by

Kuliah Sembari Bekerja, Anak Muda Pasti Bisa

-Opini-88 views

Oleh : Gita Aprilia
Mahasiswi Fakultas Hukum UBB/Anggota Kosada Babel/Karyawati

Gita Aprilia

Penulis ingin berbagi cerita tentang nikmatnya hidup dengan kepadatan waktu semasa muda. Sukses bukan sekedar berapa banyak materi, bukan sekedar berapa tinggi jabatan, namun sukses juga tentang sebatas mana sebuah perjuangan. Kalimat ini ditegaskan Penulis agar masa muda tak terbuang sia – sia. Mungkin banyak orang berpikir kuliah sambil bekerja itu sangat melelahkan apalagi kuliah di universitas negeri yang ternama.
Lelah itu pasti. Tanpa bekerja pun terasa lelah. Memutar otak berhadapan dengan sejumlah dosen di kampus juga begitu. Bukan sesekali jadwal tabrakan yang harus segera di atasi agar profesional dalam dunia kerja.
Menurut Penulis, jika kuliah mahasiswa tidak masuk, dosen atau pihak kampus tidak akan rugi, toh yang butuh ilmu mahasiswanya, berbeda hal nya dengan bekerja jika tidak masuk setengah hari saja perusahaan akan rugi membayar gaji setiap bulannya.
Hal – hal tersebut jangan takut tidak bisa diatasi selagi konsisten dalam membagi waktunya. Penulis menggaris bawahi kata konsisten, karena jika sudah pasti itu waktu untuk bekerja, maka bekerjalah dengan sebaik – baiknya kesampingkan kebiasaan kids zaman now yang biasa nya hunting, wekeend dan sebagainya.
Jangan merasa rugi menambah jam bekerja di waktu tak padat mata kuliah, datang lebih awal itu lebih baik untuk menutupi jam – jam yang kurang di hari lainnya. Sama halnya jika itu waktu kuliah, maka kuliahlah tanpa harus memikirkan itu dan ini. Kesampingkan tentang uang, karena waktunya belajar. Bekerja dimana pun jika ikhlas, niat demi masa depan akan selalu banyak jalan untuk melaluinya.
Bagi Penulis, semester 1 – 3 itu semester awal yang tak banyak beban dengan kepadatan SKS, dan tidak menutup kemungkinan untuk kita mencari pundi – pundi rupiah agar bisa membantu beban kedua orang tua yang berusia renta. Bekerja bagi anak muda yang sedang memperjuangkan gelarnya itu banyak cara. Bisa bekerja dengan otot dan bekerja dengan otak, asalkan jangan pernah menanamkan kata GENGSI dalam dirinya. Gengsi melakukan hal bermanfaat akan membunuh jiwa dan raga.
Untuk apa gengsi asalkan orang tua tak pontang panting dibawah terik panasnya matahari, di dinginnya pagi mengayuh sepeda butut dengan derijen kosong di belakangnya. Pantaskah anak muda yang berotot kuat hanya menghabiskan waktunya dengan gadget mahal hasil keringat ayahnya yang berambut putih itu ? Pantaskah game gadgetnya menghabiskan waktunya sepulang kuliah dengan catatan kosong ? Penulis menjawab dengan lantang itu tak pantas !!!! seharusnya pulang kuliah berusaha mencari pundi – pundi rupiah agar uang kost tak membuat orang tua terbebankan, tak membuat orang tua kekurangan asupan.
Anak muda harus menanamkan jiwa pantang menyerah sebelum menang. Ingatlah selalu peluh keringat dan lemahnya tubuh kedua orang tua di rumah, mereka tak pernah menyerah apalagi berbicara lelah. Dekapan hangat kasih sayangnya selalu terasa tanpa anaknya mengetahui perjalanannya di bawah awan mendung yang mengkhawatirkan.
Penulis telah merasakan bagaimana nikmatnya hasil keringat agar bisa melukiskan tinta pena di atas meja perkuliahan. Bagaimana bangganya orang tua sewaktu tak lagi anaknya berbicara mengenai uang semesteran. Jangan takut indeks prestasi menurun, karena itu adalah perjuangan yang penuh akan halang rintang seperti halnya cuaca yang tak pernah menentu.
Penulis pun sama dengan mahasiswa lainnya punya hobby dalam berorganisasi. Awalnya penulis memilih untuk tidak terjun ke organisasi manapun agar fokus kuliah dan bekerja. Namun, hobby itu tak bisa di tahan yang mengharuskan penulis terjun ke dunia organiasasi untuk berinteraksi dan berkarya. Tak perlu khawatir tak bisa kumpul rapat dan sebagainya karena kita hidup di era 2000- an bukan 90-an, dimana alat komunikasi telah sangat modern.
Penulis merasa bukan lahir dari keluarga miskin yang tak mampu membiayai segalanya, penulis bisa saja meminta ke keluarga, namun dengan kesadaran seorang anak muda yang tangguh dan berniat untuk selalu berusaha penulis memilih bekerja yang terbilang harus 8 jam setiap harinya. Nikmatnya sangat terasa ketika malam hari tak punya waktu keliuran tak karuan. Semangat dan kewajiban selalu membara walau tanggal merah tampak hitam depan mata.
Belajar merupakan kewajiban utama agar gelar segera tersandang bila menjalani tanpa menyampingkan Tuhan Niscaya pasti bisa. Melawan ayunan dua buah mutiara bukan sebuah perkara ketika wudhu dan menghadap sang pencipta maka buku akan tetap terbaca, bangun pagi dunia pun menyapa untuk bertindak tanpa mengulur waktu lebih lama.
Bermain hal yang tak bisa dilepaskan oleh anak muda untuk melihat keindahan dunia dengan kesibukan yang luar biasa tetap ada hari libur diberikan perusahaan mana pun untuk memanjakan mata. Jangan pernah berpikir seorang yang kuliah sambil bekerja tidak bisa bermain dengan keluarga dan sahabat – sahabatnya.
Penulis ingin berbagi motivasi agar anak muda khususnya anak Bangka Belitung dapat memanfaatkan waktu muda sebaik – sebaiknya, dapat menikmati indahnya dunia, cintai ayah dan ibu yang semakin menua, langkahkan kaki bersama sang Pencipta, Kuliah sembari bekerja anak muda pasti bisa !!!

Comment

BERITA TERBARU