Lebaran Pertama Tanpa Ayah

No comment 267 views

Karya : Musda Quraitul Aini
Siswi SMPN 1 Tukak Sadai

Di sebuah ruangan yang dipenuhi beberapa meja kerja, beberapa diantaranya telah ditinggalkan pemiliknya, beberapanya lagi masih terlihat diduduki oleh sang pemilik yang sedang asyik mengotak atik komputer. Memang saat itu, hari sudah mulai malam. Tampak beberapa bintang di langit yang seakan-akan beradu terang dengan lampu-lampu di sepanjang jalanan ibukota. Satu per satu orang di ruangan itu mulai meninggalkan meja kerjanya. Karena hari sudah semakin malam, dan suasana pun menjadi sunyi. Namun, tampak seorang wanita yang masih serius menatap layar komputernya, sesekali ia memperhatikan tumpukan kertas putih di pangkuannya kemudian kembali menatap layar komputernya.
“Sampai malam, Buk?” tanya seorang Cleaning servis.
“Iya Pak, lembur.” Jawabnya dengan ramah.
“Mau saya buatkan teh atau kopi?” kata Cleaning servis menawarkan.
“Tidak usah, Pak. Tadi saya udah buat” kata si wanita itu.
Memang tampak secangkir teh yang masih diminum setengahnya di sela-sela tumpukan berkas yang ada di meja kerja wanita tersebut. Si cleaning servis pun meninggalkan wanita itu kemudian ia melanjutkan pekerjaannya membersihkan ruangan tersebut.
****
Cahaya matahari mulai muncul, langit tampak cerah hari itu. Dinginnya pagi masih terasa menusuk nusuk ke tulang. Terdengar riuh di sana, sangat ramai. Jalanan setapak disesaki oleh orang-orang yang mondar –mandir ingin mencari berbagai keperluan hidupnya. Para pedagang pun seperti memiliki cara masing-masing untuk menarik minat pembeli. Ada yang berteriak dengan lantang menawarkan dagangannya, ada yang menggelar seluruh dagangannya di atas terpal yang dibentangkan, ada juga yang menyetel lagu dangdut untuk menarik minat pembeli sekaligus menghibur dirinya sendiri. Di sudut lain, tampak seorang perempuan berkeredung biru bermotif berjalan pelan menyusuri jalanan setapak itu. Dari raut wajahnya menandakan wanita itu sudah berusia senja. Tangan kanannya memegang sebuah bungkusan plastik warna hitam, sementara yang kiri memegang erat sebuah dompet jadul. Dengan berdesak-desakan bersama pengunjung lain, wanita itu menyusuri jalanan sembari melihat-lihat sekeliling. Tampak seperti mencari suatu tempat. Di sepanjang jalan, tak henti-hentinya pedagang menawarkan barang dagangannya kepada wanita tersebut. Mulai dari sayuran, ayam atau daging, sangkar ketupat, sampai baju baru, mereka tawarkan kepada wanita itu, namun tak dihiraukannya. Setelah berjalan cukup lama, wanita itu berhenti di sebuah kios. Di dinding kios tertulis “Doni Cell. Jual/Beli: HP baru/second, aksesoris hp, dan terima servise hp”. Wanita itu menghampiri pemilik kios.
“ada yang bisa saya bantu, Buk?” tanya pemilik kios.
“Tolong perbaiki HP saya, Mas!” katanya sambil membuka bungkusan hitam dan menyerahkan isinya.
“Saya periksa dulu ya Buk. Ibu duduk dulu” kata pemilik kios.
Setelah beberapa lama, si pemilik kios kembali.
“Maaf Ibu, tapi sepertinya HP Ibu tidak rusak, hp Ibu baik-baik saja” jelas si pemilik kios.
“Tapi mengapa anak saya tidak pernah menghubungi saya” kata wanita tersebut.
Mendengar hal itu, si pemilik kios tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa diam. Si Ibu pun meninggalkan kios dengan kesedihan yang begitu mendalam.
****
Jam di dinding masih menunjukkan pukul 07. 30 WIB, ruangan di kantor itu masih tampak sepi, karena jam masuk kantor jam 8 pagi. Baru 1-2 orang terlihat datang di sana. Seorang cleaning service terlihat sedang membersihkan ruangan itu. Tak lama, satu per satu pegawai mulai berdatangan. Seorang pegawai menghampiri meja di sudut ruangan.
“Sudah datang kamu, Tih.” Katanya kepada seorang wanita manis di meja tersebut.
“Iya. Masih ada kerjaan yang harus diselesaikan, jadi pergi pagi.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Kejar setoran nih, hehehe” ledeknya sambil tertawa.
“ahahaha.. bisa aja kamu. Biar gak ada kerjaan lagi aja pas libur nanti. Besok kan udah cuti bersama” katanya.
“emang rajin kamu, Tih. Kemarin malam lembur, hari ini datang pagi langsung kerja. Aku salut sama kamu” katanya sambil mengacungkan jempol. ”Oh, ya tahun ini mudik gak?” lanjutnya.
“Hmm.. belum tau, Wan” jawabnya singkat.
“ oh.. ya udah. Aku balik ke meja dulu ya.” Katanya sambil meninggalkan Ratih.
