by

Lelaki Lima Waktu

Karya: Rusmin

Malam makin merenta. Hening. Seorang lelaki bercelana jeans belel memasuki pekarangan masjid. Malam makin bening. Sebening air wudhu yang menguyur sekujur tubuhnya. Airmatanya mengalir deras saat bersujud. Basahi sajadah masjid. Mulutnya terus komat-kamit. Mengagungkan asma Allah. Berzikir dan berzikir. Doa terus dilafazkannya. Suaranya tersendat-sendat. Menahan sesuatu.
“Ya, Allah Yang Maha Pengampun. Ampuni dosa hamba Ya Allah. Ampuni hamba MU yang lemah ini yang telah bergelimpangan dengan dosa,” suaranya meratap sembari tangannya menengadah. Memohon ampunan.
Malam semakin menua. Makin menjauh. Sejauh perjalanan spiritual lelaki yang telah kembali ke rumahnya. Masjid.
___

Cahaya mentari siang itu sangat terik. Sinarnya bercahaya dengan garangnya dalam menerangi bumi. Seorang lelaki bergegas menuju sebuah masjid. Langkahnya tergesa-gesa. Seakan-akan ada dorongan yang mengusik jiwanya untuk segera tiba di masjid. Suara azan Zhuhur telah berkumandang dengan indahnya. Empat kali bersujud, empat kali pula airmatanya menetes hingga membasahi sajadah masjid. Hatinya terguncang.
Sebaris doa keluar dari mulutnya.
” Ya, Allah Yang Maha Pengasih. Ampuni hamba Mu. Ya Allah yang penuh dengan noda. Ampuni hamba MU Ya, Allah,” suaranya terdengar bergetar seakan dibaluti rasa sesal yang sangat luar biasa.
Ada rasa penyesalan yang tak terperikan dalam sanubarinya sebagai manusia. Sebagai hamba yang tak berdaya. Doa usai dilafazkannya. Tenangkan jiwanya. Sakralkan nuraninya. Segurat kesumringahan terpatri dari wajahnya. Senyumnya mengembang.
___

Azan Ashar dari masjid bergema dengan indahnya. Sebuah panggilan untuk segera bersujud kepada Sang Maha Pencipta. Lelaki itu tiba di masjid saat Imam akan memulai memimpin sholat. Lelaki itu berada di barisan belakang. Empat kali bersujud, empat kali pula airmata lelaki itu mengalir dari kelopak matanya. Membasahi sajadah masjid. Ada rasa sesal yang tak terperi dari lelaki itu. Dan saat berdoa, memohon ampunan suaranya bergetar.
“Ya, Allah Yang Maha Penyayang. Ampuni segala kesalahan hamba. Ampuni segala dosa hamba MU, Ya Allah,” suaranya bergetar. Jiwanya seolah terguncang. Ingat akan masa-masa silam yang berlumuran dosa. Masa-masa silam yang sudah ditinggalkannya.
___

Senja akan segera tiba. Lembayung dengan warnanya yang merah-kemerahan mulai terlihat. Diorama alam yang tak tergambarkan dengan kata-kata, dengan narasi bahkan dengan tulisan. Tak habis-habisnya. Sudah saatnya waktu Sholat Magrib akan tiba. Apalagi suara azan telah berkumandang dari masjid. Lelaki berkain sarung itu telah tiba di masjid. Sinar lembayung menghantar kedatangannya ke masjid.
Tiga kali bersujud, tiga kali pula lelaki bersarung itu meneteskan air mata. Basahi sajadah masjid. Linangan airmatanya menyiratkan sebuah rasa penyesalan yang mendalam, betapa kecil dirinya di mata Sang Maha Pencipta. Tak ada artinya. Hanya doa yang dia lafazkan dengan suara terbata-bata.
“Ya, Allah Yang Maha Pengampun. Ampuni dosa hamba. Ampuni segala kesalahan hamba MU yang lemah ini, Ya Allah,” suaranya tersendat.

___

Suara azan dari masjid telah berkumandang. Saatnya Sholat Isya tiba. Lelaki berpakaian safari tiba dengan nafas yang terengah-engah. Badannya yang tambun tak mampu menahan gejolak jiwanya untuk segera bersujud kepada Sang Maha Pencipta. Empat kali bersujud, empat kali lelaki berpakaian safari itu meneteskan air mata hingga membasahi sajadah masjid. Suaranya pun tersendat-sendat saat memohon ampunan. Suaranya tersekat.
“Ya, Allah yang Maha Pemurah. Ampuni dosa hambaMu. Ampuni kehilapan hambaMu sebagai manusia yang lemah dan tak berdaya ini,” suaranya lemat. Seolah tersekat dikerongkongan. Tak ada lagi gelegar suaranya sebagaimana yang diperlihatkan lelaki bersafari itu di panggung politik. Tak ada sama sekali.
___

Cahaya rembulan mulai menjauh. Menjauh. Geliat mentari mulai terhenyak dari mimpi panjangnya. Waktu subuh telah tiba. Berbondong-bondong orang mendatangi masjid. Tak terkecuali sang penguasa itu. Dengan langkah kaki yang teramat cepat seolah enggan tertinggal dengan jemaah lain, sang penguasa itu pun tiba di masjid. Dua kali bersujud, dua kali pula airmata menetes dari kelopak matanya. Membasahi sajadah masjid. Suaranya tersekat saat melafazkan doa.
“Ya, Allah Yang Maha Pengasih. Ampuni dosa hamba Mu. Ampuni segala dosa hamba MU yang tak berdaya ini,” suaranya melemah. Sangat lemah bahkan hampir-hampir tak terdengar. Seolah hanya desis yang keluar dari mulutnya.
Padahal saat dirinya memimpin rapat, suaranya menggelegar meminta bawahan bekerja, bekerja dan bekerja.
___

Pagi itu sinar cahaya matahari sangat indah. Suara kemenangan terus bergemuruh. Dilantunkan dari seluruh penjuru masjid. Tak henti-hentinya. Suara takbir dan tahmid terus bergemuruh. Para lelaki itu bahagia menyambut hari kemenangan. Sejuta kesumringahan terpancar dari wajah mereka. Sejuta kegembiraan terpancar dengan jelas. Mereka adalah kaum perebut kemenangan. (**)

Comment

BERITA TERBARU