Lelaki Tuli dan Perempuan Bisu

No comment 460 views

Karya: Nurul Kurniasih

Masih teringat olehku, ketika awal bertemu dengan Bu Darsih–wanita tua yang berjalan tergopoh menuju rumah tinggalnya di ujung Jalan Merpati. Sebelum tiba di rumah, ia berhenti di hadapanku dan menawarkan jasa payung. Yaa kala itu hujan turun sangat deras, dan aku menunggu hujan reda di teras rumah tua berjarak tiga rumah dari rumah Bu Darsih.
Aku tak paham apa yang ia ucapkan. Dia hanya menunjuk payung, hujan, dan rumah, menggunakan bahasa isyarat. Aku yang awalnya geleng-geleng kepala menolak, akhirnya luluh juga setelah kilatan petir tampak jelas membelah langit.
Setelah tiba di rumahnya yang sederhana, aku baru tau bahwa Bu Darsih tidak bisa berbicara layaknya manusia biasa, alias bisu. Untuk berkomunikasi denganku selain berbahasa isyarat, ia menuliskan apa yang ingin dikatakan pada selembar buku.
“Terimakasih banyak Bu atas bantuannya, saya pamit dulu, Assalammualaikum,” ucapku ketika hendak beranjak dari rumahnya, setelah hujan reda.
Bu Darsih tersenyum, mengangguk. Ia bahkan memberiku handuk untuk menyeka hujan yang membasahi sebagian rambutku.
Sejak pertemuan itu, aku jadi sering ke rumah Bu Darsih. Bercerita dengannya, membaca perjalanan hidupnya yang ia tulis ketika kami berdialog. Bu Darsih berusia 57 tahun, sedangkan suaminya Pak Kamil 63 tahun dan tidak bisa mendengar.
Ah, ini bak cerita dongeng saja pikirku. Bagaimana bisa si tuli dan si bisu tinggal serumah, bahkan membina rumah tangga hingga puluhan tahun.
Tapi ini realita, aku bisa melihat raut wajah bahagia Bu Darsih. Meskipun tidak dikaruniai anak, tapi pasangan ini membuatku berdecak kagum. Mereka tak pernah berhenti berkomunikasi, tak pernah lupa pada Sang Pencipta, dan yang utama adalah selalu bersyukur.
“Dinda sudah lama, apa sudah makan?” tanya Pak Kamil ketika melihatku asyik bercerita dengan Bu Darsih.
Aku mengangguk, dan membuka mulut mengucapkan kata iya. Meskipun ia tak bisa mendengar, tapi aku tau Pak Kamil paham apa yang aku ucapkan.
“Masakan ibu enak Pak,” timpalku seraya menunjukkan jempol.
Bu Darsih tersenyum dan segera masuk ke dapur, membawakan secangkir kopi pahit untuk Pak Darsih, sambil menginstruksikan agar Pak Kamil meminum kopinya.
Tanpa seorang anak dan tinggal berdua, aku berpikir pasangan ini pasti kesepian. Tapi ternyata aku salah. Setelah selesai memasak dan mencuci setiap hari Bu Darsih membawa makanannya ke panti asuhan di jalan raya perkampungan ini. Dia begitu senang membagikan makanannya kepada anak-anak panti. Bahkan tak sungkan menyuapi anak yang masih belum bisa makan sendiri. Bu Darsih bilang, ia bahkan membantu di panti asuhan itu hingga ba’da Zhuhur.
Sementara Pak Kamil, yang bekerja di kebun milik Pak Kades dari pagi hingga siang, dan sorenya juga kerap bercengkrama dengan anak-anak panti asuhan.
Bu Darsih bilang, kalau melihat anak-anak panti, mengobati rasa keinginannya untuk memiliki anak. Aku yang juga pernah ikut Bu Darsih ke panti itu pun merasakan betapa rindunya dia akan anak. Betapa ia menginginkan seorang anak.
“Allah itu tidak tidur, Din. Dia tahu yang terbaik untuk umatnya, tinggal bagaimana kita mensyukuri nikmat itu. Kalau kecewa, ya jelas ibu merasa sedih karena tidak dikaruniai keturunan, tapi ibu bersyukur dengan takdir ini, artinya Allah sayang ibu. Allah itu memilih ibu sebagai orang pilihan untuk mengalami semua ini. Ini ladang amal bagi ibu dan bapak,” tulis Bu Darsih ketika aku menanyakan perasannya yang begitu mendambakan anak.
