Manfaatkan Kayu Puspa untuk Kelestarian Hutan di Bumi Bangka Belitung

  • Whatsapp

Oleh: Darman Suriah, S.Hut
Penyuluh Kehutanan Ahli Madya Dinas Kehutanan Prov. Kep. Babel

Setiap tahun, 37,5 – 52,5 hektar lahan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dilakukan penebangan, atau setara dengan 15.000 – 21.000 batang kayu. Hal ini tidak lain terjadi karena ketika musim berganti menjadi musim angin tenggara, nelayan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai mendirikan bangunan kayu peragkap ikan atau biasa disebut bagan di tengah laut yang menggunakan kayu. Pendirian bagan ini, biasanya di mulai bulan April sampai dengan bulan Mei setiap tahunnya. Saat pendirian bagan inilah nelayan mulai sedikit pusing karena mahalnya biaya pembuatan bagan tersebut. Konon biayanya bisa mencapai 70 – 80 juta rupiah per bagan. Disamping kesulitan biaya, kesulitan lainnya untuk mendapatkan atau membeli kayu yang secara legalitas dapat dipertangungjawabkan.

Berdasarkan pengertiannya, bagan tancap adalah alat penangkap ikan yang terdiri dari susunan kayu berbentuk persegi empat yang ditancapkan dengan konstruksi tetap, sehingga berdiri kokoh di atas perairan dan pada bagian tengah bangunan dipasang jaring yang berfungsi sebagai alat untuk menangkap ikan, dioperasikan dengan cara diangkat. Berdasarkan cara pengoperasiannya, bagan tancap dikelompokkan kedalam jaring angkat (Lift net). Bagan tancap pada umumnya tersusun atas dua bagian, yaitu bangunan bagan dan jaring bagan. Bangunan bagan terdiri dari rumah bagan, pelataran bagan, dan tiang pancang. Semua bangunan bagan terbuat dari kayu. Biasanya bangunan bagan berukuran 9 x 9 meter, namun ada juga yang berukuran hingga 12 x 12 meter, sedangkan tinggi bangunan dari permukaan air laut rata-rata 12 meter. Konstruksi bagan tancap yang selanjutnya adalah jaring bagan. Jaring bagan diletakkan pada tengah bangunan bagan. Jaring bagan ini, terbuat dari Poly Prophylene (PP) atau yang sering disebut dengan waring. Ukuran jaring bagan sendiri yaitu 7 x 7 meter dengan ukuran mata jaringnya yaitu 0,4 cm. Jaring bagan dilengkapi dengan bingkai yang terbuat dari bambu dan gelang pengikat jaring yang berfungsi untuk memudahkan pada saat pengoperasian alat tangkap ini.

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari sesama penyuluh, untuk membuat satu bagan tancap dibutuhkan sebanyak 50 – 70 Batang kayu dengan diameter 10 – 25 Cm, panjang yang bervariasi mencapai 15 – 25 meter. Sumber salah satu Koran Lokal (BP), Rabu (20/6/2018), Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Bangka, Ridwan mengatakan, data jumlah unit bagan Tahun 2018 telah dicatat oleh Pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Bangka atau pihak terkait. Tapi, setiap tahunnya bisa mencapai jumlahnya sekitar 200 unit lebih bagan, mulai Perairan Rebo hingga Pesaren, ini berarti hanya untuk di Kabupaten Bangka saja. Apabila di tambah dengan nelayan Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Selatan, kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur, tentu jumlahnya lebih dari 200 bagan.

Disamping itu, salah satu kendala yang dihadapi dalam pendirian bagan yaitu ketersediaan kayu bagan. Melihat fenomena itu, apabila satu bagan diasumsikan membutuhkan 50 – 70 batang dengan asumsi bagan sebanyak 300 bagan, maka setiap tahunnya dibutuhkan kayu sebanyak 15.000 – 21.000 batang kayu. Jika satu hektar jumlah kayu yang di tebang sebanyak 400 batang, maka setiap tahunnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung harus ditebang kayunya sebanyak 37,5 – 52,5 hektar, yang sedikit banyak turut mendukung terbentuknya lahan-lahan kritis. Bila asumsi biaya pembuatan mencapai 70 juta rupiah, maka untuk membuat bagan sebanyak 300 bagan, maka dibutuhkan dana sebayak 2,1 milyar rupiah. Yang menjadi pertanyaan, dimanakah kayu itu ditebang? Legal atau illegal kayu yang digunakan? Bagaimana cara memperoleh kayu sebanyak tersebut? Secara legalitasnya dapat dipertangungjawabkan.

