Mari Shalat Berjamaah di Masjid

No comment 739 views

Oleh: Mahbub Zarkasyi
Pengamat Politik Islam

Dorongan baginda Nabi besar Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam agar umatnya selalu shalat berjamaah di masjid telah disampaikan sebagaimana sabdanya, “…Tiadalah seseorang berwudhu dengan sempurna, lalu pergi ke salah satu masjid (untuk shalat berjamaah), melainkan bagi setiap ayunan langkahnya Allah SWT. mencatat satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu keburukan…Sungguh tidak ada seorang pun yang menunda-nunda shalat (dengan shalat di rumah) kecuali orang yang benar-benar munafik…” (HR Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibn Majah).

Mahbub Zarkasyi

Saat ini bulan Rajab, bulan dimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjemput perintah Shalat fardhu lima waktu. Iya, bulan Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang biasa kita sebut dengan Isra’ hanya dalam waktu satu malam. Jarak sejauh 1.758,9 Km tersebut yang ketika masa itu memerlukan waktu hingga 3 hari perjalanan. Satu malam tersebut ternyata dilanjutkan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala memperjalankan Nabi Muhammad SAW menemui-Nya langsung di Arsy dimana melewati setiap tingkatan pintu langit dan juga dipertemukan kepada para Nabi sebelumnya. Malam yang penuh dengan mu’jizat tersebut Rasulullah SAW hingga sembilan kali bolak balik ke tingkat di bawahnya dan kembali ke Arsy untuk meminta keringanan shalat 50 waktu yang saat ini tinggal 5 waktu saja. Dalam perjalanan Isra’ wal-Mi’raj tersebut ternyata Rasulullah SAW juga sempat mengimami seluruh Nabi dan Rasul di masjidil Aqsa. Dan semua perjalanan tersebut hanya dilakukan satu malam saja.
Sungguh tak pantas kita melalaikan Shalat yang telah difardhukan kepada kita. Selain hadist pembuka di atas, masih banyak lagi hadist lain yang disampaikan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tentang keutamaan shalat berjamaah, di antaranya sebagaimana dituturkan oleh Abdullah bin Umar ra., “Shalat berjamaah itu lebih baik dua puluh tujuh kali dibandingkan dengan shalat sendirian.” (HR al-Bukhari, Muslim at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).
Perniagaan dunia begitu serius kita mengejar kelebihan yang tak jarang kelebihannya tak seberapa. Namun, banyak di antara kita tak tertarik dengan keutamaan yang berlimpah yang Allah janjikan untuk kehidupan hakiki. Kita lihat, masjid, mushalla dan tempat shalat berjamaah lainnya sepi, kecuali Shalat Jum’at dan Shalat Id. Kaum muslim memang jarang membayangkan fadlilah shalat yang Allah lipat gandakan hingga 27 derajat bila dilakukan berjamaah. Shalat yang bila kita menuju ke masjid dalam keadaan berwudlu, mengangkat satu derajat kita, mencatat satu kebaikan untuk kita dan menghapus satu keburukan kita untuk setiap langkahnya. Bila kita bayangkan pahala, kebaikan, derajat dan hilangnya keburukan yang kita dapatkan dalam bentuk materi, tentu pasti bergegas kita menunaikan sebagaimana keutamaan yang telah Allah janjikan. Hanya saja kebaikan yang Allah janjikan dan keburukan yang pasti Allah hilangkan itu hanya akan Allah buktikan diakhirat nanti. Namun tak seharusnya kita melalaikan keutamaan-keutamaan tersebut.
Dalam kehidupan sekuler saat ini, saat tatanan kehidupan hilang kecenderungan kepada Islam, maka keutamaan hadist yang satu ini sulit untuk kita dapatkan. Kesibukan urusan dunia telah membius kaum muslim, sehingga banyak yang tak mampu mengambil fadlilah hadist yang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sabdakan berikut ini, “Seseorang yang senantiasa melaksanakan shalat berjamaah di masjid selama empat puluh hari tanpa tertinggal takbir yang pertama (bersama imam) akan mendapatkan dua jaminan: diselamatkan dari azab neraka dan dibebaskan dari sifat-sifat munafik.” (HR at-Tirmidzi).
