Krisis Regenerasi Petani di Bangka

No comment 204 views

Oleh: Herza
Pemuda Desa Kacung/Mahasiswa Sosiologi UGM 

Herza

Dari kabar yang berhembus akhir-akhir ini, negara kita sedang mengalami krisis regenerasi petani muda. Persoalan ini, cukup masif dibahas di berbagai media, pun juga oleh beberapa akademisi lewat artikel yang dimuat di media cetak nasional. Data dari Kementerian Pertanian Indonesia yang penulis kutip dari tulisan Prof. Bagong Suyanto (Guru Besar Sosiologi UNAIR) di rubrik opini koran kompas edisi 17 September 2017 yang lalu, menunjukkan setiap tahunnya jumlah rumah tangga petani yang hilang adalah sekitar 2 persen. Kemudian, yang perlu menjadi perhatian bagi kita juga bahwa saat ini, dari sekitar 26,3 juta rumah tangga petani, sekitar 65 persen berusia di atas 45 tahun. Selain itu, dalam artikel itu juga disebutkan bahwa di wilayah pedesaan hanya sekitar 4 persen pemuda dengan rentang usia15-23 tahun yang tertarik bekerja sebagai petani. 
Data di atas tersebut, benar-benar menunjukkan kondisi yang cukup ironis, mengingat tanah Indonesia dikenal dengan tanah yang sebagian besarnya sangat mendukung untuk kegiatan pertanian dan juga mengingat pemerintah pernah mendeklarasikan sebuah target, yakni pada tahun 2045 Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia. Namun, menurut penulis jika kondisi ini, berlangsung terus-menerus, maka bisa dipastikan target mulia tersebut hanya akan menjadi sekadar impian.Terjadinya permasalahan ini, membuat penulis terstimulus untuk berkontemplasi mengenai kondisi petani yang ada di Bangka, karena tidak bisa dipungkiri, sebagai pemuda Bangka yang mempunyai ketertarikan mengamati kehidupan sosial, akhir-akhir ini, juga turut merasakan kondisi tersebut. Kondisi dimana  banyak masyarakat  yang sebelumnya petani kemudian beralih ke pekerjaan yang lain atau bisa juga tetap bertani, tapi dengan lilitan kesusahan. Selain itu juga, suatu kondisi di mana para pemuda yang cenderung jarang terlihat batang hidungnya di berbagai aktivitas pertanian. Lantas apa yang menjadi penyebabnya?

