Manajemen Stres dalam Menghadapi Masalah

  • Whatsapp
Jarir Idris
Alumni PonPes Tarbiyatul Mubtadiin Toboali, Basel, Babel

Dalam hidup, selalu ada masalah. Sebagai fitrah manusia, tentunya masalah adalah bagian dari hidup. Masalah bukan untuk dihindari apalagi dicari. Tanpa dicari pun, masalah kehidupan akan selalu ada. Dan tidak menjadi suatu hal, jika masalah akan selalu ada dalam kehidupan. Tidak jarang, jika masalah menjadi penyebab utama ramainya kehidupan di dunia ini. Namun, jika seseorang tidak segera menemukan jalan keluar tersebut, maka akan timbul depresi. Tentu ini akan berdampak negatif dalam diri seseorang.

Depresi akan membuat stress dalam diri, sehingga akan memicu tindakan yang dirasa dapat menyelesaikannya. Ketika seseorang sudah masuk dalam level depresi, tentunya ini sudah dikategorikan stress berat. Dan jika tidak segera diatasi, tentu akan membayakan diri sendiri dan juga orang lain.

Read More

Dalam kehidupan, setiap orang pasti pernah mengalami stress, entah itu dalam kategori ringan sampai pada stress berat. Stress juga dapat bermanfaat bagi diri, tergantung dari cara penanganan yang dilakukan. Menurut Mashudi (2014) Stress dapat memberikan pengaruh piositif dan negatif terhadap individu. Pengaruh positif dari stress adalah mendorong individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran dan menghasilkan pengalaman baru. Sedangkan pengaruh negatifnya adalah menimbulkan perasaan-perasaan tidak percaya diri, penolakan, marah atau depresi, yang kemudian memicu munculnya penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke.

Manajemen stress diperlukan untuk mengolah diri dan pikiran agar senantiasa membangkitkan energi positif dalam diri. Seseorang bisa mengolah stress dalam diri akan menjadi pribadi yang matang secara emosionalnya, sedangkan seseorang yang tidak bisa mengolah stress, maka akan mengalami gangguan, baik secara fisik maupun mentalnya.

Dalam dunia konseling, manajemen stress disebut juga coping. Coping sebagai upaya sesorang untuk mereduksi stress dalam diri. Manajemen stress juga dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah dukungan sosial dari lingkungan sekitar dan faktor internal adalah faktor kepribadian diri. Kepribadian diri dalam mengatasi stress menentukan hasil dari pengolaan tersebut. Dan juga didukungan oleh lingkungan sekitar untuk menguatkan mental seseorang.
Dalam masalah kehidupan, tidak semua beban masalah harus dipikirkan. Setidaknya kita perlu selektif dalam menentukan masalah mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu, tanpa menyepelekan masalah yang lainnya. Meskipun kita tahu bahwa ketika masalah satu selesai maka akan ada masalah baru yang mungkin levelnya berbeda dari level sebelumnya.

Pengaplikasiannya memang tidak semudah penjelasan pada teori belaka. Namun, dibutuhkan kesabaran dan keuletan untuk bisa menggapai keberhasilan. Prosesnya akan terus berlangsung sampai kapanpun. Dalam manajemen stress tidak ada kata berhenti, kecuali kita telah meninggalkan dunia ini. Coping juga dapat dilakukan dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya adalah tertawa dengan meningkatkan kehumorisan diri. Menurut McCare (Mashudi 2014) menemukan bahwa 40% sikap humor itu dapat mengurangi stress. Tidak ada salahnya jika ada kata bijak yang mengungkapkan bahwa tertawa adalah obat stress yang mujarab. Tentu, tertawa ketika ada sebab, bukan karena tidak ada sebab kemudian tertawa sendiri.

Selain itu, kegiatan peribadatan juga bisa menjadi solusi dalam mengatasi stress dalam diri. Dalam agama islam dikenal istilah salat yang menjadi penghubung batin antara manusia kepada penciptanya. Selain untuk menunaikan kewajiban, salat juga bisa menjadi meditasi bagi diri untuk bisa menenangkan pikiran dari masalah dunia, bahkan lebih dari itu. Dan juga agama kristen mengenal istilah meditasi sebagai upaya perenungan diri atas kehendak Allah dalam hidupnya. Demikian pula agama Hindu, Budha dan Konghuchu yang mempunyai prakteknya masing-masing dalam kehidupan.

Setidaknya ketika seseorang mendekatkan diri kepada penciptanya, maka hati akan terasa aman dan tentram. Meskipun ekonomi menghimpit, masalah semakin berbelit dan kehidupan terasa sempit tidak akan ada maknanya jika tidak bisa menyadari hakikat dalam kehidupan yang sebenarnya. Hidup di dunia seperti layaknya roda berputar, terkadang ada di atas dan juga tidak menutup kemungkinan akan kebawah pula. Betapa naifnya jika kita menganggap bahwa kehidupan dunia ini adalah kehidupan tunggal yang tidak akan ada kelanjutannya. Seseorang yang iman kepada Tuhannya, maka ia akan bisa menjalani hidup dengan tenang meskipun banyak rintangan menghadang.

Ketika stress dapat dikendalikan dengan baik, maka yang akan tampak adalah pengaruh positif, mematangkan emosional dan juga bertambah dewasa pola pikirnya. Maka tidak heran jika orang yang ditempa dengan banyak masalah dan dapat melaluinya, ia akan menjadi orang yang bijaksana. Namun, sebaliknya jika seseorang tidak bisa mengendalikan stressnya maka akan berdampak pada diri baik secara fisik maupun psikis. Dampak fisik mulai dari yang ringan seperti sakit kepala, insomnia sampai pada yang berat seperti tekanan darah yang dapat menyebabkan stoke. Dan dampak psikis juga tidak kalah hebatnya, mulai dari menutup diri, depresi sampai bisa mengambil tindakan bunuh diri.

Maka dari itu, dari uraian diatas dapat disimpulkan, cara memanajemen stress yang paling ampuh pertama adalah dengan membiasakan diri untuk bersikap humoris dan tidak terlalu mengambil pusing dengan masalah yang menimpa. Yang kedua adalah dengan mendekatkan diri kepada pencipta, agar senantiasa hati terbimbing untuk menjadi manusia yang lebih baik dalam setiap harinya. Karena manajemen stress tidak akan berhenti, pautunya kita senantiasa berusaha dan berdoa untuk bisa mengatasinya. Wallahu alam.(***)

JustForex

Related posts