Lelaki Bercelana Jeans

  • Whatsapp

Karya Rusmin

Ketika malam mulai melarut, lelaki bercelana jeans itu selalu datang ke surau. Biasanya itikaf. Dan usai Sholat Subuh berjemaah, lelaki muda itu langsung meninggalkan surau. Setidaknya perilaku ini selalu terlihat oleh para jemaah masjid, terutama dimalam 10 terakhir Ramadan. Tentu saja, kehadiran lelaki bercelana jeans itu di Surau menjadi topik hangat pembicaraan para jemaah masjid. Mareka selalu bertanya-tanya siapa lelaki itu. Apalagi usai Sholat Subuh berjemaah, lelaki muda itu biasanya langsung pergi sehingga tak ada interaksi dengan para jemaah.
“Pak ustad siapa lelaki bercelana jeans itu?,” tanya seorang jemaah masjid usai sholat Subuh.
“Iya, Pak Ustad. Usai sholat Subuh langsung kabur. Tak ada tegur sapa sama sekali,” sambung seorang jemaah yang lain.
Pak Ustad tersenyum mendengar pertanyaan para jemaah. “Surau ini kan rumah Allah. Siapa saja berhak untuk bertemu Allah. Apakah ada larangan bagi umat muslim untuk sholat di masjid pakai celana jeans?” tanya Pak Ustad dengan wajah tersenyum. Para jemaah terdiam. Tak ada yang menjawab. Hening.
Disebuah masjid yang lain, para jemaah juga sering melihat adanya seorang lelaki bercelana jeans sering datang ke surau saat malam menuju sepertiga malam. Saat rembulan mulai terkantuk-kantuk dengan sinarnya yang mulai temaram. Saat kokok ayam mulai mewarnai bumi dan saat mentari mulai terbangun dari mimpi panjangnya. Malam itu malam kedua puluh satu Ramadan. Sinar rembulan bercahaya. Indah sekali. Keheningan mulai terasa, ketika lelaki bercelana jeans itu mulai menyambangi surau. Usai mengambil wudhu, lelaki itu langsung masuk masjid. Dia beritikaf. Sementara mulutnya komat-kamit sambil tangannya menengadah. Suaranya makin mengecil. Airmata tampak mengalir di kedua pipinya. Membasahi sajah masjid.
“Assalamualikum,” sapa Pak Ustad.
Lelaki itu menoleh. Senyum khas Pak Ustad membuatnya terkejut. Dia langung berdiri. Tapi sebuah kode membuatnya batal untuk berdiri.
“Silahkan adik teruskan zikirnya,” ujar Pak Ustad ramah dengan senyum khasnya.
Dan seperti biasanya usai sholat Subuh lelaki muda bercelana jeans itu langsung meninggalkan Surau. Beberapa warga melihat. Langkahnya tampak tergesa-gesa. Saat di tikungan pemukiman, lelaki itu tak terlihat lagi. Beberapa warga yang berusaha membuntutinya tak melihat apa-apa. Kehilangan jejak.
“Saya lihat sendiri Pak Ustad. Waktu di tikungan itu, dia langsung menghilang. Arahnya ke hutan kecil,” lapor seorang jemaah kepada Pak Ustad.
“Benar sekali Pak Ustad. Langkahnya bergegas. Seolah-olah ada yang dikejarnya,” ungkap jemaah yang lainnya.
“Barangkali beliau itu sedang ada kegiatan sehingga terkesan terburu-buru,” jawab Pak Ustad.
Subuh ini tak terlihat lelaki bercelana jeans itu. bahkan dia pun tak beritikaf di masjid di sepertiga malam seperti biasanya. Para warga justru dilanda kehebohan yang luar biasa. Di dalam masjid ada sebuah tas besar yang isinya uang ratusan juta.
“Uang siapa ini?” tanya para jemaah dengan nada keheranan.
“Apakah ini uang lelaki bercelana jeans itu?” sambung jemaah yang lain.
“Mari kita lihat. Siapa tahu milik jemaah masjid yang tertinggal,” ajak Pak Ustad.
Saat dibuka tas itu berisikan uang. Nilainya besar sekali. Dan di dalam tas itu ada secarik surat. Saat dibaca Pak Ustad hanya tertulis bahwa dana dalam tas itu untuk renovasi surau yang terbengkalai. Tas yang berisikan uang besar juga ditemukan para jemaah di sebuah masjid yang sering didatangi lelaki bercelana jeans itu pada spertiga malam. Isi suratnya sama. Uang dalam tas itu untuk perbaikan masjid yang belum selesai. “Alhamdulillah, Allah telah melimpahkan rezekinya buat masjid ini,” ujar Pak Ustad.
“Jadi lelaki bercelana jeans itu yang menyumbangkan uang ini untuk masjid?” tanya jemaah.
“Ternyata lelaki itu orang kaya dan dermawan ya Pak Ustad,” celetuk jemaah yang lainnya.
“Sebagai jemaah masjid dan pengurus masjid uang ini amat berguna bagi perbaikan masjid. Soal siapa yang menyumbangnya, biar Allah yang membalas kebaikannya. Yang terpenting doa kita agar masjid ini terenovasi menjelang Idul Fitri terkabul,” jawab Pak ustad.
“Ayo kita sholat Subuh,” ajak Pak Ustad.
Sinar mentari mulai terlihat kemerahan di ufuk timur. Sinarnya mulai menyinari bumi bersahutan dengan kokok ayam yang mulai menggemakan suaranya meresonansi bumi. Sementara suara deru kendaran di jalanan pun mulai terdengar nyaring mengornamen bumi seiring derap langkah manusia memulai kehidupan dan menantang kehidupan yangmulai terasa ganas. (***)

Related posts