Masyarakat Diimbau tidak Siarkan Pornografi, Kekejaman & Kejorokan

  • Whatsapp

Kapolres Bingung Video CCTV Kejadian Naas Beredar

TANJUNGPANDAN – Kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi di Belitung menjadi perhatian, khusus Polres Belitung. Kapolres Belitung AKBP Yudhis Wibisana mengatakan, kejadian kecelakaan khususnya di wilayah Kabupaten Belitung kerap kali terjadi, bahkan menyebabkan korban meninggal dunia.

Kecelakan Lalu Lintas yang terjadi di jalan Lettu Madaud Kelurahan Parit Kecamatan Tanjungpandan beberapa waktu lalu mengusik perhatian. Ini lantaran beredarnya video rekaman kecelakaan dari CCTV dikalangan masyarakat yang menggambarkan kejadian naas yang menimpa anak usia 5 tahun itu.

“Saya juga bingung kok itu (Video CCTV kejadian naas) bisa beredar, karena dari penyidik sudah saya tekankan jangan sampai beredar. Ini milik masyarakat, jadi awal mulanya diambil video ini insiatif dari keluarga korban bukan penyidik, karena satu hari kemudian baru dilaporkan ke penyidik lakalantas sehingga ada waktu satu hari,” jelasnya, Senin (17/12/2018).

Oleh sebab itu, kepada masyarakat diimbau agar tidak menyiarkan sesuatu yang melambangkan pornografi, kekejaman, kejorokan dan lainnya. Sebab, tindakan itu sudah diatur dalam Undang-Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Tidak boleh disebar luaskan, itukan merupakan barang bukti juga, ada undang-undangnya itu, bisa dikenakan hukuman penjara sesuai dengan undang-undang ITE,” kata Kapolres.

Dirinya yakin tidak semua masyarakat mengenal korban maupun tersangka, tetapi karena terekam dalam video dan korbannya merupakan anak usia lima tahun, kejadian itu menjadi histeris.

Sementara itu, lanjutnya, untuk proses penyidikan masih terus dilakukan dan tersangka masih ditahan di Mapolres Belitung. Lalu, penyidik juga sudah berangkat ke Laboratorium Forensik Jakarta karena terkait barang bukti CCTV, pihaknya harus Labfor digital untuk mengambil DVR sebagai barang bukti.

Selain itu, pihaknya meminta keterangan kepada ahli digital yang menyatakan bahwa video tersebut asli bukan rekayasa.

“Itu harus ada keterangan ahli digital, dan kami juga sudah ke Labfor digital Jakarta. Selain kami lihat dari hasil visum korban, barang bukti kendaraan, keterangan saksi sampai dengan tersangka itu sendiri,” ungkapnya.

Yudhis menyatakan, pihaknya tidak akan melakukan proses rekontruksi kejadian. Dirinya menilai rekontruksi hanya membuka kembali luka keluarga korban dan menambah rasa bersalah bagi tersangka.

“Kejadian ini kan sudah ada rekaman CCTV, jadi tidak perlu rekon, karena kasihan keluarga korban. Kalau pasal yang dikenakan masih sama, kalau nanti ke depan ada bukti petunjuk baru kami bisa tambahkan,” pungkasnya. (dod/3).

Related posts