Lelaki di Warung Persimpangan Jalan

Tidak ada komentar 226 views

Karya: Rusmin

Setiap hari, lelaki bertubuh besar itu selalu berada di warung di persimpangan jalan itu. Tubuh besar menjadi ciri khasnya. Walaupun bertubuh besar, lelaki berkulit putih itu amat luwes bergerak melayani permintaan pelanggan yang selalu datang silih berganti seiring dengan perjalanan waktu.
Ketika sore para tukang becak yang datang ke warung itu. Sementara dipagi hari para karyawan kantor mendominasi warung yang berjualan makanan khas daerah seperti empek-empek, pecel bahkan lempah kuning ikan dan tulang iga sapi.
Lelaki bertubuh besar yang biasa dipanggil Mang Ali oleh para pelanggannya, terkenal dengan senyumnya yang khas. Mang Ali percaya keramahan adalah awal dari kepercayaan pelanggan, sehingga dirinya selalu menekankan pentingnya memberi senyuman kepada mereka yang datang ke warung itu.
“Berikanlah senyum kalian kepada para pelanggan yang datang. Dengan senyuman bukan hanya membuat pelanggan dan pembeli bahagia, namun mareka merasa sangat dihormati di warung ini,” petuah Mang Ali kepada para pekerja di warungnya.
Sudah tiga minggu warung Mang Ali tutup. Tak pelak para pelanggannya kalang kabut mencari tempat untuk bersantap siang. Maklum soal perut bukan perkara mudah. Tidak semua lidah bisa gampang berinteraksi dengan makanan. Apalagi baru akan memulai sesuatu yang baru. Bisa-bisa perut mngalami kontraksi yang sangat tajam.
“Kok warung Mang Ali tutup. Mau kemana nih kita bersantap siang,” keluh seorang pelanggan saat melihat warung Mang Ali tutup.
“Iya. Sudah tiga minggu kayaknya warung ini tutup,” sela pelanggan setia Mang Ali yang lain.
“Ada apa ya dengan Mang Ali? Jangan-jangan beliau sakit,” celetuk pelanggan yang lain dengan nada suara sendu.
Berita tutupnya warung Mang Ali menjadi trending topik di kalangan pelanggannya. Ada yang bilang Mang Ali pulang kampung. Ada yang bilang Mang Ali mau naik haji. Bahkan ada yang bernarasi sangat ekstrem bahwa Mang Ali bangkrut.
“Kalau bangkrut sih tidak mungkin,” bela seorang pelanggan.
“Lho siapa tahu. Maklum perekonomian era kini. Duit susah dicari. Pekerjaan sangat susah,” jawab pelanggan lainnya.
“Bisa saja. Kan selama ini Mang Ali juga menerima hutangan dari para pelanggan. Mang Ali kan orang yang tak tegaan kalau melihat orang mau makan tapi tak punya duit,” sela yang lain.

###

Para pelanggan mulai tenang ketika minggu keempat, warung Mang Ali mulai terlihat buka kembali. Bahkan kini jumlah pembantunya pun bertambah. Ada seorang wanita cantik yang kini ikut menemani dirinya saat melayani pelanggan. Wanita berhijab itu tampak sangat akrab dengan Mang Ali. Usia mereka terpaut sangat jauh. Ibarat bumi dan langit. Dan bisik-bisik pun mulai melanda para pelanggan. Ada yang bilang itu anak Mang Ali. Ada pula pelanggan yang bilang itu istri baru Mang Ali. Bahkan yang sangat ekstrem ada yang bernarasi bahwa itu istri kedua Mang Ali.
“Cantik amat ya wanita di warung Mang Ali itu,” celetuk seorang pelanggan saat mareka datang ke warung Mang Ali pada saat siang yang sangat panas sinar mentari.
“Anaknya barangkali,” ujar yang lain.
“Jangan-jangan itu istri muda Mang Ali. Ha..ha..ha,” seloroh seorang pelanggan sambil tertawa ngakak.
Pelanggan akhirnya tahu bila wanita cantik di warung Mang Ali ternyata istri baru Mang Ali. Perkawinan mereka dilaksanakan di kampung. Menurut cerita pembantu di warung Mang Ali, wanita cantik itu adalah pilihan istri Mang Ali yang pertama, mengingat dirinya sebagai wanita tidak bisa lagi melayani Mang Ali sebagaimana seorang istri karena sakit yang diderita sang istri tua.
Walaupun sebenarnya Mang Ali tidak mau menikah lagi, namun istrinya tetap memaksakan sehingga Mang Ali akhirnya mengikuti kemauan istrinya dan anaknya yang semata wayang. Bahkan Mang Ali sebenarnya sudah enggan membuka warungnya. Apalagi Mang Ali tahu bagaimana jasa istrinya dalam membangun warung makanan ini hingga menjadi besar dan terkenal. Tapi istrinya tetap bersikeras agar warung itu tetap buka. Akhirnya Mang Ali mengalah.
“Oh, begitu kisahnya,” ujar seorang pelanggan.
“Lantas sekarang dimana Mang Ali? Kok tidak pernah kelihatan lagi di warung ini,” tanya seorang pelanggan lainnya.
“Beliau di kampung mengurus istrinya. Sementara istri baru mengurus warung ini,” jelas pembantu warung Mang Ali.
Langit siang itu sangat cerah. Sinarnya mengobarkan semangat bagi penghuni di bumi yang makin panas kehidupannya dan berlomba-lomba mengabaikan hati nurani demi kesenangan pribadi tanpa memikirkan efek negatifnya bagi manusia lainnya. Toboali, Bangka Selatan. (*)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Lelaki di Warung Persimpangan Jalan"