Lagi, Dinding Embung Gunung Mentas Ambruk

  • Whatsapp
AMBRUK- Dinding embung Air Baku Gunung Mentas di Dusun Kepayang, Desa Kacang Butor, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung terlihat ambruk, Jum’at (8/2/2019). Selain ambruk, pekerja proyek masih belum mendapatkan pembayaran upah sebesar 5 persen lagi dari pihak kontraktor. (foto: Bastiar Riyanto)

Pekerja Mengaku Tertipu Kontraktor
Lima Persen Sisa Upah belum Dibayar

BADAU – Meski sudah selesai dikerjakan, proyek pembangunan Embung Air Baku Gunung Mentas di Dusun Kepayang, Desa Kacang Butor, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung masih menyisakan berbagai persoalan.

Setelah belum lama ini proyek itu terlibat kisruh masalah upah pekerja, kini persoalan lain muncul. Dan diketahui sejak bulan Januari 2019 lalu dinding embung yang pembangunannya dikerjakan oleh PT Patimah dengan menggandeng PT Bangka Cakra Karya dalam kerja sama operasi (KSO) senilai Rp123.202.129.000 itu sudah tiga kali ambruk.

Dinding setebal 70 cm pada bagian bawah dan 50 cm di bagian atas yang terpasang miring itu tidak mampu menahan tekanan tanah sehingga ambruk. Mirisnya lagi, perusahaan masih menyisakan hutang kepada pekerja hingga lebih dari Rp100 juta. Kontraktor dikabarkan belum membayar upah pekerja sebesar 5 persen lagi dengan dalih menunggu pencairan lanjutan dari instansi terkait.

Dari pantauan Rakyat Pos, Jum’at (8/2/2019) sekitar 20 meter dinding embung yang ambruk dan belum ada tanda-tanda akan diperbaiki. Selain itu masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. Bata penahan tanah pinggir jalan di sekeliling embung pun belum terpasang. Terlihat batu bata berserakan di pinggir embung dan tanaman pohon pinus yang mati.

Seorang pekerja mengaku kecewa dan merasa tertipu oleh perusahaan saat mengetahui isi surat perjanjian pelaksanaan pekerjaan proyek dengan dana APBN tahun anggaran 2016, 2017 dan 2018 tersebut. “Saya tertipu,” sesal pekerja itu yang minta namanya tidak ditulis saat ditemui wartawan harian ini, Sabtu (09/02/2019).

Ironisnya, menurut pengakuan dia sesuai isi perjanjian itu upah pekerja sebesar 5 persen baru akan dibayar oleh perusahan pada tahun 2020 mendatang, setelah berakhirnya masa pemeliharaan proyek. Kekecewaan pekerja makin memuncak setelah mengetahui kepala manager proyek, Toni Rusmana saat ini malah tidak bisa dihubungi lagi ponselnya. “Mana ada perusahaan yang bayar upah setahun setelah pekerjaan selesai?,” kata pekerja yang mengaku tidak mengerti ketika disodori surat perjanjian kerja untuk ditandatangani.

Pekerja itu menambahkan, mereka seperti bekerja dijaman penjajahan dengan upah murah dan dihutangi. Untuk pasangan talud dinding embung saja mereka hanya dibayar Rp90.000. Setelah dipotong pajak dan retensi maka upah yang diterima hanya Rp80.000 per meter. Potongan itu belum termasuk uang rokok manager proyek yang selalu minta jatah setiap kali pembayaran upah. “Untuk pekerjaan pemasangan conblok, manager proyek minta jatah Rp5000,- per meter,” ungkap pekerja asal Jawa itu.

Dia juga mengungkapkan, salah satu penyebab ambruknya dinding embung adalah tanah timbunan yang menjadi bantal dinding dan telah dibangun jalan, tidak dipadatkan. Akibatnya tanah bergerak membentur dinding embung.

Terpisah, Pengawas Lapangan dari Dinas PUPR Provinsi Bangka Belitung, Sastra Sasmita juga mengaku dibuat pusing oleh kontraktor dari Jakarta itu. Menurutnya, Dinas PUPR Provinsi sudah berkirim surat kepada PT. Fatimah Indah Perkasa dan PT. Bangka Cakra Karya KSO. “Surat itu isinya instruksi kepada kontraktor untuk memperbaiki dinding embung yang ambruk,” jelas Sastra.

Sementara Manager Proyek, Toni Ruswana, ketika dilakukan konfirmasi Sabtu (09/02/2019) mengatakan, pihaknya akan segera memperbaiki dinding embung yang ambruk itu. “Akan segera kita tangani,” kata Toni. Namun dia membantah terkait sisa upah pekerja yang belum dibayar seperti dikeluhkan. “Yang belum dibayar itu retensi 5 persen dari sisa pekerjaan,” ungkap Toni.

Retensi tersebut menurutnya, ditandatangani diatas meterai dan akan dibayarkan setelah FHO, atau setelah berakhirnya masa pemeliharaan. Untuk diketahui, Proyek Embung Air Baku Gunung Mentas yang menggunakan anggaran negara ini belum ada tanda-tanda akan segera berfungsi. Untuk menjaga keamanan proyek yang 4 kali dilakukan Addendum itu, dilengkapi dengan 16 kamera CCTV yang terpasang di sekeliling embung. (yan/1)

Related posts