Mataku langsung berkaca-kaca. Butiran bening dari mataku tak mampu ku bendung. Langsung ku peluk tubuh tua Bu Darsih. Aku bisikkan padanya bahwa aku sayang padanya, dan anggap saja aku anaknya. Ia lantas memelukku erat dan kami menangis bersama.
Keluarga ini, meskipun sederhana tapi tampak bahagia. Mereka tidak kaya, tapi mereka menikmati setiap rezeki yang diberikan Yang Maha Esa. Pak Kamil bilang kalau melihat orang lain bahagia dirinya juga ikut bahagia. Oleh karena itulah keluarga ini kerap berbagi kepada anak panti. Bagi Pak Kamil, kalau memuliakan anak yatim, Allah akan memberikan pahala yang besar.
Sungguh, aku merasa damai berada ditengah Pak Kamil dan Bu Darsih. Aku banyak belajar bagaimana cara menghargai hidup, memaknai hidup dan menjalani kerasnya hidup.
Berbeda dengan keluargaku, papa dan mama super sibuk hingga tak pernah tau apa yang dilakukan anaknya. Beruntung aku punya Mbok Asih yang menjagaku kala mama dan papa tak di rumah. Selepas Mbok Asih meninggal, aku memilih kuliah jauh dari rumah, tinggal sendiri tak jauh dari kampus. Aaah, aku iri pada kehangatan keluarga Bu Darsih.
“Bu, Dinda pamit dulu, mau menyelesaikan tugas kuliah, bulan depan Dinda ke sini lagi,” kataku menyalami tangan Bu Darsih dan Pak Kamil.
Keduanya tampak sedih melepas kepergian ku. Terlebih setelah selama enam bulan terakhir aku tinggal di rumah Bu Darsih, dan menjadi anak angkatnya.
“Gak lama kok Bu, Pak, Dinda janji pasti kembali,” ujar ku berusaha tersenyum dan menyakinkan mereka. Sementara air mataku pun sudah mengalir deras membasahi pipi.
Orangtua angkat ku ini bahkan mengantarkanku ke jalan raya. Hingga aku menaiki bus menuju kota, mereka melambaikan tangan dan aku pun masih tak tega meninggalkan bapak dan ibu yang semakin tua. Entahlah, rasanya lebih pahit dan sedih ketika ditinggal mama sewaktu berdinas ke luar kota.
Satu bulan kemudian, aku kembali ke rumah Bu Darsih. Ku bawakan alat bantu dengar untuk bapak, agar ia kembali bisa mendengar. Rencanya aku akan membawa Pak Kamil ke kota untuk berobat ke dokter.
Saat ku ketuk pintu rumah dan mengucapkan salam, tak ada suara yang menjawab. Berkali-kali ku ketuk tak juga membuah hasil. Aku kemudian menuju panti asuhan yang berjarak 100 meter dari rumah. Di panti pun tak kudapati Bu Darsih atau Pak Kamil. Hanya pengurus panti yang memberitahuku bahwa Bu Darsih di puskesmas. Aku berlari sekuat tenaga menuju puskesmas, langsung menerobos masuk ke ruangan mencari Bu Darsih, dan ku dapati Pak Kamil duduk sendiri dengan air mata berlinang.
“Ada apa Pak, mana Ibu?” tanyaku panik dan setengah berteriak agar Pak Kamil sedikit mendengar ucapanku.
Ia menunjuk ruang perawatan, dimana Bu Darsih dengan mata terpejam terbaring di atas kasur. Aku panik. Aku takut, dan terkejut. Langsung ku peluk Bu Darsih sambil menangis.
Suster bilang, kalau Bu Darsih perlu dirujuk ke kota. Penyakitnya tak bisa diobati hanya dengan obat di puskesmas. Ibu juga butuh oksigen untuk bernafas karena sesak nafas lantaran penyakit jantung.
Aku langsung meminta dokter membawa Bu Darsih ke kota. Perihal biaya, aku akan berupaya meminta bantuan papa atau mama. Yang terpenting Bu Darsih bisa selamat.
