Masyarakat Diharap Lebih Mampu Implementasikan 4 Pilar Kebangsaan

  • Whatsapp
Anggota DPD RI Dapil Babel, Hudarni Rani foto bersama narasumber dana Perwakilan Mahasiswa usai Sosialisasi Pancasila, Undang Undang Dasar (UUD) 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika di Hotel Jati Wisata Pangkalpinang. (foto: dedy)

Awali Tugas, Hudarni Kembali Sosialisasi 4 Pilar

PANGKALPINANG – Drs HA. Hudarni Rani SH, yang kembali dipercaya mewakili masyarakat Bangka Belitung sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Mengawali tugasnya sebagai anggota MPR, kali ini Hudarni kembali melaksanakan Sosialisasi Pancasila, Undang Undang Dasar (UUD) 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika bertempat di Hotel Jati Wisata Pangkalpinang akhir November 2019 lalu.

Baca Juga

Sosialisasi ini, dihadiri 176 peserta yang terdiri dari para mahasiswa, tokoh pemuda, tokoh masyarakat dan Pelajar Kota Pangkalpinang. Demikian rilis yang diterima harian ini. Narasumber pertama adalah Anggota DPD RI, Drs HA Hudarni Rani, SH menjelaskan bahwa Sosialisasi 4 Pilar ini, merupakan agenda pemantapan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sosialisasi ini, diharapkan menjadi panduan yang efektif dan nyata apabila semua pihak segenap elemen bangsa serta penerus generasi bangsa para siswa-siswi, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lainnya secara konsisten mengamalkan serta mengimplentasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, ditambahkan Hudarni, masyarakat diharapkan dapat lebih mampu mengimplementasikan 4 pilar kebangsaan dalam kehidupan, menjaga kerukunan beragama dalam bertetangga dan bermasyarakat adalah salah satu bentuk pengamalan nilai-nilai kebangsaan.

“Pemahaman 4 pilar kebangsaan jangan tanggung-tanggung, kita harus tahu dan menyadari bahwa 4 konsensus nasional tersebut, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Insya Allah Bangka Belitung sejak dulu telah menerapkan pengamalan nilai – nilai kebangsaan. Namun, kita tetap harus waspada agar keadaan tetap aman dan masyarakat tetap sejahtera dan bisa bekerja mencari nafkah dengan aman,” ujarnya.

Menurut Hudarni, kehidupan bangsa dan negara bergantung pada empat hal ini, yang menjadi modal kuat bagi semua lapisan masyarakat. “Budaya Pancasila harus diterapkan, agar bangsa kita menjadi bangsa yang kuat dalam era globalisasi saat ini. UUD 1945 sebagai pedoman, acuan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. NKRI warisan nenek moyang ini, harus kita jaga dengan baik, Bhineka Tunggal Ika tetap kita pegang teguh untuk mempersatukan bangsa, menjadi pengingat bagi kita semua agar terus hidup rukun, saling menghargai satu sama lain,” tegas Hudarni.

Sementara itu, dalam paparannya Syafrihariansah, SH, MH, Dosen Universitas Bangka Belitung dan Direktur Pusat Studio Ketatanegaraan Universitas Bangka Belitung mengungkapkan, negara harus secara aktif mengupayakan kesejahteraan, bertindak adil yang dapat dirasakan seluruh masyarakat secara merata dan seimbang, bukan untuk segolongan masyarakat tertentu namun untuk seluruh masyarakat.

“Kesejahteraan bagaimana yang diinginkan? Kita menginginkan bahwa semua kebutuhan material dan non material dari seluruh masyarakat dapat terpenuhi, masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam mencari sesuatu yang mereka perlukan, pelayanan sosial lancar, dengan mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan, perumahan dan pelayanan sosial lainnya, bagi mereka yang berkekurangan mendapatkan haknya melalui bantuan kesejahteraan,” urainya.

Dr. Ibrahim, S. Fil, MSi Dosen Universitas Bangka Belitung pada kesempatan sama mengungkapkan bahwa 4 Pilar Kebangsaan, lebih tepatnya adalah 4 konsensus, Pancasila, UUD45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, Pancasila adalah Pondasi besar yang diatasnya berdiri 3 Pilar.

“Kita meyakini Pancasila, kita meyakini bahwa di atas Pancasila ada turunannya yaitu UUD 45 kemudian turun lagi dalam bentuk UU sampai yang paling rendah adalah Peraturan Daerah. Kemudian ada NKRI Rumah besar kita bersama, rumah untuk semua orang bukan satu kelompok orang atau untuk suatu golongan tertentu atau kepentingan tertentu. Oleh sebab itu, Indonesia Raya harus dipahami sebagai Indonesia yang besar dengan banyak kepentingan dan banyak warna, ini yang perlu kita pahami bahwa kita perlu reorientasi konsep Indonesia Raya perlu kita dorong kembali,” paparnya.

Ibrahim mengajak masyarakat Babel menanamkan nilai – nilai Pancasila dalam diri, Ketuhanan sebagai dasar, Kemanusiaan sebagai pancaran, Persatuan sebagai wadah, Demokrasi sebagai Sarana dan Keadilan sebagai Tujuan.

“Pancasila bukan hanya falsafah bangsa, tetapi juga bintang yang mengayomi kehidupan seluruh rakyat. Dan Bhineka Tunggal Ika adalah perekat semua rakyat dan semua kepulauan yang ada di Indonesia. Bhineka Tunggal Ika adalah motto atau semboyan Indonesia,” pungkasnya. (raw/3)

Related posts