Lelaki Diatas Angin

No comment 307 views


Karya: Rusmin

Lelaki setengah baya itu menghela nafas panjang. Panjang sekali sebagaimana panjangnya musim kemarau tahun ini yang merotokkan berbagai ramalan. Sebatang rokok kretek merk terkenal dibakarnya. Asapnya membumbung tinggi. Ingin berkompetisi dengan awan.
“Ah…,” desah lelaki itu sembari kembali menyemburkan asap rokoknya.
“Kalau saja…,” desah batinnya.
Sudah tiga hari ini lelaki itu bergulat dalam sebuah penderitaan hati. Hatinya berkecamuk. Nuraninya terusik hebat. Sementara itu belum ada jawaban yang patut dia berikan. Pengembaraannya selama tiga hari tiga malam belum membuahkan hasil. Padahal dia berharap pengembaraannya akan memproduk sebuah jawaban yang menuntaskan permasalahan hakiki.
“Saya tunggu jawabanmu Mas dalam tiga hari ini. Kalau tidak maka saya akan datangi keluargamu biar mereka tahu apa yang telah engkau lakukan terhadap diriku selama ini,” pinta seorang wanita muda.
Malam makin melarut selarut duka di hati lelaki itu saat mendengar pinta wanita muda itu.
“Saya hanya ingin kamu bertanggungjawab atas aksimu kepada ku selama ini,” sambung wanita muda itu.
“Tapi kamu kan…,” potong lelaki yang bernama Rian itu.
“Apa karena saya tidak hamil lantas kamu bisa seenaknya membiarkan aku dalam kenestapaan ini? Apa kamu itu pikir kalau saya hamil baru kamu bertanggungjawab?,” tanya wanita muda itu. Malam makin syahdu. Kesahduannya melahirkan kegelapan. Kegelapan jiwa bagi dua anak manusia ini.
Sebagai tokoh muda terpopuler, Rian memang pantas menjadi idola publik. Kegantengannya tak kalah dengan artis papan atas yang sering seliweran di televisi. Pengetahuannya tak kalah klas dengan para narator yang sering muncul di acara talkshow televisi nasional. Hanya nasib yang membuatnya cuma terkenal di daerahnya saja.
Keflamboyan Rian memang menjadi energi baru bagi para kaum hawa di kota kami. Wajah gantengnya seringkali menghias media massa lokal. Narasi garangnya menjadi sumber energi baru bagi para aktivis Kota kami.
“Kalau Rian sudah bicara di koran maka negeri ini seolah berguncang,” ujar seorang aktivis muda saat mereka kongkow-kongkow di sebuah warkop terkenal di Kota Kami.
“Iya. Gagasan yang dilontarkannya selalu up to date. Jadi referensi semua kalangan,” sambung yang lain.
“Dan itu yang membedakan Rian dengan kita. Ha ha ha,” ujar aktivis yang lain sambil tertawa ngakak. Mentari makin bersinar dengan panasnya. Rian makin terpojok saat keluarga tunangannya mendesaknya untuk menikah putri mereka. Hubungan selama hampir 10 tahun membuat keluarga sudah mulai berpikir untuk meresmikan hubungan sang putri dengan Rian. Apalagi usia putri mereka sudah sangat pantas untuk menjadi seorang istri. Sementara penghasilan Rian sebagai seorang aktivis hukum pun sudah tak perlu diragukan sumber pendapatannya untuk menghidupi seorang istri.
“Saya minta nak Rian mengabarkan kepada keluarga untuk segera datang melamar putri kami,” pinta Sang Ibu tunangannya.
“Benar sekali nak Rian. Apalagi hubungan kalian kan sudah lama. Kami tak mau ada desas desus yang tak mengenakkan dari orang sekitar kami. Maklumlah mulut manusia,” sambung Sang Ayah tunangannya.
“Iya Ayah dan Ibu. Tapi kan putri belum selesai kuliahnya. Maksud saya biar dia selesaikan dulu sekolahnya. Jadi konsentrasinya tak terpecah belah,” jawab Rian berapologi.
Rian sangat menyesali perkenalaannya dengan wanita muda yang berstatus sebagai birokrat itu. Pertemuan dialog yang diselenggarakan sebuah lembaga hukum telah membuat keduanya menjadi akrab. Keflamboyanan Rian menjadi daya tarik bagi wanita yang bernama Vony. Pengetahuan Rian yang luas membuatnya makin jatuh hati kepada lelaki muda itu.
Dan ketika malam terang benderang, keduanya justeru menderu nafas dalam satu ranjang yang sama untuk menuntaskan hasrat sebagai manusia dewasa. Tak ada rasa sesal dari keduanya. Yang ada hanya senyum kebahagian.
“Apakah malam ini masih berlanjut,” tanya Vony saat keduanya usai menuntaskan hasrat manusiawi.
“Aku mengagumimu sebagai wanita dewasa yang istimewa,” puji Rian.
Vony tersipu. Cecak di dinding pun lari. Malu menyaksikan adegan dua manusia berbeda jenis itu.
Rian tersentak, ketika sopir taksi yang membawanya menanyakan tujuannya. Sudah tiga jam mereka memutari Kota tanpa arah. Sudah demikian lama perjalanan ini bagi sopir taksi. Namun Rian belum juga menemukan lokasi tujannya. Dan ketika dilihatnya sebuah tulisan berhuruf Arab pada sebuah papan nama, Rian pun meminta sopir taksi untuk menghentikan mobilnya.
“Stop Pak,” pinta Rian.
Dengan langkah pasti Rian memasuki gerbang sebuah pesantren. Dan dengan langkah pasti Rian menghampiri pesantren itu dengan hati bahagia. Rian bertekad untuk mengabdikan ilmunya sebagai pengajar di lembaga itu sekaligus menimba ilmu agama sebagai bekal hidupnya nanti.
Kebahagiannya makin bertambah istimewa ketika kedatangannya di pesantren itu disambut dengan azan subuh yang indah. Rian pun bergegas untuk membasuh tangan, kaki dan seluruh anggota badannya yang lain untuk segera berserah diri kepada Sang Maha Pencipta.
Mentari pagi mulai menyinari bumi dengan sinarnya yang indah sebagaimana indahnya hati Rian menapak masa depannya yang indah dalam lingkungan baru untuk kehidupan yang baru sebagai manusia baru. (***)

No Response

Leave a reply "Lelaki Diatas Angin"