Lelaki Plontos Diujung Ramadan

No comment 216 views


Karya: Rusmin

Sore itu senja tak menampakkan dirinya. Tak ada ornamen pelangi yang mengiringinya. Sinar mentari pun menitikkan airmatanya tertutup awan kelabu. Sementara rembulan belum datang dengan cahaya keindahannya yang tak terperikan.
Kedukaan senja tampaknya mengiringi kepergian lelaki plontos diujung waktu berbuka puasa. Makanan istimewa yang dipesannya dari koki istimewa kini hanya menjadi penghias meja yang mahal. Tak ada yang menikmatinya. Tak ada yang melahapnya. Rekan-rekannya kocar kacir lari entah kemana. Jurus langkah seribu. Padahal tadi mareka baru saja usai tertawa terbahak-bahak di meja bernomor istimewa itu menunggu waktu berbuka yang sakral.
Lelaki plontos itu tak menyangka sama sekali, diujung senja ini dirinya harus menerima turbelensi hidup yang amat pahit. Padahal usai berbuka dirinya akan langsung berangkat ke kampung halamannya dengan pesawat terakhir yang sudah dipesannya jauh-jauh hari. Terbayang dalam kelopak matanya, kegembiraan keluarganya saat dirinya akan pulang mudik. Terbayang dalam pandangannya bagaimana orang-orang datang ke rumahnya menunggu amplop putih darinya yang berisikan angpao. Terbayang dalam otaknya tentang janjinya kepada pengurus masjid yang telah siap menemuinya untuk mengambil dana bantuan renovasi masjid. Terbayang. Dan mobilnya yang membawanya telah tiba disebuah rumah tahanan di pinggir kota.
Dikalangan rekan seprofesinya, lelaki plontos itu dikenal sebagai politisi hebat. Narasinya garang dan sangat heroik dalam membela nasib rakyat kecil. Itu adalah ciri khasnya. Setiap diksinya selalu dikutip para jurnalis untuk ditenarkan kepada pembaca berita.
“Kalau sebagai wakil rakyat saya hanya diam dan membisu, lebih baik saya mundur sebagai anggota parlemen yang terhormat ini. Lebih bahagia saya sebagai kuli di pasar,” ucapnya kepada para jurnalis media.
Usai dinobatkan sebagai wakil rakyat, lelaki plontos itu mengalami revolusi kehidupan yang sangat dashyat. Bagaimana tidak, lelaki plontos yang tadinya hanya sebagai pemilik kios kecil di pasar kecil sebuah daerah kecil yang tak terkenal, kini namanya melejit dalam blantika panggung politik yang tak bertuan. Namanya kini menjadi incaran para kuli tinta untuk dimintai pendapat dan komentarnya untuk masalah bangsa.
Dan lelaki plontos itu makin terkenal dengan ciri khasnya rambut botak sehingga memudahkan orang untuk mengenalnya. Apalagi hampir tiap hari nama dan wajahnya nongol diberbagai stasiun televisi dengan komentarnya yang pedas.
Lelaki plontos itu makin termasyur karena sikap kedermawanannya. Saat seorang siswa tak bisa melanjutkan pendidikannya, lelaki plontos itu menunjukan kesejatiannya sebagai wakil rakyat yang peduli. Tak semua media memberitakannya. Tak pelak usai pertunjukan di panggung media itu, setiap hari selalu saja kantongnya bocor dengan urusan kedermawanannya. Dia menjadi begitu bahagia saat bisa membantu masyarakat kecil. Tak ada kata tidak yang terlontar dari mulutnya kalau soal bantuan dana.
“Kalau ada masyarakat yang tidak bisa sekolah karena tak ada biaya hubungi saya. Kalau ada masyarakat tak bisa makan, hubungi saya. Kalau ada rakyat yang sakit dan tidak bisa membayar biaya berobat hubungi saya. Saya siap membantu mareka dengan sekuat tenaga. Dan saya adalah wakil mereka. Dari suara mereka saya hidup. Dan saya berkewajiban membantu mereka, para rakyat itu. saya berutang budi kepada masyarakat,” ungkapnya di media televisi dengan nada heroik.
“Dan rumah saya terbuka lebar untuk rakyat. Handphone saya stand by 24 jam untuk menerima keluhan dari masyarakat,” lanjutnya dengan diksi berapi-api yang ditayangkan sebuah media televisi.
Kini lelaki plontos itu hanya menyesali nasib. Hanya itu yang bisa dia lakukan kini. Tak ada lagi narasi heroiknya. Perilaku purbanya terendus aparat hukum. Dibalik kedermawanannya, lelaki plontos itu tak cuma berpredikat sebagai wakil rakyat yang terhormat, namun berprofesi sebagai makelar proyek. Sejumlah perwakilan kepala daerah selalu menghubunginya untuk minta bantuannya dalam soal anggaran dari pemerintah pusat. Maklum dalam badan anggaran namanya adalah salah seorang wakil rakyat yang disegani kawan maupun lawan. Tak ada anggaran yang diusulkannya tak lolos. Semuanya mulus bak jalanan tol. Tak ada jalan terjal.
“Saya siap membantu para bapak-bapak semua untuk anggaran pembangunan di daerah. Semua bisa kita kondisikan dan terkondisikan dengan baik selagi kita bisa saling membantu,” ungkapnya seraya menggosokan jempol dengan jari telunjuknya.
“Siap Pak Wakil Rakyat. Kan tidak ada makan siang yang gratis di negeri ini,” jawab wakil dari pemerintah provinsi yang menemuinya. Dan mereka pun tertawa terbahak-bahak sehingga membuat beberapa pengunjung restoran terkenal itu menoleh ke arah mereka.
Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya pasti jatuh juga. Sepandai-pandainya lelaki plontos itu menutupi dirinya dengan narasi garangnya di media sebagai alat perlindungan dirinya dan pencitraan, waktu tak akan mampu dibohongi. Dan senja itu, disaat semua orang sedang menunggu saat yang sangat istimewa, waktu berbuka puasa, dirinya kena ciduk aparat hukum.
Kini lelaki plontos itu menikmati buka puasanya dalam ruangan sel tahanan yang sempit. Tak ada lagi makanan kesukaannya yang tersaji. Tak ada. Tak ada lagi. Sementara di media televisi, berita tertangkap dirinya menjadi trending topik. Toboali, Bangka Selatan. (**)

Print Friendly
No Response

Leave a reply "Lelaki Plontos Diujung Ramadan"