Masa Transisi Meningkatkan Kewaspadaan

  • Whatsapp
Handi Jovian
Mahasiswa FE UBB

Hampir memasuki bulan ke tujuh, dunia saat ini, masih diselimuti perasaan takut oleh virus Covid-19 yang bermula di Tiongkok Daratan. Pandemi Covid-19 pun telah ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) sebagai ancaman bagi dunia yang dapat mengakibatkan tingkat kematian sangat besar secara global. Dilansir dari laman media online nasional, saat ini sebanyak 455.200 korban meninggal dunia, karena serangan berbahaya virus Covid-19 hingga tanggal 19 Juni 2020, dan angka ini pun terus bertambah, karena belum ditemukan vaksin dan obat yang dapat menyembuhkan korban terinfeksi serta membuat tubuh kebal virus. Saat ini, banyak sekali langkah terukur yang telah dilakukan oleh banyak negara seperti physical distancing, social distancing hingga lockdown, namun penyebaran Covid-19 belum berakhir dan berlanjut ke gelombang dua ataupun gelombang selanjutnya.

Indonesia hingga saat ini, belum mampu melawan pandemi virus Covid-19. Data salahmsatu media online nasional per 18 Juni 2020, menunjukkan telah terinfeksi lebih kurang 42.762 orang dan jumlah yang terinfeksi lebih banyak dari yang sembuh. Apa yang harus dilakukan? Beberapa langkah tegas telah dilakukan oleh pemerintah mulai dari arahan physical distancing, social distancing, work from home, hingga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Langkah tersebut, memang cukup membantu dalam upaya menekan angka penyebaran virus Covid-19, namun masih saja belum cukup untuk memutuskan secara total rantai penyebaran Covid-19. Penyebaran Covid-19 di Indonesia telah menyebar ke keseluruh provinsi di Indonesia yang menyebabkan banyak aktivitas sosial menjadi lumpuh, dan mengganggu kestabilan ekonomi, sosial-politik, hingga pertahanan keamanan.

Pemerintah memutuskan untuk melakukan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar dan mempersiapkan diri untuk mengimplementasikan skenario New Normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional serta indikator kesehatan yang diberikan oleh WHO. Keputusan New Normal ini, diambil untuk mempercepat penanganan virus Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial ekonomi. Permasalahan yang kita hadapi saat ini, bukan sekadar virus Covid-19 yang menyerang tubuh manusia, namun efek lainnya yang bisa saja lebih berbahaya, karena dapat melumpuhkan ekonomi suatu negara apabila tidak ada kegiatan ekonomi yang berjalan baik. Jadi, bisa saja ada kemungkinan keputusan New Normal ini, diambil untuk menyelamatkan ekonomi yang sedang terpuruk dan terkoreksi dalam dengan memperhatikan kurva kematian akibat Covid-19 yang cenderung melandai, karena cara penanganan tenaga medis yang lebih baik dibanding pada saat pertama kali virus ini, masuk ke Indonesia. Kita ingin pandemi Covid-19 segera berlalu, namun segala aktivitas ekonomi pun tidak boleh lumpuh, maka dari itu keputusan New Normal pun dapat menjadi salah satu langkah efektif yang diambil oleh pemerintah asalkan dengan pengawasan yang ketat, dengan terus memperhatikan protokol kesehatan dalam menghadapi Covid-19.

Lantas, apakah dengan adanya penerapan New Normal ini, membuat masyarakat dapat kembali hidup normal seperti waktu sebelum adanya serangan Covid-19 ini? Jawaban dari pertanyaan ini, dapat menjadi pisau bermata dua. New Normal bukanlah akhir dari perlawanan kita terhadap Covid-19 ini, melainkan sebuah cara yang efektif untuk menyelamatkan aspek lainnya yang terganggu selama adanya pandemi ini. Pentingnya kebijaksanaan dari individu masyarakat untuk menyadari hal ini, dengan penerapan New Normal ini bukan berarti kita telah terbebas dari belenggu Covid-19, namun kita harus semakin siaga untuk menghadapi kemungkinan buruk lainnya yang dapat terjadi. New Normal pun mengharuskan kita untuk tetap waspada dengan mentaati protokol kesehatan yang telah disiapkan pemerintah dalam menghadapi tatanan baru ini.

