Ku Pinang Engkau dengan Bismillah

  • Whatsapp

Karya Rusmin

Aku tersentak. Bahkan terkesan kaget sebagaimana kekagetan para koruptor saat tertangkap tangan oleh petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebuah pesan masuk di handphone adalah penyebab kekagetanku. Dengan rasa malas ku buka pesan singkat itu. Ternyata dari Laila, kekasih hatiku.
“Aswrwb Abang. Ku tunggu pinangan Abang sebelum bulan Ramadan tiba biar kita bisa puasa bersama dan menikmati indahnya bulan Ramadan dengan kebersamaan,” demikian tulis Laila dalam pesan singkatnya.
Usai membaca pesan singkat itu pikiranku menerobos kanal-kanal waktu untuk menciptakan dalih. Belum sempat aku menuliskan kalimat alasan, tiba-tiba pesan singkat Laila kembali masuk dan menggetarkan handphone ku. Isinya sungguh menggetarkan hatiku.
“Ku tunggu pinangan abang yang ku kenal sebagai lelaki sejatiku,” demikian bunyi pesan singkat itu.
Aku menelan ludah. Hubungan asmaraku dengan Laila, teman sekampungku terbilang sangat lama. Kami berkasih sayang semenjak masih di SMA. Usai menamatkan kuliah aku bekerja di sebuah perusahaan surat kabar lokal. Sementara Laila berprofesi sebagai bidan.
Perbedaan profesi tak memisahkan kami dalam menjalin asmara. Apalagi kedua orangtua kami sudah sangat menyetujui hubungan kami hingga ke perkawinan. Bahkan kedua orangtua telah beberapakali meminta kami terikat dalam sebuah perkawinan.
“Kamu sudah dewasa, nak. Sudah waktunya menikah,” ujar Ibu.
“Sabar Bu. Biar Laila menyelesaikan kontrak kerjanya dulu,” dalih ku.
Demikian pula dengan orang tua Laila. setiap kali masa liburan Laila datang dan aku berkunjung ke rumahnya, Ibu dan Ayah Laila selalu menyindirku tentang hubungan kami. “Terus terang Nak Bujang. Kami ini sudah sangat kangen dengan cucu. Kami sudah kebelet sekali ingin menggendong cucu sebagaimana orang tua lainnya,” canda Ibu Laila.
“Iya, Nak Bujang. Kami sangat merindukan status baru kami sebagai kakek dan nenek. Bukan begitu Bu,” ungakp Ayah Laila yang disambut dengan anggukan Ibunya.
Sementara aku sibuk dengan segala macam dalih. Mulai dari kesibuakn ku di kantor hingga kontrak kerja Laila yang belum selesai. Ketakutan ku untuk menikah disebabkan kondisi filosofi yang sering ku lihat di kantorku. Curhatan para rekan jurnalis senior kepada ku membuat aku makin ngeri dengan kata perkawinan. Banyak senior-seniorku selalu menceritakan tentang kondisi rumah tangga mereka kepadaku.
“Kamu harus berpikir dahulu sebelum memutuskan menikah. Jangan kamu mengalami permasalahan seperti kami ini,” ujar Bang Timpas.
“Iya,Bung. Menikah dan berumah tangga itu tak seindah yang kita bayangkan. Banyak pernak-perniknya. Banyak lika-likunya yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tak bisa hanya mengandalkan cinta semata,” sambung Migrun yang baru setahun sebagai pengantin baru. ” Ternyata aku baru paham bahwa ekonomi diatas segala-galanya. Tanpa uang, mati kita. Rumah tangga pun bisa hancur,” lanjut Migrun.
Aku hanya terdiam mendengar curhatan para senior itu. Setidaknya dogma yang sering mereka perdengarkan kepada ku membuatku mulai ketakutan dengan yang namanya frasa perkawinan. Aku dilanda kegelisahan. Sementara orang tuaku sudah menginginkan aku untuk menikah.
“Menikah itu Sunnah, Jang. Perintah nabi kita,” ungkap guru ngajiku.
“Lagi pula buat apa melajang kalau sudah ada pilihan. Tak baik. Dirimu sudah memiliki pekerjaan yang bagus. Demikian juga dengan Laila. Memiliki pekerjaan pula. Apa yang harus engkau pikirkan?” lanjut guru ngajiku.
Aku kembali terdiam. Malam itu aku dilanda rasa ngantuk yang sangat berat. Tak heran usai Sholat Isya, aku langsung tertidur. Dan tiba-tiba aku terbangun dari rasa lelapku.
Jam didinding menunjukan angka 2. Dengan rasa malas aku menuju ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Seluruh tubuhku dijalari air dingin itu hingga menembus otakku. “Coba kamu berdoa kepada Allah pada sepertiga malam. Insya Allah doamu akan didengarnya. Dan keputusan yang ananda ambil akan baik,” saran guru ngaji ku.
Usai sholat malam, aku menyempatkan diri untuk membaca beberapa ayat suci Al-quran. Ada rasa ketenangan yang teramat dalam di nuraniku. Pikiranku teramat bening. Bahkan teramat bening.
Pagi ini aku bangun pagi sekali. Sungguh nikmat menyaksikan perpisahan rembulan dan mentari yang saling berkolaborasi untuk menyinari penghuni bumi tanpa rasa lelah dan pamrih. Tak ada rasa iri dari keduanya dalam memberikan sinarnya kepada penghuni bumi.
Usai Sholat Subuh, aku melihat handphone ku yang tergeletak di meja kerjaku. Ku tekan beberapa tombol huruf . Usai ku tuliskan langsung ku kirimkan kepada Laila kekasih hatiku.
“Aswrwb, Laila. Dengan bismilah kupinang engkau untuk anak-anakku. Insha Allah sebelum Ramadan tiba aku akan meminangmu dan datang kepada keluargamu. Wassalam,” demikian kalimat yang ku tuliskan dan ku kirimkan kepada Laila.
“Terima kasih Abang. Alhamdulillah, pinanganmu aku terima dengan rasa syukur. Dan aku siap untuk menjadi ibu bagi anak-anak kita,” demikian balasan dari Laila. Aku amat bahagia. Tampaknya mentari iri melihat kebahagianku pagi ini. Terbukti sinarnya terasa enggan bersinar di sekitar rumahku. Ingin rasanya aku segera mengabarkan kabar bahagia ini kepada keluarku. Mereka pasti akan bahagia mendengar kabar ini.
Terbayang juga dalam pikiranku, rasa bahagia ibu dan keluargaku dengan putusanku ini. Demikian pula dengan keluarga Laila, pasti bahagia mendengar berita ini. Ku yakin Laila pasti sudah mengabarkannya. Dan terbayang dalam benakku, bagaimana bahagianya keluarga Laila dengan berita ini. Ya, mereka semua akan bahagia dengan keputusanku untuk segera meminang Laila. Toboali, Bangka Selatan. (***)

Related posts