Maskapai ‘Enggan’ Turunkan Harga Tiket

  • Whatsapp
Dedy

Alasan Agar Tetap Survive
Garuda Klaim Biaya Operasional Tinggi

Pangkalpinang – Sejumlah maskapai penerbangan yang melintasi langit Bangka Belitung, merasa enggan menurunkan harga tiket pesawat yang sejak akhir tahun 2018 mencapai tingkat batas atas.

Kenaikan harga dilakukan maskapai penerbangan secara nasional, diklaim terpaksa sebagai upaya untuk tetap bertahan hidup mengingat tingginya biaya pengeluaran operasional termasuk perawatan “burung besi”.

Demikian dikatakan Branch Manager Garuda Cabang Pangkalpinang, Puji ketika menyebutkan alasan kenaikan harga tiket, di ruang pertemuan Tanjung Pesona, Kantor Gubernur Babel, Selasa (22/1/2019).

Menurut Puji, bahwa dalam kondisi dilematis, dimana kondisi operasional yang membengkak sudah berlangsung lama akibat penerapan biaya stabil beberapa tahun terakhir, yang dikarenakan persaingan pada sektor penerbangan.

“Apa terjadi selama ini akibat bisnis multi airline yang terjadi bertahun-tahun, ketika harga naik masyarakat merasakan tak diakomodir, sebetulnya ini masalah dilematis yang mau tak mau kami dihadapi, airline menjadi sasaran tembak semua pihak, apa yang kami lakukan sekarang semata untuk menjaga airline survive bukan untuk profit (untung),” jelasnya.

Puji mengatakan, apabila pihaknya masih memberlakukan tarif dengan harga yang stabil, ditengah biaya operasional yang besar tidak akan mampu membuat perusahaan penerbangan bertahan, apalagi saat ini dolar dibandingkan dengan rupiah jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun lalu.

“Airline jumlahnya tidak meningkat, pemainnya itu-itu saja, dalam 10 tahun terakhir banyak airline pensiun dini karena enggak sanggup bersaing, karena cost membengkak dan persaingan harga luar biasa di sektor domestik,” ulasnya.

Ia membandingkan, dari data tahun 2014 harga tiket cenderung lebih tinggi dibanding awal 2018, harga tiket pesawat Lion sebutnya, pernah menyentuh Rp280.000 (2018) sedangkan dulu di 2014 berkisar 400.000, dan memang pada saat harga turun traffic meningkatkan.

Dari 2014 hingga 2018, rupiah terhadap dolar tak menentu, saat 2014 nilai tukar rupiah terhadap Dolar Rp12.300, sementara di 2018 Rp15.000 hingga turun ke Rp 14.400, dengan harga tiket yang masih stabil di 2018, jika diteruskan hal ini jelas mempengaruhi operasional.

“Harga stabil yang lalu, dilakukan karena persaingan airline mendapatkan customernya, sehingga banting harga, satu sisi menguntungkan masyarakat, tapi karena terjadi menahun sampai ke titik dimana airline mawas diri untuk survive,” bebernya.

“Kami tidak mencari profit, tapi kami minus. Garuda harus melakukan sesuatu pada saatnya, diantaranya adalah efisiensi dan biaya penerbangan, yang sebetulnya tidak melampaui batas atas yang sudah ditetapkan Kemenhub, karena Kemenhub juga tidak menaikkan batas atas,” tutur Puji.

Garuda Cabang Pangkalpinang, tambahnya, sudah melakukan beberapa efisiensi untuk menutupi biaya operasional, diantaranya dengan mengurangi jumlah staf dari yang tadinya tahun 2016 terdapat 50 staf, sekarang tinggal 20an staf, kendaraan dari 5 menjadi 2 unit kendaraan, mengurangi slot penerbangan, mengurangi kelas ekonomi, hingga menerapkan harga yang lebih dibandingkan harga beberapa waktu lalu.

“Memang ini pahit untuk diterima, tapi ini realisasi dan memang airline kami memahami melihat dan merasakan apa yang dirasakan costumer, komentar miring juga sering dan kami harus gentle menerima itu,” ulasnya.

Indonesia National Air Carriers Association (INACA) yang merupakan sebuah Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia, lanjutnya, sepakat untuk menurunkan harga tarif 20-60 persen dan hal ini menurut Puji sudah dilakukan oleh Garuda. Dimana penurunan tarif sudah diterapkan hingga 40 persen.

“Di Pangkalpinang 20-40 persen sudah dilakukan penurunan harga dan ini bertahap melihat supply dan demand, melihat kondisi ekonomi, kita juga selalu open terhadap setiap kemungkinan yang ada, apakah bisa turun kami terus komunikasi ke pusat,” tandasnya.

