Mantan Asisten Dokter Dituntut 3 Bulan Penjara

  • Whatsapp

Dianggap Beri Keterangan Palsu
Drg Susi Bantah Disebut Aktor Arahkan Terdakwa

SUNGAILIAT – Terdakwa Susilawati alias Ela, mantan asisten Dokter Gigi Susilawati dinyatakan melanggar Pasal 242 ayat 1 KUHP tentang keterangan palsu oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Mila Karmila dalam sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Sungailiat, Senin sore (7/10/2019).
Di hadapan majelis hakim yang diketuai Oloan, SH. MH, JPU menuntut terdakwa dengan hukuman tiga bulan penjara. Meski dituntut ringan, terdakwa Ela menyatakan akan menyampaikan pembelaan tertulis terhadap tuntutan JPU.
Apalagi setelah mendengarkan tuntutan JPU, hakim Oloan menyarankan terdakwa Ela untuk membuat nota pembelaan.
“Saudara terdakwa apakah anda bisa menulis dan membaca? Kalau bisa silahkan ajukan nota pembelaan,” kata Oloan kepada terdakwa.
Ela lalu mengatakan akan mengajukan nota pembelaan pada agenda sidang Senin pekan depan. Usai mendengar jawaban itu, hakim menunda persidangan pada Senin (14/10/2019) dengan agenda nota pembelaan dari terdakwa atau pledoi.
Terpisah, drg Susylawati kemarin mendatangi Kantor Rakyat Pos di Pangkalpinang dan memberikan keterangan tertulis dengan perihal hak jawab. Ia menanggapi pemberitaan yang diterbitkan pada Selasa 2 Oktober 2019 terkait keterangan terdakwa Ela di persidangan Senin 1 Oktober 2019 dalam agenda pemeriksaan terdakwa.
Menurutnya, sebelum pemeriksaan terhadap terdakwa, dirinya telah diambil keterangan terlebih dahulu di muka sidang sebagai saksi pada 24 September 2019. Sedangkan perkara dengan terdakwa Ela ini mulai disidangkan sejak tanggal 3 September 2019.
Dokter ini menyatakan perkara Ela nomor 245/Pid. B/2019/PN. Sgl yang disidangkan PN Sungailiat mempunyai korelasi pada perkara tindak pidana pencurian dalam keluarga yang telah inkrah berdasarkan putusan MA No: 397 K/PID/ 2016 tertanggal 15 Januari 2016 jo Putusan PN Sungailiat No: 593/Pid.B/2015/PN. Sgl tertanggal 17 Desember 2015. Terdakwa dalam kasus itu dijatuhi hukuman dua bulan penjara.
Sedangkan terhadap keterangan terdakwa Ela di persidangan, disebutkan Susi bahwa terdakwa mengakui berkali-kali (lebih dari tiga kali) didatangi Saksi Pelapor di rumah terdakwa untuk membuat surat pernyataan.
Lalu terdakwa dan saksi pelapor ada membuat perjanjian perdamaian yang pada pokoknya saksi pelapor tidak akan melibatkan terdakwa dalam permasalahan hukumnya dengan Saksi drg. Susylawati akan tetapi nyatanya saksi pelapor membuat laporan polisi terhadap terdakwa.
Terdakwa juga menurut drg. Susi telah menyampaikan atas inisiatifnya sendiri pernah mendatangi drg. Susi di tempat prakteknya meminta maaf dan menyampaikan diminta saksi pelapor membuat surat pernyataan guna kepentingan peninjauan kembali dan memulihkan harkat dan nama baik saksi pelapor serta membuat perjanjian perdamaian.
Tidak hanya itu, terdakwa pun dalam persidangan menyampaikan bahwa orang yang datang (saksi pelapor) di tempat praktek sama dengan orang yang terlihat pada CCTV. Terdakwa juga oleh ketua majelis hakim dianggapngawur dan plin plan dalam memberikan keterangan karena tidak focus dalam mendengarkan dan memberikan keterangan atas pertanyaan majelis hakim.
Terhadap surat pernyataan yang dibuat terdakwa atas permintaan saksi pelapor yang oleh ketua majelis diperlihatkan dan diperintahkan untuk dibacakan terdakwa di hadapan persidangan, selanjutnya terdakwa mengakui tidak mengetahui berkas apa yang dititipkan oleh saksi drg. Susylawati karena yang bersangkutan hanya menerima dan selanjutnya menyimpan dalam laci meja di rumah terdakwa tanpa pernah melihat berkas, juga perhiasan emas apa yang dijual oleh drg. Susi.
Terkait permasalahan ini, dirinya membantah jika disebutkan menjadi aktor yang memerintahkan terdakwa memberikan keterangan palsu, dan merupakan fakta hukum dalam rangkaian peristiwa pencurian dalam keluarga.
“Antara lain berdasarkan cerita dari terdakwa yang menghubungi saya langsung yang pada saat kejadian berada di Jakarta melalui telepon maupun sms, sehingga sangat tidak masuk diakal apabila terdakwa memberikan keterangan bahwa sayalah yang memerintahkan agar terdakwa mengatakan melihat kantong sak celana Hengki menggelembung, kontras dengan keterangan terdakwa sendiri dalam putusan PN Sungailiat tanggal 17 Desember 2015 halaman 13,” tulis drg. Susi. (rill/2nd/1)

Related posts