Mari Muhasabah Menjelang Fitri

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Han Syafarian

Bismillahirrohmaanirrohiim
Assalamualaykum. Wr. wb

Marilah kita banyak bersyukur kepada Allah SWT, karena kita telah berhasil memasuki bagian akhir bulan Ramadan yang penuh barokah ini. Dan tanpa terasa beberapa hari lagi kitapun akan menyambut hari indah, Idul Fitri. Namun, sebaiknya marilah kita memperbanyak permohonan ampun kepada-Nya, karena boleh jadi meski ini jelas tidak kita inginkan, ibadah puasa pada hari-hari Ramadhan yang kita lewati itu tidak mengantar kita untuk meraih derajat takwa sebagai tujuan dari perintah puasa itu sendiri. Untuk itu sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita, marilah kita bermuhasabah (Instrospeksi diri); layakkah kita bergembira merayakan Idul Fitri yang sering dimaknai sebagai hari kembali ke Fitrah dan juga hari kemengangan?
Secara bahasa kembali ke Fithrah berasal dari kata fa-tha-ra (mencipta), sedangkan mencipta bermakna mengadakan sesuatu dari awal. Fitrah juga berarti al-khilqah (naluri, pembawaan) dan ath-thabi’ah (tabiat, karakter, jati diri) yang diciptakan Allah swt pada manusia. Dengan demikian, kembali ke fitrah maknanya adalah kembali ke jatidiri / tabiat penciptaan yang asli. Dalam hal ini Allah SWT berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Q.S.Arrum ; 30)”
Ibn al-Atsir menyatakan, fitrah itu tidak lain adalah karakteristik ciptaan manusia dan potensi kemanusiaan yang siap untuk menerima agama / kebenaran. Oleh karena itu, az-Zamakhsyari mengatakan, fitrah itu menjadikan manusia siap sedia setiap saat menerima kebenaran dengan penuh sukarela, tanpa paksaan, alami, wajar dan tanpa beban. Seandainya setan jin dan setan manusia ditiadakan, niscaya manusia hanya akan memilih kebenaran itu. Sebagian mufassir lainnya seperti Mujahid, qatadah, Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan Ibnu Syihab memaknai fitrah dengan Islam dan Tauhid.
Puasa Ramadhan dan serangkaian aktivitas ibadah didalamnya sebenarnya telah mengkondisikan dan melatih kita untuk menyadari dan memahami fitrah itu. Puasa dan Ibadah Ramadhan sejatinya menjadikan seorang muslim lebih merasakan dan memahami dirinya sebagai mahluk yang diliputi keserbalemahan, keserbakekurangan dan keserbaterbatasan sehingga ia akan lebih merasakan bergantung kepada Sang Kholiq. Sikap ketergantungan kepada Sang Pencipta inilah yang mendorong seorang muslim untuk memasrahkan segenap urusan dan seluruh hidupnya agar diatur oleh Sang Pencipta yakni Allah SWT, yang memang telah menurunkan seperangkat aturan bagi manusia yang sering disebut dengan syariah. Walhasil, kembali kefitrah sejatinya adalah kembali pada syariah-NYA; kembali pada ketaatan terhadap hukum-hukum Allah swt. Karena itulah, merayakan Idul Fitri (Kembali ke Fitrah) tidak bermakna apa-apa jika seorang muslim melalui puasa dan ibadah ramadhannya yang sebulan penuh tidak kembali pada ketaatan kepada Allah swt, yang dibuktikan dengan ketaatan pada syariah-NYA. Karena itu, tepat sekali dikatakan : “Idul Fitri itu bukanlah milik orang yang mengenakan sesuatu yang serba baru, tetapi milik orang yang ketaatannya kepada Allah semakin bertambah”. Karena itu pula, saat Ramadhan berlalu, sementara seorang muslim malah kembali melakukan banyak kemaksiatan, kembali melanggar aturan-aturan Allah, bahkan tetap tidak mau diatur oleh syariah-NYA, pada saat itu dia sesungguhnya tidak kembali ke fitrah, tetapi justru semakin menjauhkan diri dari fitrahnya. Orang seperti ini tidak sedang merayakan kemenangan tetapi kekalahan karena semakin jauhnya ia dari fitrahnya.

