Kuasa Hukum Bantahi Pernyataan Dirut RSUD

No comment 1281 views

Kematian Bocah Gabek Jangan Ditutupi

PANGKALPINANG – Kasus dugaan mal praktik yang sudah dilaporkan ke Polda Bangka Belitung dengan terlapor RSUD Depati Hamzah (DH) Pangkalpinang, kian menghangat. Ibrohim, kuasa hukum Herman—orang tua almarhum Syahrul Fajri, bocah warga Gang Baong, Kelurahan Gabek 2, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang membantah pernyataan Direktur RSUD DH, dr. Syahrizal yang menyebutkan bingung terkait laporan itu.
“Direktur RSUD DH Pangkalpinang mengatakan bahwa pihak RSUD tidak pernah melakukan pengecekan darah bisa kami bantah. Berdasarkan hasil penelusuran tim kami di PMI, diketahui bahwa formulir permintaan darah untuk transfusi darah dari RSUD DH tidak menuliskan golongan darah yang diminta atau dibiarkan kosong. Kok bisa pasien meminta darah ke PMI tapi formulirnya kosong?” tanya advokat bantuan hukum dari Pusat Dukungan Kebijakan Publik Bangka Belitung (PDKP Babel) itu.
Ibrohim, kepada Rakyat Pos, Rabu kemarin (13/12/2017) mengatakan, pihaknya menilai bahwa Direktur RSUD-DH telah mengakui kesalahannya yakni tidak menjalankan kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 41 ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 83 tahun 2014 mengenai Unit Transfusi Darah, Bank Darah Rumah Sakit, dan Jejaring Pelayanan Transfusi Darah.
“RSUD-DH tidak memiliki Bank Darah Rumah Sakit, maka seharusnya prosedur permintaan darah dari RSUD DH ke PMI harus mengikuti prosedur yang ditentukan oleh PMI Pangkalpinang, yakni RSUD DH wajib melakukan pengecekan golongan darah dibuktikan dengan menuliskan jenis golongan darah di Formulir Permintaan Darah,” jelasnya.
Sayangnya, kata Ibrohim, sebagai kuasa hukum pihak Herman, pihaknya hingga saat ini tidak diberikan informasi berupa hasil laboratorium yang menyatakan adanya peningkatan Hb setelah almarhum bocah itu melakukan transfusi darah AB.
“Hendaknya pihak RSUD DH menjelaskan peningkatan HB seperti apa yang dimaksud. Jangan terkesan ditutup-tutupi,” tegasnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Direktur RSUD DH dr Syahrizal membantah bahwa telah terjadi salah transfusi darah selama perawatan Syahrul oleh pihaknya.
“Petugas kami mengambil sampel darah Syahrul Fajri, karena di RSUD belum tersedia bank darah maka (sample darah) kami bawa ke PMI. Di PMI dilakukan pemeriksaan dan ditetapkan golongan darah pasien AB. Sebelum ditransfusi ke tubuh korban kami pun menelpon pihak PMI dan mereka menyatakan golongan darah pasien AB,” katanya ketika dikonfirmasi wartawan.
Karena itu Syahrizal mengaku pihaknya merasa bingung terhadap tuduhan yang menyatakan bahwa pihak RSUD melaukan kesalahan prosedur dalam tranfusi darah.
“Karena kami belum memiliki bank darah dan yang melakukan pemeriksaan darah pihak PMI. Selama transfusi darah, dokter kami selalu mendampingi dan melihat perkembangan kesehatan pasien, tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan Hemoglobin dari 3,7 menjadi 11,9 itu suatu peningkatan dan artinya tubuh pasien menerima transfusi darah ini,” tandasnya.
RSUD DH dilaporkan dengan dugaan malpraktik oleh Herman, setelah kematian menimpa anaknya Syahrul Fajri yang baru berusia 2 tahun pada 8 Desember 2017, akibat salah transfusi darah.
Kejadian bermula ketika Syahrul mengalami demam dan panas tinggi pada 6 Oktober 2017. Herman lantas membawa balita itu ke salah satu dokter praktek di Pangkalpinang. Berdasarkan rekam medis dokter tersebut menyatakan Syarul dirujuk ke RSUD DH. Mendapat rujukan, selanjutnya Syahrul dibawa ke IGD RSUD dengan kondisi demam. Selama berada di IGD pasien mendapat pelayanan di ruang UGD selanjutnya dirawat inap.
Setelah dilakukan pemeriksaan, diperlukan tindakan transfusi darah, dan dokter jaga IGD melakukan pengambilan sample darah Syahrul Fajri. Selanjutnya meminta Herman mengambil darah ke PMI dengan golongan darah AB Rhesus+.
Saat di PMI sekitar pukul 22.23 WIB, Herman ditanya petugas PMI mengenai permintaan darah. Karena sesuai petunjuk yang ia peroleh dari perawat RSUD DH, maka Herman menjawab membutuhkan golongan darah AB, dan sekitar pukul 00.00 WIB Herman menerima darah AB dari PMI.
Sekitar pukul 00. 20 WIB dini hari, ketika akan dilakukan transfusi darah, perawat kembali mengkonfirmasi ulang tentang golongan darah Syahrul adalah AB. Herman dan istrinya menjawab mereka berdua sebagai orangtua adalah bergolongan darah A, namun transfusi golongan darah AB tetap dilakukan kepada Syahrul.
Transfusi golongan darah AB ini dilakukan keesokan harinya tanggal 8 Oktober 2017 sebanyak 100CC dan selanjutnya esok hari tanggal 9-10-2017 sebanyak 100CC. Kemudian, setelah menjalani rawat inap selama 4 hari di RSUD, Syahrul Fajri dinyatakan dapat pulang oleh dr Budiono Sp.A. Meskipun Herman dan istrinya merasa anaknya SF masih terlihat pucat dan belum pulih.
Selang 2 minggu berada di rumah, kondisi SF terus menangis dan mengalami sesak nafas, bengkak-bengkak dan luka di perut “koreng”. Sehingga akhirnya pada tanggal 21 Oktober 2017 Herman memutuskan membawa SF untuk diperiksa di RSBT Pangkalpinang.
“Klien kami kaget pada saat dilakukan pemeriksaan di RSBT dan laboratorium Produa diketahui golongan darah Syahrul Fajri adalah A Rhesus +. Juga diketahui dari pemeriksaan di RSBT, Syahrul Fajri menderita penyakit Leukimia dan mendapat rujukan ke RS Cipto Mangun Kusumo,” kata Ibrohim.
Pada tanggal 7 Desember 2017, Herman membawa pulang buah hatinya dari perawatan di RSCM dengan alasan untuk membahas rencana selanjutnya dengan keluarga besar, sebab pihak dokter menyatakan pengobatan pasien membutuhkan waktu antara 2-5 tahun.
Terkait vonis sakit Leukimia sebelumnya terhadap anaknya Herman yang bekerja sebagai pedagang ikan keliling ini membantahnya. Ia malah menuding bisa saja hal itu terjadi pada saat tranfusi darah. Sebab awal masuk RSUD diagnosa tidak mengidap penyakit tersebut.
Lalu Syahrul Fajri dinyatakan meninggal pada 8 Desember 2017. Sebelumnya Syahrul pada pukul 05.00 WIB, sempat mendapat pertolongan medis di RSBT berupa oksigen dan infus, selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) di Air Anyir. Namun Syahrul menghembuskan nafas terakhir pada pukul 10.00 Wib. (das/1)

No Response

Leave a reply "Kuasa Hukum Bantahi Pernyataan Dirut RSUD"