Penyebab Krisis Regenerasi Petani (Muda) di BangkaMengacu pada pendapat Prof. Bagong Suyanto dari artikelnya yang dimuat Koran Kompas 17 September yang lalu, penyebab terjadinya regenerasi petani muda di Indonesia karena profesi petani pada beberapa tahun terakhir ini mengalami penurunan daya tarik secara ekonomi dan sosial. Secara ekonomi, hari ini kesejahteraan petani di Indonesia menjadi suatu masalah. Tidak hanya karena faktor seringnya gagal panen, tapi juga ketika hasil panennya melimpah ruah sekalipun, hal itu tidak bisa menjamin taraf hidup mereka menjadi sejahtera. Seringkali ketika hasil taninya banyak, tapi harga jualnya menjadi turun secara drastis. Sedangkan secara sosial, generasi muda saat ini cenderung menilai jika profesi petani ini sebagai simbol keterbelakangan, kemiskinan dan kesengsaraan. Penyebab yang dipaparkan oleh Prof. Bagong tersebut, tidak bisa dipungkiri juga menjadi penyebab krisis regenerasi petani (muda) di Bangka. Namun, selain itu, menurut Penulis ada persoalan lain yang cukup krusial yang menjadi penyebab mengapa terjadi krisis regenerasi petani di Bangka. Pada dasarnya, masih berafiliasi dengan kesejahteraan petani seperti halnya pendapat Prof. Bagong di atas. Bedanya, dalam hal ini penulis akan menjabarkannya secara lebih detail sesuai dengan kondisi yang terjadi di Bangka.  Pertama, tentu kita sepakat bahwa pertanian ataupun perkebunan yang menjadi andalan masyarakat Bangka bisa dikategorikan menjadi tiga jenis, yakni karet, lada dan sawit. Namun, ketiga jenis pertanian ini harganya seringkali tidak stabil, apalagi karet yang terhitung sudah berapa tahun terakhir ini tertahan dengan harga yang sangat rendah sekali. Begitu pula dengan lada, ketika masyarakat Bangka beberapa tahun ke belakang banyak yang mulai kembali menggeluti perkebunan ini, namun ketika para petani tersebut mencapai fase panen tiba-tiba saja harganya menjadi turun drastis, hingga sampai saat ini harga lada belum pula menunjukkan kenaikan secara siginifikan. Faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab utama para petani di Bangka ingin beralih ke pekerjaan lain dan terkhusus penyebab para generasi muda berpikir pesimis terhadap profesi ini.Kedua, minimnya ketersediaan lahan yang subur untuk kegiatan pertanian. Bukan menjadi rahasia lagi kalau di Bangka telah banyak masuk perusahaan-perusahaan besar bidang perkebunan yang dengan otomatis menyita lahan yang cukup luas pula untuk kegiatan perkebunan mereka tersebut (termasuk untuk pendirian pabrik). Hal ini mengakibatkan lahan yang luas, yang pada dasarnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya generasi muda untuk bertani tapi tidak bisa lagi, karena lahan tersebut sepenuhnya sudah menjadi hak perusahaan. Kontrak mereka atas lahan itu pun terus berlanjut, sehingga dampak sosialnya ya seperti masyarakat kita rasakan saat ini. Ketika mereka ingin bertani, namun lahannya sudah sangat terbatas sekali. Selain karena hadirnya perusahaan-perusahan besar tersebut, minimnya ketersediaan lahan untuk bertani juga disebabkan oleh kondisi masa lalu, yang mana kegiatan pertambangan timah sangat masif beroperasi sehingga tanah bekas pertambangan tersebut cenderung sulit dan kurang subur ketika ingin dimanfaatkan masyarakat untuk bertani. Kecuali bertaninya menggunakan strategi tertentu. Ketiga, saat ini harga pupuk cenderung tinggi dan pupuk subsidi dari pemerintah pun distribusinya sangat terbatas. Penulis kira faktor ini juga turut mempengaruhi masyarakat dan pemuda di Bangka untuk mikir-mikir dulu jika ingin mengeluti kegiatan pertanian. Berbagai faktor tersebut di ataslah yang menjadi penyebab utama kenapa saat ini khususnya di Bangka terjadi krisis regenerasi petani (muda). Mulai dari pendapat yang dipaparkan oleh Prof Bagong berdasarkan sudut pandang yang agak luas dan umum, namun bisa mewakili kondisi yang terjadi pada para petani dan pemuda di Bangka. Kemudian faktor tidak stabilnya harga komoditas lada, sawit dan karet yang notabenenya menjadi andalan petani di Bangka, faktor minimnya ketersediaan lahan yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk bertani dan persoalan masih terbatasnya distribusi pupuk subsidi dari pemerintah.Oleh sabab itu, kiranya pemerintah harus lebih memerhatikan permasalahan ini, jangan sampai masyarakat terus menjerit kesusahan, karena sebagian besar masyarakat Bangka tentunya masih sangat berharap bisa terus bertani jika kendala-kendala tersebut bisa segera dihilangkan. Dan yang terpenting buatlah para generasi muda untuk bisa kembali tertarik menggeluti kegiatan pertanian dan tidak memandang pertanian dengan pandangan yang cenderung negatif. (****).

 

No Response

Leave a reply "Krisis Regenerasi Petani di Bangka"