Lingkungan Hidup dan Covid-19

  • Whatsapp
Darman Suriah, S.Hut
Penyuluh Kehutanan Ahli Madya Dinas Kehutanan Prov. Kep. Babel

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah SWT menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar), ini menunjukan prilaku manusialah sesungguhnya yang melakukan perusakan di bumi”. (QS. Ar-Rum : 41).

 

World Environment Day atau Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Juni  demi meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif bagi perlindungan alam dan planet bumi sejak ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa tahun 1972.  Saat ini, sepertinya seluruh umat manusia di dunia baru menyadari bahwa alam merupakan penyangga kehidupan bagi masyarakat bumi.

Dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2020, yang mengangkat tema “TIME FOR NATURE”, membawa masyarakat internasional untuk lebih memahami bahwa kehidupan sangat bergantung dengan alam, baik untuk kebutuhan pangan, udara bersih, air, bahan obat-obatan dan jasa lingkungan lainnya. Selain itu, manusia juga perlu menyadari arti penting makhluk hidup lainnya seperti hewan (satwa) yang dalam berkehidupan saling bersinggungan sebagai makhluk penghuni bumi.

Baca Lainnya

Dalam webinar yang diselenggarakan Food and Agriculture of the United Nations ((FAO) di Roma tanggal 5 Juni untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup sedunia 2020, Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu menyampaikan bahwa pandemi ini, telah menunjukan ketergantungan yang sangat erat antara manusia, satwa dan lingkungan.  Kehilangan keanekaragamani hayati tidak hanya meningkatkan kerentanan manusia terhadap penyebaran penyakit, namun juga menjadi ancaman bagi sistem pangan, produksi pertanian, ekonomi  dan mata pencaharian masyarakat.

Didukung oleh pernyataan Sekretaris Eksekutif Convention on Biological Diversity (CBD) bahwa tekanan yang berlebihan kepada alam telah meningkatkan risiko penularan penyakit dari satwa liar kepada ternak maupun dari hewan kepada manusia. Direktur Jenderal Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (World Organization for Animal Health atau Office International des Epizooties/OIE) menambahkan, memfokuskan hubungan antara manusia, hewan dan lingkungan sangatlah penting dalam pengendalian kesehatan satwa dan manusia serta lingkungan. Ini mengingatkan kita jika kita merubah atau menghilangkan salah satu komponen dari jaringan keanekaragaman hayati, akan menyebabkan seluruh sistim berubah dan secara tidak langsung akan menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan manusia.

Timbulnya bencana pendemi Covid-19 menunjukan bahwa kita telah merusak keanekaragaman hayati. Maka secara tidak langsung kita juga telah  merusak sistem kehidupan manusia yang sangat nyata kita rasakan seperti adanya perubahan iklim. Perubahan iklim adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi menyebabkan terjadinya perubahan pada unsur-unsur iklim lainnya, seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan di udara, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara yang pada akhirnya merubah pola iklim dunia.

Perubahan iklim tersebut terjadi karena proses alam yang melibatkan gas rumah kaca, sehingga disebut dengan efek rumah kaca. Radiasi sinar matahari yang mencapai bumi dipantulkan kembali ke atmosfer bumi. Namun, tidak semua gelombang sinar matahari menembus atmosfer bumi, sebab ada gelombang cahaya yang ditangkap oleh gas-gas yang berada di atmosfer, atau gas rumah kaca yang berasal dari berbagai kegiatan manusia, terutama aktivitas industri dan setiap aktivitas yang menggunakan bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara, seperti penggunaan kendaraan bermotor dan penggunaan alat-alat elektronik).

Proses alamiah gas rumah kaca sebetulnya bermanfaat bagi kehidupan manusia, sebab membuat suhu bumi layak dihuni oleh manusia dan makhluk hidup. Namun, seiring dengan perkembangan industri yang semakin meningkat, penggunaan bahan bakar fosil yang tidak terkontrol, serta penebangan pohon dan hutan yang menjadi paru-paru dunia, menyebabkan akumulasi gas rumah kaca di atmosfer tidak terkendali. Akibat yang ditimbulkan adalah suhu di bumi mengalami peningkatan dan memberikan dampak yang serius bagi kelanjutan hidup penghuni bumi.

Respons alamiah makhluk hidup atas perubahan suhu itu adalah adaptasi melalui mutasi gen, seperti teori Darwin hingga Dobzhansky, termasuk virus dan segala makhluk renik mikroorganisme. Akibat desakan manusia, hewan dan hutan yang menjadi inang dan rumah mereka pelan-pelan menghilang. Cara terbaik untuk bertahan hidup adalah mencari inang baru, Mamalia paling dekat adalah manusia. Kita menyebutnya penyakit. Seolah-olah virus itu menyerang kita yang tak berdosa. Padahal, kitalah yang mengokupasi mereka.

Maka kehadiran virus corona yang ditularkan oleh burung, hewan laut, kelelawar hingga tenggiling di Wuhan itu bukan serangan, bukan pula cara balas dendam. Virus-virus itu masuk tubuh manusia dalam rangka rebutan ruang hidup dalam seleksi alamiah. Oleh karena itu, Pendemi Covid-19 juga memberikan pelajaran berharga bagi kita semua untuk menjaga keseimbangan alam. Ketika hampir semua negara melakukan Lockdown, kegiatan industri tutup secara global, transportasi udara turun sampai 96 %, mobilitas manusia turun mencapai 90 %, maka diberbagai belahan dunia mengalami perbaikan kualitas udara. Konsentrasi NO2 secara global menurun hampir 30 %. Begitu juga kualitas air juga mengalami perbaikan secara global analisis citra satelit data stasiun monitoring kualitas air di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga mendeteksi penurunan COD sebesar 21 % di sungai Brantas. Dari sisi keanekaragaman hayati meskipun terjadi tekanan bagi pengelola flora dan fauna yang berada di taman nasional, lembaga konservasi karena berkurangnya pengunjung menyebabkan alam juga memperbaiki dirinya sendiri.

Untuk itu, seiring dengan kehidupan manusia menjadi normal kembali, maka perbaikan kualitas lingkungan diharapkan tidak berhenti sering dengan kesadaran manusia yang meningkat dari kejadian pendemi ini. Oleh karena itu, konsep New Normal diharapkan akan bisa dimulainya bagaimana kita memaknai dan menghargai fungsi alam yang sesunguhnya, baik sebagai sistem penopang kehidupan, media, bahan produksi maupun farmasi. Selamat Hari Lingsungan Hidup Sedunia tahun 2020,mari kita kuatkan kerjasama dan kolaborasi dengan pendekatan One Health yang menjembatani kesehatan manusia, satwa, tumbuhan dan ekosistem“Save Forest Babel” Hutan Lestari Rakyat Sejahtera.(***).

 

 

Related posts