Link Pendek Semakin Asyik

  • Whatsapp
Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si
Guru SMK Negeri 1 Kelapa, Bangka Barat, Babel

“Anak-anak, kumpulkan tugas tutorialnya melalui link pendek ya”. Demikian pinta penulis kepada siswa-siswi Kelas XI Multimedia SMK Negeri 1 Kelapa usai menugaskan pembuatan tutorial dari materi yang dipraktikan siswa selama kegiatan pembelajaran.

Tren pembelajaran di sekolah saat ini, kian berkembang. Jika dulu siswa hanya mengenal pembelajaran tatap muka secara konvensional, maka kini ada tren baru yang memadukan antara kelas tatap muka dan kelas online, atau dikenal dengan istilah Blended Learning. Begitupun dengan sistem penilaiannya, bila dulu guru hanya mengenal asessment secara konvensional dimana kertas menjadi media utamanya, lalu kini ada tren baru yang dinamakan paperless asesment, dimana kertas tak lagi menjadi primadona. Berangsur-angsur banyak guru yang melakukan sistem paperless assesment mulai dari soal tes daring, ujian online, bahkan sampai pada pengumpulan tugas secara paperless daring.

Bebicara mengenai tugas siswa yang dikumpulkan secara paperless daring, tentu saja yang dikumpulkan adalah file yang berada pada server internet. Biasanya para siswa penulis menyebutnya dengan istilah file cloud. Mereka sepertinya ingat betul tatkala mata pelajaran Komputer dan Jaringan Dasar di kelas X, penulis yang notabene adalah Guru Multimedia SMK Negeri 1 Kelapa mengajarkan metafora dari internet berupa cloud atau awan, karena diagram jaringan komputer sering digambarkan menyerupai awan sebagai abstraksi dari infrastuktur internet sangat kompleks yang berada didalamnya.

Semua orang tanpa kecuali bisa memiliki drive atau penyimpanannya sendiri di internet secara gratis. Ada banyak platform yang menawarkan fasiltas penyimpanan file gratis dicloud atau server internet. Cloud storage ini dipergunakan siswa penulis untuk mengumpulkan tugas berbentuk link, sebagaian siswa lainnya juga memanfaatkan cloud storage gratis ini sebagai backup/cadangan data-data penting dari laptop mereka, sehingga apabila suatu saat harddisk laptop mengalami masalah dan kemungkinan terparahnya data hilang dari harddisk, siswa masih memiliki data-data penting tersebut di cloud storage mereka.

Baca Lainnya

Cloud storage atau penyimpanan data digital pada server internet, sejatinya memang ditawarkan secara gratis dan berbayar. Ada banyak sekali platform di internet yang menawarkan fitur cloud storage, namun penulis hanya pernah menggunakan sepuluh platform cloud storage yang gratis. Cloud storage yang paling populer di seluruh dunia adalah google drive yang memberikan 15 GB kapasitas penyimpanan gratis. Selain itu, Platform Dropbox menawarkan kapasitas penyimpanan awan sebesar 2 GB gratis untuk setiap pengguna dan pengguna bisa mendapatkan ruang penyimpanan tambahan yang lebih besar sampai 16 GB apabila berhasil mengajak teman menggunakan dropbox ini.

Adalagi Onedrive besutan Microsoft yang membagikan penyimpanan awan gratis sebesar  7 GB, sama seperti Droobox yang memberikan tambahan ruang penyimpanan gratis apabila pengguna berhasil mengajak teman menggunakan Onedrive tetapi tambahan ruang penyimpanan gratis yang diberikan Onedrive sebanyak 8 GB. Selanjutnya Box yang memberikan 10 GB penyimpanan gratis untuk penggunaan pribadi, kemudian Mega yang menawarkan kapasitas penyimpanan gratis paling besar diantara platform lain yaitu 50GB.

Terakhir yang pernah penulis coba adalah Bitcasa ini memberikan ruang penyimpanan awan gratis sebesar 25 GB dan pengguna bisa mengakses data yang disimpan dari 3 perangkat yang berbeda dengan berbagai platform secara bersamaan.

Sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma selain mempunyai keterbatasan dari sisi kapasitas penyimpanan juga memiliki keterbatasan dari segi fitur. Salah satu dari sekian daftar keterbatasan dari segi fitur adalah alamat penyimpanan (link) yang panjang untuk mengakses file/data yang disimpan. Selain panjang seperti kereta api, link juga perpaduan antara huruf kapital, huruf kecil dan angka. Contohnya penulis bagikan salah satu link file soal tes daring untuk siswa seperti berikut ini: https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSdF5kP4EuZttb6cMkbkVCuF5SG89B8HlcWnWqdWtPAAtQjDpw/viewform?usp=sf_link.

Pastinya siswa akan mengalami kesulitan untuk mengetik ulang di browser ketika akan mengerjakan soal. Disisi lain, guru juga akan mengalami kendala yang sama ketika siswa mengumpulkan tugas berupa link dengan alamat yang sangat panjang. Beruntung penulis mengenal web penyedia fasilitas memperpendek link yaitu URL Shortener atau lebih familiar dengan nama Shortlink, sehingga link yang panjang di atas dapat penulis pendekkan menjadi: http://bit.ly/SoalTesDaring dan web penyedia layanan URL Shortener yang penulis gunakan adalah bit.ly.

Seperti namanya, Url Shortener digunakan agar link menjadi lebih pendek dan sederhana, sehingga mudah untuk diingat dan diketik ulang pada address bar di browser. Setahu penulis, Shortlink yang sering digunakan oleh sebagian besar guru dan siswa adalah Shortlink bit.ly, Shortlink ow.ly, Shortlink s.id, dan Shortlink tinyurl.com. cukup ketikkan nama-nama Shortlink di address bar browser maka otomatis browser akan menuju ke web yang bersangkutan.

Untuk menggunakan fitur URL Shortener sangat sederhana. Setelah melakukan registrasi dan aktivasi akun pada salah satu website di atas, pengguna melakukan sign in dan carilah kotak teks untuk diisikan alamat link yang panjang kemudian tekan enter dari keyboard atau tekan tombol yang tersedia semisal tombol Shorten/Create/Save tergantung web masing-masing. Link pendek atau shortlink default dari web akan ditampilkan setelah mengklik tombol eksekusi tadi namun jika pengguna ingin mengkustomisasi sesuai dengan keinginan, bisa diganti dengan cara menghapus default tulisan setelah tulisan alamat web URL Shortener yang ditandai dengan karakter “/”. Kemudian guru bisa menyalin/copy shortlink dan membagikannya kepada siswa atau siswa dapat menyalin/copy shortlink dan mengumpulkannya kepada guru pemberi tugas. Nah, tentu link yang pendek, semakin asyik bukan?(***).

Related posts