by

Malam Ini Tak Ada Kehampaan Malam

Karya: Rusmin

Malam baru saja tiba. Cahayanya menerangi alam raya. Lalulintas kendaraan mulai membisingkan jalan raya kehidupan. Bintang di langit bertaburan. Ada eksotisme di langit, menambah keindahan alam raya.
Lelaki itu kembali datang ke kedai kopi. Masih tetap sendiri. Tanpa teman. Semakin malam jumlah pengunjung kian ramai. Penuhi kursi-kursi tua kedai kopi. Mereka asyik dengan pembicaraannya masing-masing. Sesekali tawa mereka berderai. Hingar bingarkan malam. Maklum suara mereka sangat tinggi bahkan keras hingga semua orang yang ada di kedai itu paham tentang apa yang dibicarakan.
Tapi tak semua yang mereka bicarakan harus didengarkan pengunjung lainnya. Kadang suara mereka pelan, bahkan sangat pelan sekali. Setengah berbisik. Seakan-akan khawatir pembicaraan itu kedengaran pengunjung lainnya.
Lelaki itu juga tak mendengarkan apa yang pengunjung kedai kopi perbincangkan. Baik tawa maupun hingar suara pengunjung, tak pernah dia rasakan. Lelaki itu hanya merasakan bisikan terakhir dari wanita yang pernah mengisi hari-harinya. Hanya itu saja. Tak ada yang lain.
Lelaki itu menarik nafas panjang. Helaannya seiring dengan hembusan asap rokok yang dikeluarkannya dari hidung yang membentuk huruf O. Artistik sekali. Membuat beberapa pengunjung kedai kopi berpaling kepadanya. Menatap tajam ke arahnya. Ada rasa kagum yang ditunjukan para pengunjung terhadap lelaki yang menjadi konsumen tetap kedai kopi itu.
“Hebat sekali lelaki itu. Asap rokoknya bisa membuat huruf O,” puji seorang pengunjung kepada teman semejanya.
“Oh, ya,” jawab temannya mengiyakan pujian itu.
Lelaki itu tak bergeming. Tak ada rasa bangga atas pujian itu. Sama sekali tak ada. Ini terlihat dari raut wajahnya yang biasa saja.

___

Jam di dinding sudah menunjukan pukul 02.00 malam. Lelaki itu masih belum juga beranjak dari kursi. Belum ada sama sekali tanda-tanda dia akan meninggalkan kursi yang didudukinya. Padahal cangkir kopinya sudah habis. Hanya menyisahkan ampas saja. Sementara beberapa pekerja kedai sudah mulai meninggalkan kedai kopi. Pulang ke rumah mereka untuk beristirahat.
“Masih ada yang ditunggu Bang?” sapa seorang pekerja kedai.
Lelaki itu menatap wajah yang menyapanya. Seorang perempuan setengah baya yang tak muda lagi. Tutur katanya mengingatkannya pada seseorang. Raut wajahnya mengenangkan dirinya pada seseorang. Ya, seseorang yang telah meninggalkannya bersama lelaki lain tak pernah dicintainya. Seorag perempun yang amat patuh dengan petuah orang tuanya. Wanita yang tetap ditunggunya hingga kini.
“Aku harus mengikuti petuah keluargaku. Aku tidak mau dianggap sebagai anak durhaka,” cerita seorang perempuan kepada dirinya.
“Apakah karena itu kita harus berpisah?” tanya lelaki itu dengan suara pelan yang mengisyaratkan rasa putus asa.
“Iya. Saya tak mau dianggap sebagai anak yang tak berbakti kepada orang tua,” tambah perempuan itu.
“Walaupun engkau tak pernah mencintai lelaki itu?” tanya lelaki lagi.
Wanita itu hanya terdiam. Hanya tetesan airmata yang mengaliri pipi menjawabnya. Langit kelam. Sinar rembulan tak bercahaya. Alam gulita. Segulita hati lelaki itu yang terus berduka.

