by

Lelaki di Bawah Pohon

-Cerpen-149 views

Karya: Rusmin

Pohon raksasa di pekarangan sekolah itu masih tetap rimbun. Batangnya masih tetap besar. Dahan-dahannya masih kokoh. Tegak berdiri bak patung.
Pohon raksasa di halaman sekolah itu tetap berdiri tegar. Kekokohannya menyimbolkan sebuah kharisma. Padahal usianya sudah 30 tahun. Ya sekitar 30 tahun. Saat itu Tahar masih menjadi pengajar muda di sekolah yang terletak di ujung kampung.
Dan ketika sore ini, lelaki yang sudah beruban itu datang, pohon itu masih tetap tegar bak pendekar. Masih tetap meraksasa. Masih kokoh bertengger sebagai ornamen sekolah. Padahal sekolah itu telah beberapa kali mengalami renovasi.
Bagi Tahar, pohon yang berdiri kokoh itu adalah sebuah pohon kehidupan yang memberinya banyak pelajaran. Beragam inspirasi lahir dari otaknya yang memang cerdas sebagai guru muda. Banyak buah pikirannya lahir saat berada di bawah pohon raksasa itu.
Waktu Tahar muda masih bekerja sebagai pendidik di sekolah itu. Hampir setiap sore dia menjadikan kerindangan pohon itu sebagai tempatnya bekerja. Termasuk mengoreksi hasil pekerjaan murid-muridnya pagi hari. Di bawah pohon raksasa itu ada meja dan kursi yang terbuat dari bahan sisa bangunan sekolah. Sebuah sisa yang termanfaatkan. Bahkan terkadang Tahar muda menjadikan bangku dari kayu di bawah pohon raksasa itu sebagai ruang untuk beristirahat walaupun hanya sejenak.
“Di bawah pohon ini saya mendapatkan angin sepoi. Sebuah kesejukan yang tak tergambarkan dengan kata-kata,” ujar Tahar Muda saat ditanya teman-teman seprofesinya di sekolah.
“Tapikan lebih enak istirahat di rumah Pak. Lebih nyaman,” sahut temannya.
“Saya merasa ada kenyamanan yang luarbiasa saat berada di bawah pohon itu. Ada keteduhan yang luarbiasa menyelinap dalam jiwa,” jawab Tahar.
Mendengar jawaban Tahar Muda, kawan-kawannya cuma terdiam. Toh setiap orang punya persepsi masing-masing tentang filosofi hidup.
Tahar Muda juga masih ingat saat pertama kali mengabdi di sekolah kampung itu. Kepala sekolah dan beberapa guru mengingatkan dirinya agar tak selalu berada di bawah pohon besar itu.
“Memangnya ada apa Pak dengan pohon itu? Saya lihat pohon itu pohon yang biasa saja. Tidak ada istimewanya,” ungkap Tahar Muda.
“Saya lihat dahannya banyak yang sudah rapuh. Ntar kalau Bapak sering di bawah pohon itu bisa ketimpa dahannya,” ujar Pak Kepala Sekolah.
“Iya, Pak. Bisa heboh kampung ini kalau ada guru yang tertimpa dahan pohon,” sambung Pak Zikri rekannya sesama guru.
Tahar Muda cuma tersenyum mendengar nasehat kepala sekolah dan rekannya. Dia masih ingat ketika untuk pertama kalinya sebagai lelaki dewasa berani menyampaikan isi hatinya kepada sesama guru. Dan ketika senja mulai beranjak pulang di bawah rimbunnya dedaunan pohon besar itu, dia menyatakan cintanya kepada Ayu sesama rekan gurunya.
“Apakah aku boleh menyunting hatimu untuk ku jadikan ratu dalam istanaku? Apakah aku diizinkan untuk menjadikan dirimu sebagai ibu dari anak-anakku?” tanya Tahar Muda.
Dan betapa kecewanya Tahar Muda saat Ayu menjawab dengan diksi yang berbalutkan penolakan.
“Waktu telah datang. Aku pun akan dibawa pergi oleh lelaki pilihan hatiku. Ungkapan hati Kanda datang terlambat saat hatiku telah diguyur cinta lelaki lain,” jawab Ayu. Kerindangan dedaunan pohon raksasa itu menjadi saksi senja itu. Tapi kini, semua peristiwa itu telah dilupakan Tahar. Lelaki luka yang kini tinggal di kota dan menjadi pejabat di Dinas Pendidikan Kota ingin kembali datang ke kampung untuk mengenang masa silamnya sebagai seorang pendidik.
Sudah hampir 30 tahun dirinya tak pernah berkunjung ke kampung ini. Maklum pekerjaan telah membuatnya terpenjara. Bangunan sekolah tempatnya mengajar dulu pun telah berubah total. Semua bangunan direnovasi. Ciri khas arsitektur moderen yang mempesona.
Hanya pohon raksasa itu yang masih asli. Masih tetap berdiri dengan kokoh. Ketegarannya masih berwibawa sebagai tanda keraksasaannya.
Dan ketika Tahar hendak meninggalkan halaman sekolah, sebuah panggilan mengarah kepadanya. Arah suara panggilan itu dari bawah pohon raksasa itu.
“Pak Tahar kan?” tanya seorang perempuan setengah baya dan seumuran dengannya. Wajahnya masih menyimpan kerupawanan masa lalu.
“Kamu Ayu?” tanya Tahar setengah tak percaya.
“Iya, Pak. Bapak bersama keluarga ke sini?” tanya Ayu.
“Mana suamimu? Aku ingin berkenalan. Waktu kamu menikah dulu aku tak bisa datang. Maklum aku sudah pindah tugas di kota. Hingga detik ini aku belum berkeluarga,” jawab Tahar.
“Aku masih sendiri Pak,” jawab Ayu.
Jantung Tahar hampir copot saat mendengar jawaban Ayu. Dan saat itu pula di bawah rindangnya pohon raksasa itu, lelaki yang sudah beruban itu kembali menyatakan cintanya.
“Apakah Ibu masih membuka hati untuk seorang lelaki tua ini?” tanya Tahar.
Ayu enggan menjawab. Tapi tatapannya mesra. Kerling matanya memberi isyarat. Dan Tahar paham. Perempuan itu menjawab keinginannya yang sempat tertunda.
Senja seolah menjadi saksi perjalanan keduanya menuju kebahagian. Senja yang mulai beranjak pulang menghantarkan keduanya bersama menuju arah yang sama. Pulang ke rumah cinta mareka yang tertunda. (***)

Comment

BERITA TERBARU