Baca Lainnya

Dibukanya pusat perbelanjaan apakah kita bebas untuk berbelanja tanpa khawatir terinfeksi virus? Saatnya masyarakat Indonesia berpikir bijaksana terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi. Adanya pelonggaran ini, tentunya kita harus cerdas memahami situasi, masih ada aturan dalam tindakan pencegahan dan mitigasi untuk diterapkan, seperti tetap gunakan masker, rajin mencuci tangan, perhatikan etika batuk, menjaga physical distancing, bahkan bila tidak dalam keadaan mendesak jangan terlalu sering mengikuti kegiatan dalam keramaian (social distancing), segera pulang ke rumah apabila selesai bekerja, biasakan untuk langsung mandi, dan lain-lain. Protokol kesehatan harus tetap kita jaga sampai ditemukannya vaksin ataupun obat terhadap Covid-19, sehingga tercapainya Herd Immunity atau kekebalan kelompok masyarakat terhadap infeksi tertentu yang membuat tubuh menghasilkan sistem imun yang berhasil melawannya. Apakah kondisi ini bisa segera tercapai? Apabila vaksin dan obat sukses ditemukan, maka bisa saja terjadi dan dunia bisa kembali menjadi seperti dulu dengan catatan masyarakat dunia bisa kompak untuk mematuhi segala aturan dan anjuran kesehatan yang ada.

Terkadang masyarakat bingung dengan banyaknya anjuran yang harus ditaati untuk menyambut hari-hari yang baru, pemerintah pun harus siap melaksanakan program dengan terstuktur. Untuk penerapan New Normal, sangat penting sosialisasi masif ke masyarakat mengenai protokol kesehatan yang wajib diikuti serta masih banyak tahapan yang harus dikontrol dengan baik, seperti kesiapan tenaga medis, sarana prasarana pendukung, penentuan waktu, prioritas sektor yang harus dijalankan lebih dahulu, hingga koordinasi yang kuat dengan pihak-pihak pendukung, baik itu ditingkatan pemerintah provinsi hingga tingkat RT sekalipun. Hal ini penting untuk dilaksanakan agar rencana terkait pemulihan negara tidak berakhir sia-sia, jangan sampai alokasi dana 695,2 Triliun dari pemerintah untuk pemulihan negara berakhir tanpa kemajuan signifikan serta mengorbankan nyawa masyarakat yang berakhir sia-sia, karena terdampak Covid-19 ini.

Proses penerapan New Normal bisa penulis katakan sebagai sebuah masa transisi yang harus membuat masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan jangan sampai lengah. Ini merupakan masa yang penting untuk dapat menentukan bagaimana nasib kita kedepannya. Apabila New Normal tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya, maka akan membawa kekhawatiran yang lebih buruk lagi kedepannya. Maka dari itu, penulis mengharapkan kekompakkan setiap elemen masyarakat untuk bersatu menghadapi setiap permasalahan yang terjadi. Kita harus semakin bijaksana dalam melawan pandemi ini, selalu menerapkan protokol kesehatan dimanapun berada dan tetap mematuhi aturan-aturan dari pemerintah.

Dilema terjadi di sepanjang tahun 2020, karena virus yang tidak pernah terprediksi tersebut menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan. Upaya bersosialisasi menjadi sebuah ketakutan. Terkadang kunjungan kita ke rumah teman bisa menjadi ancaman bagi satu sama lain. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa New Normal bukan berarti kita telah bebas melakukan apa saja tanpa takut terinfeksi Covid-19, melainkan sebagai tatanan hidup baru yang peduli terhadap kesehatan dan taat terhadap anjuran pihak yang memiliki wewenang mengaturnya. Kita tidak boleh merasa puas dengan kemajuan saat ini, karena bisa saja kita kembali diserang, tidak ada kata damai bagi Covid-19 sampai obat penyembuhnya ditemukan. Kita harus mawas diri dan sepakat bahwa New Normal bukan akhir dari peperangan ini. Bila sebelah kiri adalah jurang yang penuh ular berbisa dan sebelah kanan ada kawah api, maka kita harus bisa berjalan lurus dengan berhati-hati agar tidak terjebak pada dua masalah yang sama-sama mengakibatkan kehancuran. Jangan terlalu cepat gembira, ancaman bisa saja sedang mengambil ancang-ancang. Pandailah dalam beradaptasi.(***).

Related posts