Kemuliaan Islam untuk kaum muslim seolah telah sirna. Keberkahan yang Allah turunkan di negeri kaum muslim banyak yang berubah kekacauan dan perang saudara tanpa berkesudahan, harusnya mampu mengetuk pintu hati kaum muslim, khusushan para pengemban dakwah. Perjuangan kita yang belum memperoleh hasil yang nyata, nyatanya para pengemban dakwah saja masih banyak yang lalai terhadap keutamaan-keutamaan ini. Untuk kita mampu bangkit, mari kita musahabah diri, cerminkan ibadah kita, sudahkah sebagaimana Rasulullah dan para Shahabat tunaikan? Mungkin di antara kita sudah ada yang mampu mengamalkannya, namun jumlahnya terlalu sedikit. Mari kita sebagai pengemban dakwah copy paste kepribadian para shahabat ra. Merekalah sebaik-baik tauladan setelah Rasulullah SAW. Amanah ini tentunya tidak hanya diserukan kepada para pengemban dakwah, namun juga kepada seluruh kaum muslimin. Kita lihat, bagaimana kaum muslim di zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan masa kekhilafahan Islam? Seluruh kaum muslim berlomba-lomba memberikan amal terbaiknya. Mengejar setiap keutamaan ibadah termasuk keutamaan-keutamaan dalam shalat.
Semoga dengan beratnya mengamalkan ibadah ini di zaman mulkan jabariyatan ini, akan menyegerakan pertolongan Allah SWT diturunkan. Janji Allah yang akan memberikan rahmat kepada kaum muslim dan seluruh semesta alam segera bisa kita rasakan. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, para Sahabat dan juga generasi shalafush-shalih senantiasa sungguh-sungguh menjaga shalat berjamaah. Mereka juga menjaga ibadah-ibadah sunnah yang lain seperti membaca Al-Quran hingga khatam berkali-kali setiap bulannya, shaum sunnah termasuk Shaum sunnah Rajab, berinfaq di jalan Allah dengan harta terbaiknya dan ibadah-ibadah lainnya.
Mari ukur keimanan diri, keutamaan shalat yang mana yang telah kita tunaikan? Adakah kita termasuk yang selalu berjamaah? Adakah kita sudah termasuk dalam kaum yang selalu berjamaah di masjid dan istiqamah berturut-turut selama 40 hari ikut dalam takbir pertama imam? Atau jangan-jangan malah jarang shalat berjamaah?
Wajar baginda Nabi besar Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mendapat kedudukan sebagai kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau SAW yang selain sebagai Rasul Allah, beliau juga seorang kepala negara yang melingkupi Hijaz. Beliau juga berkeluarga dan memuliakan istri-istri beliau. Dalam kesibukannya, bahkan Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid. Bahkan ketika hampir wafat beliau berusaha keras untuk bisa berjamaah bersama kaum muslim. Namun dalam ikhtiarnya, Rasulullah SAW beberapa kali pingsan, bangun dan pingsan lagi saat gagal mengambil air wudhu. Saat wudhu beliau berhasil, dengan dipapah oleh Abbas ra. dan salah seorang Sahabat yang lain beliau segera memaksakan diri pergi ke masjid. Beliau sudah tidak kuat berdiri tegak untuk menjadi imam shalat kemudian beliau meminta Abu Bakar Asy-syiddiq ra. untuk menjadi imamnya sebagaimana diabadikan dalam hadist riwayat imam al-Bukhari dan Muslim.
Sebenarnya banyak juga kaum muslim yang berusaha meneladani beliau. Sebagaimana sebuah kisah yang menakjubkan, seorang ulama salih terkenal, Muhammad bin Samma’ah, salah seorang murid Imam Abu Yusuf, adalah di antara generasi salaf yang begitu menjaga shalat berjamaah. Bahkan dalam usia yang amat lanjut menjelang wafatnya (beliau wafat dalam usia 103 tahun), beliau masih sanggup menunaikan shalat sunnah puluhan rakaat setiap hari. Beliau pernah berkata, “Selama 40 tahun saya tidak pernah ketinggalan takbir yang pertama bersama imam dalam shalat berjamaah. Hanya sekali saya ketinggalan mengikuti takbir yang pertama, yaitu saat ibu saya wafat, karena saya sibuk mengurus jenazah beliau.” (Al-Kandahlawi, Fadhâ’il al-A’mâl, hlm. 47)
Banyak nash yang telah diuraikan di atas, semoga mampu memacu semangat kita dalam mengamalkan shalat berjamaah di masjid. Sehingga masjid-masjid pun setiap waktunya ramai dengan kaum muslim mengejar keutamaan yang telah dijanjikan. Dengan itu Nashrullah segera datang, kemenangan kaum muslim segera diraih dan syariah Islam segera terwujud diterapkan untuk seluruh kaum muslimin. Semoga Allah memberikan kedudukan sebagai Alghuraba kepada kita pejuang yang istiqamah mengembalikan kehidupan Islam di bumi milik Allah ini.
Wa mâ tawfîqî illâ billâh. [] MziS.(****).

No Response

Leave a reply "Mari Shalat Berjamaah di Masjid"