Ratih pun menghentikan pekerjaannya, ia teringat kepada ayahnya. Diambilnya sebuah foto dari laci mejanya. Itu foto dirinya bersama kedua orang tuanya. Sudah satu tahun lamanya, ia tidak menemui orang tuanya. Terakhir ia pulang saat ayahnya meninggal dunia karena sakit. Tak terasa, air mata menetes di pipinya, sesekali wanita berkaca mata itu menyeka air matanya. Ia memang sangat sensitif bila berhubungan dengan ayahnya. Baginya, sosok ayah merupakan kekasih pertama dirinya. Setiap anak perempuan memang sangat dekat dengan ayahnya. Dulu, ketika terlambat pulang ke rumah, memang ibu yang selalu menelpon menanyakan keberadaan dirinya, namun ayahnya yang selalu menyuruh ibu menelepon untuk mengetahui keberadaanku. Ayah selalu membawakan makanan kesukaanku setelah pulang bekerja. Seorang ayah memang pintar menyembunyikan kasih sayang kepada anaknya. Beda dengan seorang ibu yang secara terang-terangan menunjukkan kasih sayang kepada anaknya, kasih sayang seorang ayah tesembunyi dalam sikap diamnya.
Suara telepon menyadarkan Ratih dalam lamunannya. Tertulis nama ibu di layar handphone-nya. Dalam hati, Ratih bertanya-tanya mengapa ibu menelepon dirinya.
“Assalamualaikum, Buk.” Kata Ratih mengawali pembicaraan.
“Wa’alaikumussalam.. Tih, mudik enggak tahun ini. Ibu kangen.” Kata ibunya.
“Ratih belum tahu buk, masih banyak kerjaan yang harus Ratih kerjakan” jelas Ratih.
“apa tidak bisa ditunda dulu pekerjaanmu itu?” kata Ibu membujuk.
“belum tau buk, Bos Ratih ingin kerjaan itu diselesaikan secepatnya” jawab Ratih.
“baiklah kalau gitu, Nak. Enggak pa pa, kalau kamu tidak bisa pulang tahun ini. Jaga kesehatanmu ya, Nak. Ibu sayang kamu. Assalamualaikum” Tutup Ibu mengakhiri telepon.
****
Kesedihan melanda hati Ibunya. Dirinya sangat kangen dengan anak semata wayangnya itu. Namun, ia tidak bisa memaksakan kehendak kepada anaknya. Bila anaknya itu tidak bisa pulang tahun ini, praktis ia akan berlebaran sendiri di kampung. Maklum saja, setelah suaminya meninggal, ia seorang diri tinggal di rumah. Anaknya, Ratih sudah 4 tahun lamanya bekerja di Ibukota.
Di tempat lain, Ratih juga merasa sedih karena telah membohongi Ibunya. Di satu sisi, ia sangat ingin bertemu dengan Ibunya. Namun, jika ia pulang maka ia akan teringat kembali dengan kenangan indah bersama ayahnya. Pikirannya dilanda kebimbangan dan kesedihan yang begitu mendalam, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Siang harinya, Ratih memutuskan untuk makan siang di luar kantor. Ia memilih salah satu rumah makan ternama di kota itu. Selain, makanannya yang enak, harganya juga lebih murah dibandingkan rumah makan besar lainnya. Di sana, ia melihat seorang anak bersama ibunya sedang makan. Dari pakaiannya, mereka bukan orang berkecukupan. Anaknya sedang makan ayam goreng yang dipesankan ibunya. Anak itu terlihat sangat bahagia, ia makan dengan lahapnya. Sementara, si Ibu hanya memperhatikan anaknya yang sedang makan. Walau begitu, tampak kepuasan dan bahagia yang dirasakan di wajah si Ibu.
Ratih memberanikan diri untuk menghampiri si ibu, ia menanyakan mengapa dirinya tidak makan bersama anaknya. Si ibu menjawab, jika ia sudah merasa senang apabila anaknya dapat makan enak. Bagi seorang Ibu, itu sudah cukup. Tidak perlu makan enak juga, yang terpenting anaknya dapat makan. Dirinya sudah bahagia melihat anaknya bahagia. Kehabagiaan anaknya di atas segalanya. Mendengar itu, Ratih teringat kepada Ibunya kemudian ia pergi meninggalkan rumah makan tersebut.
Keesokan harinya, di luar rumah terdengar suara takbir berkumandang. Di mana mana, semua orang mengumandangkan takbir sebagai tanda suka cita. Seorang wanita tua sedang duduk di teras rumah. Dilihatnya tetangga samping rumah sedang berkumpul dengan keluarganya, mereka terlihat sangat bahagia. Tak terasa, air mata mengalir di pipinya yang sudah kempot karena tak bergigi lagi. Tampak sekali kesedihan di wajah yang sudah dipenuhi kerutan itu. Ia teringat dengan Ratih. Kemudian ia masuk ke dalam rumah. Di meja makan, sudah tersaji beberapa ketupat dan opor ayam. Makanan itu merupakan makanan kesukaan anaknya. Dirinya semakin bertambah sedih, lalu duduk dan hanya memperhatikan makanan di meja makan itu.
Terdengar seseorang mengetuk pintu, suara seorang wanita terdengar memanggilnya. Ia lalu beranjak ke luar rumah untuk membukakan pintu. Ternyata wanita itu adalah Ratih, anaknya. Tampak kebahagiaan di wajah senjanya, Ratih pun langsung memeluk ibunya dengan erat. Ratih memutuskan untuk pulang setelah melihat ibu dan anak di rumah makan kemarin. Ia tahu dirinya akan sedih karena teringat kembali dengan kenangan indah bersama ayahnya dan hanya berlebaran berdua bersama ibunya di rumah ini. Ia sadar kasih sayang seorang ayah memang tak mungkin didapatkannya lagi saat ini, namun ia masih memiliki seorang ibu yang menyayangi dengan sepenuh hati dan selalu menantinya pulang ke rumah.

Sadai, 11 Juli 2017.

No Response

Leave a reply "Lebaran Pertama Tanpa Ayah"