by

Lelaki Berbaju Hitam

-Cerpen-289 views

Karya: Rusmin

Usai Sholat Isya, kegaduhan kecil terjadi dalam masjid. Seorang lelaki berwajah asing memicu insiden kecil itu. Kegeraman para jemaah memuncak hingga menjalar ke ubun-ubun. Serapah pun terlontar kepada lelaki berpakaian hitam-hitam itu. Dengan gesit Ketua Masjid segera mengambil langkah nyata. Dan semua orang meninggalkan masjid dengan jiwa yang lapang.
“Ini bulan Syawal. Bulan kita saling memaafkan. Tak ada guna kita ribut dalam rumah Allah,” kata Pak Ketua Masjid dengan suara yang bijaksana.
“Tapi Pak,” sambung seorang jemaah yang langsung narasinya dipotong Pak Ketua Masjid.
“Tak ada tapi-tapian lagi. Sekarang kita saling memaafkan insiden kecil tadi. Hanya soal salah paham saja. Ayo saling memaafkan,” perintah Pak Ketua Masjid kepada para jemaah dan lelaki itu.
Para jemaah masjid pun dengan terpaksa menjabat tangan lelaki berbaju hitam itu yang tampak tersenyum seolah mendapat apologi dari Ketua Masjid.

___

Namun para jemaah masjid dan warga kampung memang merasa sangat terganggu dengan kehadiran lelaki asing yang datang ke kampung mereka. Semenjak kehadiran lelaki asing yang selalu berpakaian serba hitam itu, membuat suasana kehidupan warga kampung kurang kondusif. Setidaknya terlihat dari banyaknya laporan yang masuk ke meja kerja Pak Kades. Mulai dari sering meminta makanan hingga meminjam uang kepada para warga yang hidupnya masih dibawah garis kemiskinan. Bahkan terkadang di dalam masjid lelaki berpakaian hitam itu sering memprovokasi para jemaah untuk berjihad di luar negeri.
“Apa sih maunya lelaki itu?” tanya seorang jemaah masjid.
“Iya. Kerjaanya hanya memprovokasi kita saja untuk berbuat nekat,” sela jemaah yang lain.
“Kayak tak ada kerjaan lain lagi, selain menghasut kita,” keluh yang lainnya.
“Yang penting, kita tak mengikuti ajakannya. Kita jangan terpengaruh dengan doktrinnya. Itu saja resepnya,” ujar Pak Ketua Masjid.
Sebagai pemimpin kampung, Pak Kades pun pusing tujuh keliling memikirkan solusi terbaik untuk menenteramkan warganya yang dari dulu selalu hidup damai dan bahagia, walaupun kehidupan ekonomi warganya morat-marit. Kening Pak Kades sudah lebar kerutannya. Sementara warna rambut di kepalanya kian banyak terlihat berwarna putih.
“Saya sudah banyak menerima laporan berupa keluhan dari warga tentang aktivitas lelaki berbaju hitam itu di kampung kita ini,” terang Pak Kades saat bertemu dengan Pak Ketua Masjid dan perwakilan warga kampung di ruangan kerjanya yang luas karena baru saja dibangun menggunakan Dana Desa.
“Benar, Pak Kades. Kita tak bisa tinggal diam melihat kondisi yang terjadi di masyarakat saat ini. Harus ada langkah kongrit biar warga tak resah,” sambung Pak Ketua Masjid.
“Jangan sampai kami para warga main hakim sendiri Pak Kades,” sambung seorang warga.
“Saya paham dan sangat memahami keresahan warga. Secepatnya saya akan berkoordinasi dengan instansi terkait. Dan tolong para warga jangan main hakim sendiri karena itu bukan budaya kampung kita ini,” ajak Pak Kades dengan nada suara penuh kearifan sebagai seorang pemimpin.
Sementara sinar matahari dengan teriknya menghantam ruang kerja Pak Kades. Pendingin ruangan dalam ruang kerja itu seolah tak berdaya menghadapi teriknya sinar mentari siang itu. Keringat mengucur deras hingga membasahi baju para warga yang ada dalam ruangan Pak Kades.