Tiga hari di rumah sakit, kondisi Bu Darsih mulai membaik. Aku yang kerap menyuapinya bubur. Ku basuh wajah dan tubuhnya dengan air. Ketika waktu sholat tiba, Bu Darsih ku bersihkan agar ia bisa sholat.
Sore itu, ketika ba’da Ashar, aku menunggu Pak Kamil yang tak kunjung ke ruang perawatan ibu. Aku cemas, berfikir kalau bapak tidak tau jalan ke kamar ibu. Lama menunggu, aku mendapat kabar bahwa di mushola rumah sakit ada seorang kakek-kakek yang meninggal usai sholat Ashar.
Perasaanku langsung tak enak. Bergegas ku tinggalkan ibu yang saat itu tertidur pulas, aku berlari menuju mushola. Dan sungguh tak ku sangka, Pak Kamil yang berpamitan akan sholat ternyata sudah meninggal. Ku peluk tubuh kurus Pak Kamil, aku menangis sejadi-jadinya, hingga petugas kemudian membawa jenazah bapak angkatku ke ruang jenazah.
Aku berjalan pilu, menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar Bu Darsih. Aku berpikir bagaimana memberitahu hal ini pada ibu, sementara ibu mengidap penyakit jantung.
“Mana Bapak?” tanya Bu Darsih dengan bahasa isyarat.
Mataku bengkak, aku hanya bilang bapak duduk di luar, mencari angin, mencari kegiatan. Tapi ibu sepertinya punya firasat lain. Ia terus mendesak hingga akhirnya aku menceritakan yang sebenarnya.
Bu Darsih menangis, tetapi ia terlihat cukup tenang. Dia hanya menggenggam erat tanganku dan mengelus rambutku.
“Ibu sabar ya, ini takdir Allah, kita semua juga akan kembali pada-Nya,” kataku berusaha menenangkan. Ia mengangguk.
Malam itu, setelah minum obat, Bu Darsih bilang kalau ia ingin istirahat, ingin tidur. Aku mengangguk, ku kecup keningnya, dan aku pun ikut tertidur sambil menjaga Bu Darsih di sisi kanan kasurnya.
“Mbak, kami mau mengganti infus Ibu,” lirih perawat membangunkanku.
Aku terbangun, dan berdiri. Tapi ketika aku menyentuh tangan Ibu, tangan itu begitu dingin. Lagi-lagi aku panik dan bertanya pada suster. Dengan sigap juru rawat itu langsung memeriksa beberapa bagian tubuh ibu. Dan akhirnya berkata bahwa ibu sudah tiada.
Innalilahi wa innailaihirojiun. Aku tak kuasa menahan tangis dan kesedihan. Bapak dan ibu adalah pasangan sejati, ditakdirkan selalu bersama, baik di dunia maupun di akherat.
Usai pemakaman bapak dan ibu, semua peninggalan mereka ku serahkan kepada panti asuhan. Bahkan rumah yang mereka tempati pun aku minta untuk dikelola oleh panti, sebagaimana pesan bapak ketika sebelum meninggal.
“Terimakasih Pak, Bu, atas kasih sayang kalian untukku. Terimakasih untuk pelajaran yang berharga ini. Terimakasih untuk ilmunya. Sungguh aku begitu banyak belajar dari kisah hidup Bu Darsih dan Pak Kamil. Selamat jalan,” gumamku dalam hati.
Aku berjalan gontai menuju halte bus, meninggalkan desa ini dengan begitu banyak kenangan dan pelajaran. Meninggalkan duka dan kasih sayang. Aku berjanji, ketika kelak menikah dan memiliki anak, akan ku sayangi anak-anakku seperti Bu Darsih dan Pak Kamil yang sangat tulus menyayangiku. Agar kelak mereka merasakan kasih sayang yang utuh dari orang tua. Juga pelajaran penting bahwa tidak selamanya materi menjadi modal utama, tetapi perhatian dan rasa syukur melebihi materi apapun. (*)

Pangkalpinang, September 2017

No Response

Leave a reply "Lelaki Tuli dan Perempuan Bisu"