by

Maaf Kali Ini Bapak Saya Tidak Puasa Ramadhan

-Cerpen-134 views

Karya: Rusmin

Setiap menjelang ramadan tiba, segenap manusia penghuni jagad menyambutnya dengan sukacita. Tua muda, lelaki perempuan menyambut datangnya bulan ramadan dengan penuh kebahagian. Akhirnya bulan yang penuh ampunan ini kembali datang menghampiri manusia. Sejuta cita terdampar di hati umat manusia atas kehadiran bulan ramadan. Sejuta kebahagian terpatri di nurani umat manusia dengan kehadiran bulan yang penuh berkah ini. Tak terkecuali kami skeluarga sangat bahagia atas datangnya bulan sejuta bulan ini.
“Alhamdulillah,bulan ramadan datang kembali menyapa kita semua,” ujar Ibu kepada kami anak-anaknya.
“Apakah bapak akan berpuasa, Bu,” tanyaku.
Ibu diam. Tak menjawab. Sementara bapak asyik menonton televisi sambil ditemani sebatang rokoknya di ruang tengah. Asapnya membumbung tinggi memenuhi ruangan umah. Terasa sumpek rumah akibat asap rokok bapak.

Sudah tiga ramadan, Bapak tak pernah memenuhi kewajibannya untuk berpuasa. Dan setiap kali pertanyaan ini kami ajukan, Ibu selalu menjawab dengan diplomatis. Mirip para juru bicara yang sering kami dengar di media televisi.

” Ayahmu sakit. Jadi tidak diwajibkan berpuasa,” jelas Ibu.

” Sakit apa, Bapak? tanya kami kembali.

” Orang sakit kan tidak harus diopname atau tidur-tiduran di kamar,” jawab Ibu.

Saat tidak berpuasa Bapak memang tidak melakukan aktivitasnya merokok di rumah. Bapak selalu merokok dan minum kopi di halaman belakang rumah sehingga aktivitasnya tak terlihat oleh orang. Kami anak-anaknya tahu aktivitas Bapak di sana merokok karena asap rokoknya terlihat membumbung tinggi ke angkasa nan biru. Walaupun tidak berpuasa, bapak selalu membelikan tajil untuk berbuka puasa bagikami. setiap sore usaipulang bekerja, bapak selalu ke pasar untuk membelikan tajil buat kami berbuka puasa. Dan kami senang karena setiap permintaan kami untuk berbuka puasa selalu dibelikan bapak.

” Kamu mau dibelikan apa buat buka puasamu,” tanya bapak kepada kami.

Walaupun bulanpuasa, Ibu selalu memasak buat ayah, terutama saat ayah pulang kerja. Dan biasanya kalau bapak sedang makan siang Ibu selalu mengajak kami keluar rumah dan tidak memperbolehkan melihat aktivitas Bapak makan pada siang hari bolong bulan puasa.

” Kok Ibu memasak buat bapak? Kan tidak boleh orang yang berpuasa memasakan buat orang yang tidak berpuasa,” tanya adikku yang perempuan.

“Ayahmu sakit. Jadi sebagai istrinya Ibu harus memasak makanan buat Bapakmu.Apalagi Bapakmu sudah seharian kerja untuk memberi kita makan,” jawab Ibu. kami lagi-lagi cuma terdiam mendengar jawaban Ibu.

Puasa kali, sikap bapak sungguh berbeda. Bapak terlihat bahagia saat bulan ramadan tiba. Aktivitas religinya terlihat. Selalu sholat berjemaah di masjid bersama tetangga kami. Bahkan Bapak dengan wajah sumringah menyampaikan kepada kami bahwa kami harus menjalankan puasa dengan ikhlas.

” Bualan ramadan ini, kita semua harus menjalankannya dengan penuh keikhlasan untuk mendapat ridho dari Allah,” ujar bapak

” jadi bapak akan puasa ramadan kali ini, Pak,” tanya adikku.

” Sebagai kaum muslim, kita harus menjalankan perintah Allah.Puasa itukan wajib sebagaimana kita sholat,” jelas bapak.

” Alhamdulillah, tahun ini kita sekeluarga bisa berbuka dan saur bersama,” celetuk Ibu.

” Iya. termasuk tarawih bersama di masjid,” lanjut Bapak.

Hingga hari ketigabelas,Bapak menjalankan puasanya dengan wajah bahagia. Tak ada rasa lelah dan capek diwajahnya walaupun Bapak harus bekerja. Usai berbuka di rumah, biasanya Bapak langsung ke masjid untuk menjalan ibadah Magrib. Dan Bapak baru tiba di rumah usai tarawih. Usai sahur bapaklangsung ke masjid untuk menjalan ibadah sholat Subuh.

Kami anak-anaknya sangat bahagia dengan perubahan sikap Bapak. Kerelegiusannya pada ramadan kali sungguh sempurna, bahkan terasa sangat sempurna. Omongannya pun terjaga. Tak ada narasi kotor yang dilontarkannya yang dapat mengurangi ibadah puasanya. Ada rasa bangga terhadap bapak.

Subuh itu, usai sahur bersama kami, bapak langsung menuju masjid. Sebelum ke masjid Bapak menyampaikan sesuatu kepada kami.

” Bapak mau ke masjid. Menghadap Allah. kalian harus bisa menjaga diri kalian dan Ibu selama bapak menghadap Allah,” ujar bapak saat meninggalkan kami yang masih di meja makan.

Azan subuh telah berkumandang. Jejak langkah manusia mulai memenuhi jalanan menuju rumah Allah. Rumah Sang Maha Pencipta. Tempat manusia memohon ampun. Sholat subuh baru rakaat. Tiba-tiba terjadi kegaduhan di masjid. Suara Innalilahi Wainnalillahipun berkumandang dari pengeras suara masjid. Semua warga mendengarnya dengan seksama. Siapa yang akan menghadap Allah pada bulan yang suci ini. Bukankah orang yang wafat saat sedang menjalankan puasa akan khusnul khotimah?

Kami sekeluarga terkejut, ketika nama Bapak diumumkan telah wafat saat sedang sujud di masjid. Ibu langsung menghambur keluar kamar dengan mukena yang masih dipakainya usai sholat subuh. Beberapa langsung warga tampak mendatangi rumah kami. Wajah mareka bersedih. Mareka menyampaikan ucapan bela sungkawa. Bebarapa warga diantaranya menyiapkan penyambutan jenazah yang sedang dibawa warga ke rumah. Mareka menyiapakan kursi di luar rumah serta memasang tenda.

Saat jenazah bapak tiba di rumah, kami histeris. Terutama Ibu. Ibu tampak shock atas kematian bapak. Beberapa orang warga menghampiri Ibu dan berusaha menyabarkan Ibu. Tapi ada rasa bahagia kami bahkan sungguh sangat bahagia saat melihat wajah Bapak. Bapak seolah tersenyum kepada kami. Wajahnya sungguh bahagia. Sumringah. Seolah-olah tak menampakkan bahwa dirinya telah tiada.

Kini sudah delapan tahun Bapak meninggalkan kami. Dan sudah delapan kali ramadan bapak tidak pernah bersama kami lagi. (Rusmin)

Dikirim dari Yahoo Mail di Android

Comment

BERITA TERBARU