KPU Bantah Dituding Gagal

  • Whatsapp
DIHADANG POLISI – Belasan massa GRBB dihadang polisi di pintu masuk Kantor KPU Provinsi Babel, saat unjuk rasa tingginya golput dalam Pilkada Babel 2017. Koodinator massa menuding KPU gagal. Namun partisipasi pemilih minim dibantah oleh Ketua KPU Babel. Termasuk tudingan tentang dana Pilkada Rp100 miliar, juga dibantah. KPU hanya mengelola dana sosialisasi sebesar Rp800 juta, dengan partisipasi pemilih 62 persen. (Foto: Roni Bayu)

Didemo, Golput Tinggi Dipilgub
Dana Sosialisasi tak Sampai Rp800 Juta
Fahrurrozi: Partisipasi Pemilih 62 Persen

PANGKALPINANG – Belasan massa dari Gerakan Rakyat Bangka Belitung (GRBB), menggelar unjukrasa di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Bangka Belitung, Senin (20/2/2017). Dalam orasinya, massa yang diketuai oleh Marsidi ini, mempertanyakan kinerja KPU sebagai badan penyelengara Pilkada yang dinilai gagal.
Kegagalan KPU sendiri menurut Marsidi, karena sosialisasi yang minim dilakukan, sehingga mengakibatkan minimnya tingkat pemilih dan tingginya golput. Karena itu, massa memberikan rapor merah kepada komisioner di KPU Babel.
“KPUD kami nilai gagal karena partisipasi pemilih dalam Pilgub Babel sangat rendah. Banyak masyarakat golput dalam Pilkada, ini yang ingin kami pertanyakan kepada KPU,” ujar Marsidi saat orasi.
Tak hanya itu, massa juga menuding anggaran KPU Babel yang dinilai cukup besar, namun tidak disertai dengan kinerja yang diharapkan masyarakat.
“Golput tinggi, dana Rp100 M yang dikeluarkan tapi kinerja nol besar, tindak tegas ketua KPU,” katanya.
Menanggapi tudingan itu, Ketua KPU Provinsi Babel, Fahrurrozi membantah jika dana yang ada di KPU mencapai Rp88 miliar, apalagi hingga Rp100 miliar. Menurutnya, dana yang dikelola oleh KPU Babel tidak sampai Rp800 juta untuk mencover semua kegiatan seperti iklan, sosialisasi kepada peserta dan sosialisasi kepada pemilih.
“Seperti kita mengelar rakor (rapat koordinasi) di kantor KPU, dananya diambil dari situ. Termasuk kepada pemilih, bukan saja untuk mengajak pemilih tapi juga anggaran untuk menghimbau masyarakat untuk merekam e-KTP,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan disaat KPUD akan melakukan distribusi logistik ke sejumlah kabupaten, diguyur hujan lebat. Bahkan terdapat jembatan putus dan banjir seperti di Kabupaten Bangka Barat. Termasuk jelang pencoblosan tepatnya H-1, hujan melanda hampir seluruh wilayah Babel, sepanjang tiga hari lamanya hingga waktu pencoblosan dan menjadi kendala yang tidak bisa dilepaskan dari faktor alam.
“Kita tidak bisa menghalau hujan, sementara memilih itu hak bukan kewajiban. Kita juga tidak bisa juga memaksakan orang datang ke TPS, meskipun kita telah menghimbau bahwa pemilih ini sangat penting. Justru, saya khawatir tingkat partisipasi dibawah 50 persen, tapi kenyataannya diatas 62 persen pemilih,” tukasnya.
Dilanjutkan Ozi sapaan Fahrurrozi, saat hari pencoblosan ia langsung turun ke lapangan, di Sungailiat. Bahkan, komisioner KPU juga menyebar di sejumlah kabupaten, dan kenyataanya hujan merata disaat waktu pencoblosan.
“Ada sempat berhenti hujan, nah disitu masyarakat sempat berbondong-bondong memilih, setelah itu hujan lagi sampai reda keesokan harinya. Jadi tiga hari tiga malam hujan dan kita tau itu,” tegasnya.
Untuk sosialisasi sendiri, menurutnya bukan hanya dilakukan oleh KPU Babel, melainkan juga KPU kabupaten/kota. Dan memang diakuinya, dalam sosialisasi yang dilakukan oleh KPU kabupaten/kota langsung menyentuh masyarakat, tanpa ada publikasi.
“Kami juga melakukan kerjasama dengan Permahi ke kampung-kampung, tetapi tidak terekepos gitu, karena kita memang menyasar ke pemilih langsung. Pada saat hari H, memang hujan lebat. Kewajiban KPU mensosialisasi tahapan, terkait mereka memilih atau tidak mungkin ada variabel lain seperti memberikan kontribusi. Ya sebagus apapun sosialisasi kita jika pemilih tidak suka dengan yang dipilih, ya tidak bisa juga kita paksakan,” tandasnya.
Dicontohkannya, jika masyarakat tidak mengetahui hari pencoblosan itu bisa menjadi kesalahan KPU Babel. Namun dalam hal ini masyarakat sudah mengetahui jika pencoblosan berlangsung pada 15 Februari 2017, sehingga itu bukan lagi kesalahan dari KPUD.
“Pemilih kan sudah tau, cuma engan datang karena hujan atau tidak suka dengan kandidat yang tersaji, itu bisa saja terjadi. Nah, jadi sosialisasi itu kewajiban KPU adalah tahapan kepada peserta maupun kepada pemilih,” tutupnya.
Dalam pantauan Rakyat Pos, orasi massa yang disampaikan sekitar 10 menit tersebut, mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian dalam hal ini Polda Babel. Bahkan dari pantauan di lapangan, sekitar 70 personil gabungan, turun ke lokasi guna memberikan pengamanan. Namun setelah menyampaikan aspirasinya, massa membubarkan diri.
Kepala Satuan Brimob Polda Babel, Ajun Komisaris Besar Stevanus saat ditemui di lokasi mengungkapkan, aparat kepolisian telah menjalankan tugas dengan memberikan pengamanan di lokasi. “Semua berjalan aman, dan terkendali,” ungkapnya.