___

Tahun demi tahun dilalui lelaki itu dengan kesendiriannya. Kesepian hati menjadi sahabat sejatinya. Kedukaan menjadi teman sehari-hainya. Kelaraan tak lepas dari hidupnya. Dia terus menunggu wanita itu pulang hingga mengembalikan hati kepada dirinya yang tetap setia menunggu di setiap malam yang berbalut kehampaan hati. Nama perempuan itu tetap abadi dalam singgasana jiwanya. Tak tergantikan oleh wanita manapun.
“Tasan, Tasan. Buat apa engkau menunggu perempuan yang sudah dimiliki orang lain,” kata sahabatnya menasehati.
“Suaminya atau apalah namanya hanya memiliki tubuh wanita itu. Tapi tidak dengan hatinya,” jawab lelaki yang ternyata bernama Tasan itu.
“Hati wanita itu hanya untukku. Hanya untukku,” sambungnya.
Temannya hanya menelan ludah mendengar jawaban Tasan. Diam mematung. Mulutnya bungkam. “Percuma juga berbicara dengan Tasan, toh pendirian lelaki tak akan berubah. Tak akan berubah,” pikir sahabatnya.
Lelaki itu tertegun. Matanya kembali menatap tajam wanita yang menyapanya. Wanita itu pernah dikenalnya. Sangat dikenalnya. Mulai dari bibirnya hingga kakinya yang putih bersih. Wanita itu yang tetap dicarinya hingga kini tanpa mengenal lelah. Wanita yang diidolakan hatinya. Dia telah kembali.
“Aminah…,” sapa lelaki itu.
Wanita setangah baya itu terkejut. Kekagetan mengaliri seluruh tubuhnya. Lelaki itu ternyata masih mengenalnya. Lelaki itu masih mengingatkannya. Lelaki itu…
“Apa kabar Bang,” jawab Aminah dengan suara yang tersekat. Hatinya terguncang berat.
“Alhamdulilah baik. Abang apa kabarnya? Bagaimana dengan istri dan anak abang? Sekarang sudah punya berapa anak?” suara Aminah nyeroros menembus dinding hati Tasan yang lara.
Tasan hanya tersenyum kecut. Pandangannya dialihkan ke sudut-sudut kedai kopi yang sudah sepi. Tak berpenghuni lagi. Pengunjung sudah lama pulang ke rumahnya. Istirahat di peraduannya hingga bermimpi tentang hari esok yang indah.
“Aku belum pernah menikah,” jawab Tasan.
Aminah terkejut. Seluruh tubuhnya terbawa arus magnet kekagetan yang dialiri dari otaknya. Dia baru tahu kalau Tasan, lelaki yang pernah menyinggahi hatinya ternyata belum kawin. Dan itu pernah didengar Aminah dari teman-teman lamanya semasa masih gadis saat dia kembali pulang ke kampung halamannya dengan status menjanda.
“Tasan masih single lho,” goda temannya.
“Sayang kalau dibiarkan dia sendiri,” canda temannya yang lain membuat wajah Aminah merah merona.
Matanya berbinar. Seolah menggambarkan masih ada harapan yang dulu tak tersampaikan karena keadaan. Lelaki yang amat mencintainya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa.
Tasan menatap langit yang masih bertaburan bintang-bintang. Bintang pun seolah tersenyum kepadanya. Seolah membisikan sesuatu kepadanya untuk berani mengutarakan isi hatinya.
Aminah terkaget. Jantungnya mau copot. Kalimat khas lelaki itu kembali menusuk jantungnya. Kalimat khas yang pernah didengarnya belasan tahun yang lalu. Kalimat yang selalu diucapkan lelaki itu saat mereka menikmati indahnya malam.
“Aku akan meminangmu,” ujar lelaki itu dengan suara terbata.
“Walaupun aku sudah punya anak?” tanya Aminah.
“Dia adalah anakku,” jawab Tasan dan Aminah menyerah.
Lelaki itu menggandeng tangan wanita itu. Berjalan meninggalkan kedai kopi yang sudah tertutup rapat. Iringan bintang di langit mengiringi langkah dua anak manusia yang berbeda jenis itu menuju rumah mereka yang baru. Ya, mereka akan segera ke penghulu dan menatap hidup baru dengan rumah baru beratapkan cinta dan berdindingkan kasih sayang yang datang walaupun terlambat. Tasan bahagia. Malam ini, ternyata malam tak sehampa malam sebelumnya. (**)

Comment

BERITA TERBARU