Hasil pengamatan lapangan, banyak sekali jenis kayu yang digunakan untuk membuat bagan tancap tersebut seperti kayu kelapa, kayu api-api (avisinea), kayu bakau, kayu accasia mangium (kayu kertas). Dan sekarang ini, fenomena yang mencul yaitu kayu seru atau puspa dengan istilah populer medang gatal. Penggunaan kayu seru (puspa atau medang gatal) untuk bagan tancap sepertinya saat ini sudah menjadi kebutuhan dan layak untuk digunakan. Secara literatur yang ada jenis kayu Puspa atau seru, ataupun medang gatal (Schima wallichii) masuk dalam kayu pertukangan berkualitas sedang. Disebut medang gatal karena pohon ini memiliki lapisan semacam miang di bawah pepagannya, yang keluar berhamburan ketika digergaji dan menimbulkan rasa gatal di kulit. Pohon ini dikenal dengan nama penaga. Pohon yang selalu hijau, berukuran sedang hingga besar, mencapai tinggi 47 meter. Batang bulat torak, gemangnya hingga 250 cm, namun biasanya jauh kurang dari itu, batang bebas cabang hingga sekitar 25 meter. Pepagan memecah dangkal sampai sedang, membentuk alur-alur memanjang, coklat kemerahan hingga abu-abu gelap, sebelah dalam berwarna merah terang, dengan lapisan ‘miang’ yang mengiritasi kulit. Kayu terasnya berwarna coklat kemerahan atau coklat kelabu, gubalnya berwarna lebih muda dan tidak mempunyai batas yang jelas dengan kayu teras. Teksturnya halus dan permukaan kayunya licin, dengan arah serat lurus atau berpadu. Kayu ini termasuk agak keras, dengan berat jenis yang berkisar antara 0,45 hingga 0,92 kayu puspa termasuk ke dalam kelas kuat II dan digolongkan ke dalam kelas awet III. Ia cukup tahan terhadap serangan rayap kayu kering (kelas II), namun kurang tahan terhadap jamur pelapuk kayu (kelas III-IV. Kayu puspa juga baik untuk dijadikan pulp dan kertas.

Di timur – laut India, penanaman puspa dikombinasikan dengan kapulaga dalam suatu sistem wanatani untuk melindungi tanah dan air. Di negara ini, puspa juga digunakan sebagai pohon penaung di perkebunan kopi. Di Indonesia, puspa digunakan sebagai pelindung di hutan tanaman tusam dan damar. Selain itu, puspa juga baik untuk reklamasi lahan dan reboisasi daerah tangkapan air. Yang sangat menonjol jenis kayu ini mudah tumbuh dan banyak tumbuh di lahan kebun masyarakat atau kebun diluar kawasan hutan. Hal ini sangat menguntungkan, karena jika dilakukan perizinan, izin penebangan yang dilakukan di luar kawasan hutan tidak serumit jika penebangan dilakukan di dalam kawasan hutan. Untuk itu, mungkin potensi kayu ini bisa kita jadikan alternatif untuk dapat dibudidayakan dengan melibatkan semua pihak terkait. Atau pembudidayaannya dikerjasamakan dengan kelompok-kelompok tani hutan tanaman rakyat yang telah mendapatkan akses perizinan di program perhutanan social. Ayo..manfaatkan kayu puspa untuk kelestarian hutan di Bumi Bangka Belitung, tanam dan peliharalah pohonnya. #Hutan lestari rakyat sejahtera # Nelayan Makmur masyarakat Bergizi. Salam lestari.(***).
:

Related posts