Muat Lebih

Bateng 65 Persen
Dilain pihak, Ketua KPU Kabupaten Bateng, Suryansyah merilis, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Bangka Belitung (Babel) nomor urut 4, Erzaldi-Fattah meraih 55,09 persen suara di Kabupaten Bangka Tengah (Bateng). Pasangan dengan jargon BERKAH (Bersama Erzaldi dan Fattah) itu mengungguli tiga pasangan calon lainnya dalam perolehan suara Pilgub 15 Februari 2017.
“Erzaldi-Fattah meraih sebanyak 42.368 suara dari total sebanyak 78.579 warga yang menggunakan hak suara atau unggul sekitar 55,09 persen suara dari tiga pasangan calon lainnya,” kata dia.
Suryansyah mengatakan, posisi urutan kedua diraih pasangan Rustam-Irwansyah sebesar 22,32 persen atau sebanyak 17.168 suara, menyusul pasangan nomor urut 3 Hidayat Arsani-Sukirman 12,15 persen atau 9.346 suara dan pasangan nomor urut 1 Yusron-Yusroni 10,43 persen atau 8.023 suara.
“Ini baru data sementara berdasarkan hitungan C1 dan data yang masuk di website KPU, belum final tetapi hasilnya tidak akan jauh beda setelah diplenokan,” tuturnya.
Disebutkan dia, pasangan Erzaldi-Fattah hampir unggul pada setiap TPS di Kabupaten Bateng, sehingga perolehan suara lebih dari separuh dari total warga yang menggunakan hak pilih.
“Partisipasi pemilih di daerah ini mencapai 65 persen dan ini sesuai dengan pencapaian target kami, proses Pilgub di daerah ini berjalan aman dan kondusif berkat dukungan semua pihak,” ucapnya. (ron/ran/1)

 

Pos terkait