa kire-kire yang bisa dibantu?” sapa Kepala Kampung sambil mempersilahkan Matcagel duduk.
“Anu, Pak Kepala Kampung. Kemarin saya didatangi pengurus parpol tingkat provinsi. Mereka ingin menjadikan saya sebagai caleg untuk daerah pemilihan kabupaten kita ini,” jawab Matcagel.
“Mat. Menjadi Caleg itu bukanlah pekerjaan gampang. Harus punya kemampuan,” kata kepala kampung.
“Maksud Pak Kepala Kampung?” tanya Matcagel.
“Setahun yang lalu, ketika kamu menolak untuk menjadi Kepala Kampung ini, namamu menjadi buah bibir masyarakat. Mereka makin tahu siapa kamu yang sebenarnya. Kamu tidak berambisi untuk meraih jabatan. Kamu nabat dan tahu diri. Bisa mengukur kemampuan diri pribadi. Namun kamu tetap berjuang untuk rakyat. Membantu mereka. Ini luar biasa. Kenapa kondisi yang sudah teramat baik ini, tidak kamu pertahankan?” tanyanya lagi.
“Saya tidak mengerti maksud Pak Kepala Kampung,” ucap Matcagel.
Belum sempat menjawab pertanyaan Matcagel, tiba-tiba terdengar nada dering di handphone Pak Kepala Kampung. Beberapa kali kalimat siap pak, meluncur dari mulut Pak Kepala Kampung. “Maaf ya Mat. Saya ada pertemuan di balai kecamatan. Ada kunjungan Pak Gubernur,” kata Pak Kepala Kampung kepada Matcagel.
Usai sholat Magrib berjamaah di masjid, Matcagel tidak pulang ke rumahnya. Matcagel ingin berbincang dengan Pak Ustadz. Di teras depan masjid, Matcagel berbincang dengan Pak Ustadz.
“Pak Ustad. Aku ditawari parpol provinsi jadi caleg. Ape pendapat Pak Ustadz?” tanya Matcagel.
“Alhamdulillah, Mat. Itu tandanya engkau masih diperhatikan orang. Aktivitasmu jadi sorotan orang. Cuma untuk jadi caleg, kita harus punya kemampuan,” jawab Pak Ustadz.
“Maksud Pak Ustad?” Matcagel menyecar.
“Mat. Jadi Anggota DPR itu harus punya kemampuan. Profesional. Bukan cuma kemampuan dukungan massa ataupun dana yang besar. Tapi apakah kamu mampu menjalankan amanah dari para pemilihmu dengan baik? Apakah kamu mampu menyuarakan aspirasi para pemilihmu dengan benar?” tukas Pak Ustadz.
Tiba-tiba suara adzan Isya berkumandang. Pak Ustadz mengajak Matcagel untuk sholat berjamaah. Usai sholat Isya di masjid, Matcagel dengan kendaraan roda duanya yang masih kredit 13 bulan meluncur menuju rumah mertuanya yang berjarak sekitar 13 Km dari rumahnya. Hanya dalam tempo singkat, Matcagel sudah tiba di rumah mertuanya.
“Ape kabar, Pak,” sapa Matcagel kepada mertua lelakinya saat memasuki rumah mertuanya.
“Baik, Mat. Ape kabar Aak? Kapan khataman qurannya?” tanya sang mertua.
“Insya Allah, bulan depan. Anu Pak. Aku ditawari pengurus parpol provinsi jadi caleg? Bagaimana pendapat bapak?” tanyanya.
“Mat, Mat. Hidup ini harus nabat. Harus mengukur diri. Harus tahu kemampuan diri. Jangan terhanyut dengan ambisi semata yang hanya akan membawa kehancuran.
“Maksud bapak?” tanyanya.
“Kamu kan tahu. Jadi anggota DPRD itu tidak gampang. Harus profesional. Harus mampu menyuarakan aspirasi rakyat. Mampu berjuang untuk kepentingan rakyat. Bukan untuk gagah-gagahan bae. Nanti gara-gara kamu tidak memiliki kemampuan yang memadai, kamu cuma berlakon 5D,” jelas mertuanya.
“5D?” tanya Matcagel.
“Ya. Datang, Duduk, Diem, Denger, Duit. Nanti kamu dibilang rakyat seperti itu kamu marah. Tersinggung. Benci. Ujung-ujungnya berantem. Padahal kamu sendirilah yang menyebabkan rakyat menjuluki kamu seperti itu. Penyebabnya karena ketidakmampuan kamu sebagai pembawa aspirasi rakyat dengan baik dan benar,” jawab mertuanya.
Jam menunjukan pukul 4.30 WIB. Kokok ayam terdengar dan saling bersahutan. Suara adzan Subuh pun telah berkumandang dengan indah dari masjid. Di kamar Matcagel, suara igauan terdengar fals.
“Ampun, Pak. Ampun Pak. Saya tidak siap, Pak. Saya belum siap Pak,” igau Matcagel.
“Bangun, yah, bangun. Hari sudah Subuh,” suara istrinya membangunkan Matcagel.
“Saya bermimpi bu,” ujar Matcagel.
“Udah sana. Ambil wudhu. Sholat. Berdoa kepada Allah agar dibukakan jalan yang terbaik,” saran sang istri.
Usai sholat Subuh, wajah Matcagel berseri. Kegembiraan di wajahnya memancarkan kebahagian. Matcagel sudah tahu jawaban yang akan disampaikannya kepada pengurus parpol provinsi hari ini, sesuai dengan janji mereka yang akan datang ke sini. Ingin rasanya Matcagel segera bertemu dengan para petinggi parpol tingkat provinsi itu untuk secepatnya mengabarkan jawaban dari mulutnya tentang pencalonan dirinya sebagai caleg. Ya, segera.. (**)

Comment

BERITA TERBARU