Marhaban Yâ Muharram

  • Whatsapp

Oleh: Sari Sya’ban
Santri Pondok Pesantren Sidogiri asal Bangka Belitung

Tanpa terasa kita telah memasuki bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender hiriyah. Umumnya, mayoritas masyarakat Indonesia hanya mengenal perayaan tahun baru Masehi saja. Sebab kalender nasional yang digunakan adalah Masehi atau dikenal dengan Anno Domini (AD). Memang, sejarah mencatat bahwa jauh sebelum tersebarnya Islam, umat manusia terdahulu menggunakan penanggalan Masehi yang digunakan pada kalender Julian dan Gregorian. Hal tersebut berjalan selama berabad-abad hingga masa Khalifah Umar bin Khatab. Beliau menetapkan penanggalan hijriyah berdasarkan peristiwa besar yakni hijrahnya Rasulullah SAW. Kota Makkah ke kota Madinah tepatnya pada tahun 622 M.
Sebenarnya, dalam penetapan awal tahun hijriyah ini, banyak opsi dan usulan dari para sahabat. Ada yang mengusulkan harus ditetapkan berdasarkan Milad Rasulullah SAW, ada juga yang mengusulkan berdasarkan hari ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi rasul. Hanya saja dari seabrek usulan tersebut yang diterima adalah usulan Ali bin Abi Thalib yakni ditetapkan berdasarkan hijrahnya Rasulullah SAW dari kota Makah ke Kota Madinah (Yatsrib). Finalnya, pada tahun 638 M. (17 H), khilafah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun di mana hijrahnya nabi (Wikipedia).
Adapun penetapan nama bulan sebanyak dua belas bulan yakni dari Muharram hingga Dzulhijjah. Penetapan tersebut berdasarkan firman Allah “Sesunguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci)” (QS. At-Taubah-36).
Jika dikaji secara historis, banyak peristiwa dan kelebihan yang dimiliki oleh bulan Muharram jika dibandingkan dengan sebelas bulan yang lainnya.

Bulan Hijrah Rasulullah
Tepatnya pada bulan Muharram, Rasulullah melakukan hijrah dari Kota Mekah ke Kota Madinah. Hijrah Rasulullah tersebut memilki tujuan untuk melakukan ekspansi penyebaran agama Islam. Memang pada saat itu terdengar bahwa para penduduk kota Madinah mulai berbondong-bondong mengenal Islam. Keberangkatan beliau tersebut didampingi oleh sahabat Abu Bakar dan dilakukan pada malam hari. Pasalnya untuk menghindari dari kepungan kafir Quraisy yang tak henti-hentinya menghalangi dakwah beliau.
Selain itu, hijrahnya Rasulullah tersebut juga membawa visi perubahan bagi perkembangan Islam di semenanjung Arab. Setidaknya dengan peristiwa tersebut, beliau sudah mampu menjadi agen of change, agen perubahan bagi umat Islam di dunia. Lebih jauh lagi, kita bisa mengambil hikmah yang mendalam bahwa hidup harus memerlukan sebuah perubahan dari jelek menjadi baik, dari bobrok menjadi berkualitas. Dengan adanya peristiwa tersebut, beliau seolah memberikan isyarat tentang besarnya resiko dan perjuangan dalam berdakwah.
Selebihnya, kita harus bisa meciptakan Revolution Of Life. Revolusi menjadi manusia yang anfauhum linnas khususnya bagi kepribadian masing-masing

Bulan yang Paling Mulia
“Sesunguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram (suci)” (QS. Attaubah-36). Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya memaparkan bahwa yang dimaksud dengan empat bulan haram tersebut adalah Dzulqodah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Uniknya, di bulan Muharram terdapat sebuah keistimewaan dalam beribadah terutama di sepuluh hari pertama. Imam As-Suyuthi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa tafsiran dari walayâlin asyr (surah Al-Fajr ayat 2) adalah sepuluh malam di awal bulan Muharram. Para ulama memberikan titik terang bahwa pada sepuluh hari tersebut, kita dianjurkan untuk bersedekah, berpuasa, mengunjungi orang alim, mengasihi anak yatim, dan bercelak.

Investasi Pahala Besar-besaran
Dalam bulan Muharram kita sangat dianjurkan berpuasa Tasu’a dan Asyura. Hal tersebut berlandaskan hadis Rasulullah, “Sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram dan sebaik-baiknya solat setelah solat fardhu adalah solat malam” (HR. Muslim). Seperti yang diketahui, berpuasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum, ghibah, dan lain sebagainya. Dengan berpuasa berarti kita mencoba memasuki wilayah tazkiyatun nafs, penyucian diri.
Bahkan kita akan merasakan lapar sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang fakir miskin yang sulit mencari makanan. Dengan itu, kita akan selalu sabar dan bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Allah. Akan selalu ringan tangan untuk bersedekah kepada mereka yang membutuhkan bukan berfoya-foya atau mengalokasikan pada hal-hal yang tidak bermanfaat.
Walhasil, bulan Muharram adalah ladang untuk melakukan investasi pahala besar-besaran. Dengan tidak menyia-nyiakan waktu untuk beribadah, berarti kita sudah mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat nanti. Toh. kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil untuk menghadapi Rabb, Tuhan pemilik segala-galanya. Marhaban Yâ Muharram.
Sehingga para ulama menyimpulkan umumnya, dalam sepuluh hari tersebut kita bisa melakukan puasa yang dinamakan puasa Tasua dan Asyura. Dalam memberikan ruang dan aktu bagi kita untuk membernah adiri dan menahan nafsu amarah yang sangat mempengaruhi kedekatan di kita kepada sang kholik. (***).

Related posts