Lion Air Kenakan Biaya Bagasi

  • Whatsapp

Pangkalpinang-Tak hanya harga tiket pesawat yang dinilai memberatkan, warga yang berpergian menggunakan pesawat Lion Air dan Wings juga harus membayar biaya bagasi.

Berbeda dengan maskapai Garuda, kendati tidak memberlakukan biaya bagasi, Garuda menaikkan biaya kargo (pengiriman barang) hingga 100 persen.

Airport Manager Lion Air Pangkalpinang, Dedy menyebutkan, sejauh ini hanya ada satu keluhan dari penumpang terkait pemberlakuan biaya bagasi, dengan alasan belum mengetahui informasi. Padahal kata dia, pihak Lion sudah menginformasikan hal ini jauh-jauh hari.

Ia menyebutkan, untuk biaya bagasi ini dihitung berdasarkan rute penerbangan, dihitung perkilo berat bagasi yang dibawa dibandingkan rute.

“Jakarta – Pangkalpinang, pembelian bagasi private bagasi 14.000/kg, kalau ke Tanjungpandan kita harus cek lagi, sesuai harga, karena setiap rute itu berbeda,” jelasnya, Selasa (22/1/2019).

Namun, harga Rp 14.000/kg ini tidak berlaku untuk pembelian bagasi mendadak di pesawat, karena ketika pembelian langsung atau on the spot, penumpang dikenal tarif yang lebih tinggi yakni Rp25.000 per kg.

“Jadi misalnya ada penumpang mau berangkat, ia harus beli bagasi dulu minimal enam jam sebelum berangkat, misalnya ia beli minimal 5 kg, namun setelah ditimbang di bandara bagasinya lebih 5 kg, maka 5 kg kelebihannya ini harus bayar dengan hitungan biaya on the spot Rp25.000/kg,” lanjutnya.

Masing-masing penumpang, memiliki kapasitas bagasi 5-30 kg, jika lebih dari 30 kg, ia menyarankan agar memilih menggunakan produk Lion Parcel untuk pengiriman barang.

“Pembelian bagasi bisa online di travel agent bisa di bandara, di kantor penjualan, dan rata-rata bawaan penumpang itu tergantung sesi bisa sampai 30 kg,” ulasnya.

Untuk cargo, disebutkan Dedy pihaknya masih memberlakukan tarif lama tidak ada kenaikan.”Aturan biaya bagasi ini upaya manajemen untuk biaya operasional pesawat,” imbuhnya.

Berbeda dengan Garuda Indonesia, pihaknya memang tidak memberlakukan tarif bagasi karena sudah full service pada harga tiket yang dijual. Namun untuk kargo memang dinaikkan.

“Bagasi enggak naik, tapi kargo naik 100 persen, kami melihat tonase kiriman enggak berkurang pasca kita menaikkan tarif per 1 Januari,” kata Branch Manager Garuda Indonesia Cabang Pangkalpinang, Puji.

Sebelumnya, tarif kargo hanya Rp4.000/kg sekarang menjadi Rp8.700 dari 4.000/kg, dengan dalih untuk menutupi beban dan biaya operasional.
“Satu pesawat beda-beda kapasitas, kalau kita kargo per fligth 2 – 2,5 ton karena berbagi dengan bagasi penumpang,” sebutnya.

Sejauh ini, sebutnya, belum ada keluhan dari masyarakat atau perusahaan terkait kenaikan harga kargo ini, jika memang memberatkan pihaknya akan mencoba cek dan tidak tinggal diam apakah terkait harga ini.”Belum ada UMKM yang ngeluh, perihal kenaikan tarif bagasi, untuk beberapa manajemen maskapai,” katanya.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Babel, Elfiyena mengatakan sejauh ini ia belum menerima laporan terkait UMKM yang mengeluhkan biaya bagasi dan cargo yang diberlakukan maskapai penerbangan.

“Belum terdengar ada keluhan, umkm belum ada yang ngeluh, masih lancar saja. Cuma kita khawatir, ketertarikan orang membeli produk UMKM kita jadi enggan karena harus membayar bagasi,” jelasnya.

Hambat Kecepatan 10 Bali Baru

Terpisah, Sekda Pemprov Babel, Yan Megawandi menegaskan, kebijakan biaya bagasi dan kargo yang diterapkan oleh maskapai penerbangan akan menghambat kecepatan 10 destinasi wisata Bali baru yang dipersiapkan pemerintah pusat dan tidak hanya dirasakan Provinsi Babel.

Pemprov Babel, kata dia, sudah beberapa kali menyurati pihak maskapai untuk peninjauan kembali kenakaikan tarif ini.

“Tim dari DPRD minggu ini akan ke Jakarta antisipasi mencoba menormalkan situasi angkutan udara, dari sisi harga tiket kalau mungkin juga pengenaan cash harga bagasi, implikasi yang ditimbulkan masalah ini akan jadi hambatan dalam mengembangkan sektor unggulan termasuk sektor pendukung lainnya,” kata Sekda, Selasa (22/1/2019).

Sektor yang berdampak diantaranya adalah, restoran, hotel rumah makan, industri suvenir termasuk produk UMKM, termasuk beberapa produk sembako yang diangkut menggunakan pesawat, seperti cabai.

“Langkah secara spontan dilakukan, kami kelak akan melihat, tentu saja apa yang mungkin harus dilakukan apabila situasi tidak berubah,” sebutnya.

Ia berharap, ada penyempurnaan kebijakan soal tarif bagasi, karena kalau enggak bukan cuma Babel, tetapi 10 Bali baru yang diharapakan tumbuh akan berkurang kecepatannya.

Jika hal ini tidak ada perkembangan atau kebijakan, Sekda menegaskan Pemprov Babel saat ini juga melalui Dishub sedang mengkaji berbagai hal termasuk moda transportasi laut.

“Supaya terintegrasi pulau-pulau yang ada, kenaikan harga tiket orang akan bertanya apa alternatifnya, kapal laut akan diupayakan,” tandas Sekda. (nov/6)

Related posts