Diakui Puji, pada kuartal Januari – Maret memang tingkat permintaan penerbangan dibandingkan Juni – Juli atau bulan lainnya jauh lebih sedikit, sehingga pihak Garuda pun mengambil kebijakan untuk mengurangi slot penerbangan.

“Bisnis ini harus dirubah, kenapa kami kurangi flight untuk mereduksi cost, periode Januari – Maret enggak sama dengan Juni-Juli, seasionality, dulu terbang banyak dan harga turun. Kami melakukan supaya bertahan, dan memaham ini menjadi polemik semua daerah merasakannya,” sebutnya.

Puji melihat, penurunan ini sudah terlihat bahkan beberapa airline juga sudah turun ke angka Rp900.000, sementara Garuda dari harga yang tadinya Rp1,3 juta sudah menjadi Rp1 jutaan.

“Kami akan komitmen mencoba kembali mendiskusikan ke pusat mengenai harga Jakarta- Pangkalpinang ke Belitung, akan kami sampaikan hasil pertemuan ini dan tidak ingin melihat traffic turun,” janjinya.

Ia juga berharap, pemerintah dapat membantu maskapai, mendapatkan perlindungan dari pemerintah, dan membantu menjelaskan kepada masyarakat penyebab kenaikan tarif ini.
Terkait sektor pariwisata, Puji menegaskan, pihaknya juga memahami bahwa kenaikan harga tiket ini berdampak terhadap pariwisata di Babel, namun pihaknya bersedia berdiskusi apabila memang dibutuhkan harga khusus untuk pariwisata.

“Kami tidak menutup kemungkinan diskusi spesial price untuk pariwisata, tapi kami komitmen penurunan bertahap. Kami enggak diam, kami malah sejak perihal subclass promo dibatasi, karena harga enggak bisa naik karna ada batas atas bawah, kami memahami Kemenhub enggak bisa naikkan harga tarif,” jelasnya.

Saat disinggung harga tiket dari Jakarta ke Pangkalpinang jauh lebih mahal dibandingkan Jakarta ke Singapura atau Surabaya, Puji menjelaskan bahwa operasional pesawat bukan hanya dilihat dari jauh dekatnya rute penerbangan, tetapi juga melihat permintaan penumpang dan bahan bakar pesawat.

“Garuda berinisiatif menaikkan harga dengan menutup kelas promo lebih sedikit dari biasanya semata untuk bisa menutupi biaya operasional yang makin besar, apresi rupiah dari 2014 kami cek kurs dolar Rp12.200, sekarang Rp 14.400, harga jual sampai terakhir 2018 cenderung stabil,memang dari arahan manajemen sudah penyesuaian,” bebernya.

Peranan bahan bakar, kata dia, 40- 45 persen mempengaruhi harga tiket pesawat, sehingga apabila harga avtur yang selalu naik turun dan mengikuti kurs rupiah, akan mempengaruhi harga jual tiket.

“Operasional pesawat masing-masing airline berbeda, karena komponen harga tiket, dalam harga dolar untuk bahan bakar tentu meningkat, 40-45 bahan bakar mempengaruhi harga tiket, dan kedua juga tergantung suplai dan demand, yang menyebabkan harga tinggi,” ulasnya.

Ia melihat, misalnya Jakarta – Surabaya, bisa lebih murah dikarenakan jumlah permintaan penumpang lebih banyak dan penerbangan yang melayani lebih banyak.

“Saat harga sekarang tingkat keterisian membaik, dan alokasi promo dibatasi, bisa juga maskapai tergantung suplai dan demand,” tukasnya.

Senada diungkapkan Airport Manager Lion Air Cabang Pangkalpinang, Dedy. Pihaknya meskipun menaikkan tarif namun tetap menjadi maskapai yang menerapkan Low Cost Carrier (LCC) atau berbiaya rendah.

“Lion Air masih harga yang paling murah dan masih diterapkan LCC, kalau untuk masalah harga subclass promo yang turun karena tidak dibuka banyak, mengingat demi efisensi kami kurangi untuk seat promosi,” jelasnya.

Lion Air juga sudah mengurangi slot penerbangan dari Jakarta ke Pangkalpinang atau sebaliknya, yang awalnya 6 kali dikurangi 2-3 kali penerbangan.

Demikian juga ke Belitung yang tadinya dua kali dari Pangkalpinang menjadi satu kali.”Efisiensi biaya operasional dan diinternal cukup tinggi, salah satunya dengan penghapusan kebijakan bagasi, kita sudah berbayar,” sebutnya.

Alternatif lain, kata dia, akan masuk perusahaan Lion Air Grup yakni Batik Air ke Babel, yang masih menerapkan bebas bagasi.

“Satu sisi kami mencari cara sebagai mana agar bisa survive, kami juga berbagai cara masih menerapkan LCC dengan memberlakukan pembayaran bagasi, ini cara manajemen untuk bisa survive,” jelasnya.(nov/6)

 

Related posts