Sesuai dengan fitrahnya seorang muslim sejatinya hanya menerima agama dan aturan hidup yang memang sesuai dengannya. Sebaliknya, sesuai dengan fitrahnya pula seorang manusia sejatinya menolak agama dan aturan-aturan lain buatan manusia sebagai pedoman dalam mengatur kehidupannya. Allah swt berfirman :
“Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(Q.S.Ali Imron ; 85)”
Pilihan manusia atas agama dan aturan selain Islam, juga keterikatan mereka dengan aturan-aturan yang bukan datang dari Allah pasti akan bertentangan dengan fitrahnya sebagai manusia. Ketika umat Islam memilih aturan / sistem sekulerisme (pemisahan agama dengan kehidupan dunia), misalnya, sebagaimana saat ini, hakikatnya mereka sedang menjauhi fitrahnya; juga merupakan pengingkaran mereka kepada aturan Sang penciptanya karena lebih memilih aturan buatan manusia. Oleh karena itu, umat Islam harus membuang jauh-jauh aturan buatan manusia tersebut yang menjauhkannya dari fitrahnya. Mereka juga tidak layak bahkan haram tunduk, patuh, taat dan mengikuti negara-negara besar pengusung aturan / system sekulerisme ini seperti Amerika Serikat dan negara barat lainnya yang mengusung aturan hidup bertentangan dengan Islam itu sendiri sebagai agama Fithrahnya. Umat Islam tidak boleh merendahkan diri dihadapan mereka. Sikap ini hanya akan menyebabkan mereka rela untuk diatur dan disuruh oleh orang-orang kafir yang justru memusuhi Islam. Lebih jauh, sikap merendahkan diri dihadapan orang dan negara kafir hanya akan semakin menjauhkan umat Islam dari ketundukkan dan ketaatan kepada Allah SWT yang justru merupakan fitrah mereka, sebagaimana firman-Nya : “Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.(Q.S.Ali Imron ; 32)”
Sekulerisme yang melahirkan ideologi kapitalisme, jelas-jelas telah mengajari manusia untuk hidup serba bebas tanpa campur tangan Allah SWT, Tuhan Pencipta Manusia, Alam semesta dan kehidupan. Bahkan Sekulerisme yang ironisnya justru dijadikan aturan kehidupan mayoritas kaum muslim saat ini, termasuk dinegeri ini, mencampakkan dan membuang jauh-jauh keterlibatan Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia dengan syariahnya. Aturan Allah SWT hanya digunakan yang berkenaan dengan Ibadah ritual, kelahiran, pernikahan dan kematian. Namun dalam hal kehidupan lainnya seperti pemerintahan, sosial budaya, ekonomi, pendidikan, politik, persanksian, keamanan pertahanan negara dan yang Allah turunkan tidak diterapkan. Tidak hanya itu orang-orang sekuler yang diantaranya terdiri dari sebagian kaum muslim sendiri selalu berusaha menyingkirkan Syariah dari kehidupan mereka. Bahkan tidak segan-segan untuk menghalang-halangi kaum muslim yang memperjuangkan kembali syariah Allah dalam kehidupan mereka, yang berarti berjuang mengembalikan manusia pada fitrahnya yang asli. Bahkan musuh-musah Islam pengusung ideologi Kapitalisme-Sekulerisme, yaitu Amerika Serikat dan Eropa telah memfitnah umat Islam yang ingin menerapkan kembali Islam di dalam kehidupan mereka dengan sebutan “Teroris/Gerakan Radikal”, itulah yang sering diopinikan oleh mereka. Namun fakta sebenarnya justru merekalah yang menjadi teroris yang menyerang negeri kaum muslimin baik secara fisik maupun secara ekonomi. Bukankah Amerika yang paling kejam memperlakukan kaum muslim di Afganistan dan Irak tanpa pernah diketahui apa dosa dan kesalahan merek.? Bukankah Amerika pula yang paling depan mendukung bahkan memfasilitasi Yahudi-Israel untuk membantai kaum muslim Palestina? Bukankah Amerika yang menghasut Timor-Timur hingga lepas dari Indonesia? Bukankah Amerika yang menguasai segala pertambangan kekayaan alam Indonesia mulai dari emas, tembaga, minyak dan lainnya.? Dan bukankah Amerika yang telah merubah gaya hidup bangsa ini dari norma ketimuran yang beradab menjadi bangsa penuh kebiadaban ala koboi.? Pornografi, pornoaksi, sek bebas, aborsi, narkoba , kriminalitas dan kesemuanya itu adalah hasil transformasi gaya hidup dari bangsa tersebut ke negeri ini tanpa disadari oleh rakyat Indonesia sendiri.

Karena itu sudah selayaknya kita sebagai kaum muslimin segera memperjuangkan kembali syariah Islam ditengah kehidupan kita bermasyarakat dan bernegara, siapapun dia, apakah seorang pejabat, tentara, polisi, pengusaha, pegawai, pedagang, petani atau apapun profesinya, semuanya berkewajiban untuk memperjuangkannya selama ia masih beriman kepada Allah SWT, Muhammad SAW dan Islam sebagai bentuk ketaatan mereka kepada sang Penghisab / Hakim terakhir yang akan meminta pertanggung jawaban manusia di hari kebangkitan kelak. Alla Kulli Hal, marilah di akhir bulan yang mulia ini dan dihari Fitri yang bahagia beberapa hari lagi kita senantiasa memohon kepada Allah SWT agar bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan fitrah yang telah diciptakan-NYA. Yakni senantiasa berada dalam kepatuhan, ketundukkan, dan ketaatan kepada-NYA, hanya dengan itulah kita benar-benar kembali fitrah. Amiin. (***)

Related posts