by

Lelaki Mencari Ramadhan

-Cerpen-486 views

Karya: Rusmin

Malam makin menjauh. Cahaya dari langit makin memburam. Kerlap kerlip dari gugusan bintang dilangit mulai mengecil. Sekecil sinar lampu teplok dari dalam rumah penduduk yang makin memudar. Seiring dengan makin menyusutnya minyak yang ada di dalamnya. Suara kokok ayam mulai bersahutan.

Tapi tidak dengan lelaki bersandal jepit itu. Kakinya terus melangkah dan melangkah dengan semangat yang membara. Keletihan yang tergambar dari potret dirinya seolah tak digubrisnya. Dia terus melangkah dan melangkah. Menyusuri jalanan yang mulai menipis aspalnya dimakan tikus-tikus kantor yang rakus yang wajahnya sering menghias koran bahkan suaranya menggelegar di media televisi yang sering dilihatnya di TV milik tetangganya.

Lelaki itu tersenyum, ketika melihat sebuah masjid. Letak masjid itu agak menjorok ke dalam. Lelaki itu kembali tersenyum ketika melangkah memasuki halaman masjid itu. Seiring makin ramainya orang-orang, tua muda, lelaki dan perempuan, serta anak-anak mendatangi masjid dengan wajah-wajah yang penuh kesumringahan. Azan subuh mulai terdengar. Berkumandang dengan syahdunya. Menggetarkan nurani umat penghuni bumi. Tanda pengingat untuk segera bersujud kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Tak terkecuali lelaki itu.

Segera dia membersihkan seluruh tubuhnya dengan air wudhu yang dingin. Dinginnya air wudhu mengerogoti seluruh persendian tubuhnya yang makin kurus. Dimakan derita yang berkepanjangan. Dilumat kepedihan yang tak terbataskan.

Lelaki itu masih dalam masjid usai sholat subuh. Para jemaah masjid sudah mulai meninggalkan masjid. Kembali pulang ke rumah mereka masing-masing dengan tatapan jiwa yang optimis dalam menantang kehidupan dunia yang makin ganas dan tak berperikemanusian. Tapi tidak dengan lelaki itu. Dia masih dalam masjid. Ya, masih dalam masjid.

Suaranya terdengar merintih. Penuh dengan ratapan jiwa yang amat pedih tiada tara. Seolah-olah ada sebuah kepedihan yang terpendam yang teramat dalam. Sementara airmatanya mulai membasahi ubin masjid. Membasahi celana panjang satu-satunya yang bersatu dengan dirinya. Dinginnya air mata yang menetes di ubin masjid menjalar hingga ke nuraninya yang terdalam. Mengalir ke dalam tulang tubuhnya yang makin ringkih.

Lelaki itu tersentak.

” Ya, Allah Yang Maha Pengampun. Ampuni hambamu. Ampuni hambamu,” ujarnya dengan suara yang penuh sesal berkali-kali dengan diselingi deraian tetesan air mata yang terus mengalir dari kelopak matanya. Jiwanya bergetar. Nuraninya tersentak. Teringat perbuatan masa lalunya yang terlihat nyata di depan matanya. Ya, didepan matanya dia seolah melihat episode demi episode masa lalunya yang kelam. Tergambar dengan jelas dan lugas tanpa rekayasa ataupun editing.

Comment

BERITA TERBARU