___

Sore itu, disebuah warung kopi di ujung kampung, lelaki berbaju hitam tampak mengobrol dengan para warga. Obrolannya sangat serius. Tak ada senyum dari wajahnya. Suaranya bak orator politik yang sedang kampanye di panggung Pilkada. Intonasi suaranya, kadang meninggi. Kadang merendah. Sementara para warga hanya menjadi pendengar setia. Tak ada yang menimpali. Mareka hanya berdiam diri mendengar celotehan lelaki berbaju hitam itu. Maklum dalam benak pikiran para warga kampung, hanya ada satu pikiran sederhana saja. Bagaimana besok anak dan istri bisa makan walaupun ala kadarnya, nasi putih plus ikan asin. Itu saja tak muluk-muluk.
“Kita harus membela agama,” seru lelaki itu dengan suara tinggi.
“Saatnya kita berjihad melawan ketidakadilan di negeri ini dengan cara-cara kita. Ya, dengan cara-cara kita,” lanjutnya dengan suara yang masih meninggi. Setinggi kepakan burung elang yang menghiasi langit biru pada saat senja akan tiba.
Tapi Lelaki berbaju hitam itu tampaknya mulai putus asa. Maklum tak ada sama sekali respon dari warga atas ajakannya. Sejumlah warga yang berkumpul di warung kopi itu hanya membisu sembari menghabiskan sisa-sisa kopi mereka.
Lelaki itu kecewa. Sangat kecewa sekali. Wajahnya membersitkan kekecewaan yang tiada tara. Wajah yang menggambarkan sebuah rasa kekecewaan yang sangat luar biasa. Dendam seolah bergejolak dalam hatinya. Dalam pikirannya hanya ada sebuah tekat, yakni balas dendam.
“Saatnya nanti, kalian akan tahu siapa aku,” desisnya dalam hati dengan balutan nurani yang kecewa atas sikap para warga terhadap ajakannya.

___

Dan warga kampung akhirnya geger. Sebuah pasukan khusus anti teror mendatangi kampung mereka tengah malam buta, disaat para warga sedang bermimpi indah tentang kehidupan esok pagi. Pasukan khusus itu telah mengepung rumah lelaki berbaju hitam itu. Teriakan keluar, terdengar dari sebuah pengeras suara. Menggagetkan warga yang kemudian berduyun menuju tempat kejadian perkara. Tampak sejumlah pasukan anti huru hara telah bersiaga penuh di sekitar rumah lelaki itu dengan persenjataan lengkap. Dan hanya dalam hitungan menit, lelaki berbaju hitam itu digiring keluar rumah oleh pasukan khusus dengan pengawalan yang super ketat.
Kilatan blitz kamera dari para wartawan terus menerpa wajahnya. Demikian pula dengan sorot kamera para kameramen televisi mengarah kepada wajahnya yang tampak tersenyum penuh kemenangan. Sejuta senyuman dia umbarkan kepada warga kampung yang menontonnya saat dibawa pasukan khusus itu ke dalam sebuah mobil khusus dengan pengawalan super ketat.
Lelaki itu seolah merasa menang, setelah berhasil melukai sejumlah orang di sebuah tempat perbelanjaan dengan aksi bomnya. Dia merasa dendamnya telah terpenuhi. Sekaligus memberikan sebuah pembuktian kepada warga kampung bahwa dirinya tak omong kosong, walaupun kini harus menghadapi masalah hukum karena melukai orang-orang yang tak bersalah. Sebuah aksi yang sebenarnya sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun di muka bumi ini.
Malam makin menjauh. Suara sirene mobil pasukan khusus yang membawa lelaki berbaju hitam itu pun telah menjauh. Menjauh dari kampung dan para warganya yang kembali hidup tenang dan damai. Warga pun kembali pulang ke rumah masing-masing untuk menyongsong hari esok yang penuh dengan kedamaian dan telah tercipta selama ini di kampung mereka. (**)

Comment

BERITA TERBARU