Korupsi Membuka Murka Tuhan

  • Whatsapp

Oleh : Dipa Erwin
Aktifis Masyarakat Anti Korupsi Seluruh Indonesia

Dalam risalah al-hisbah, Ibnu Taimiyah pernah menulis sebuah teks berikut:

فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى : ” اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً

“Manusia tidak berselisih bahwa balasan dari perbuatan zalim adalah kebinasaan sementara balasan dari sikap adil adalah kemuliaan. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa “Allah akan menolong negara yang adil sekalipun kafir, dan akan membinasakan Negara yang zalim sekalipun beriman“”.

Pesan ini sangat singkat, namun begitu lugas dan tajam. Sebuah negara tidak dilihat dari mayoritas agama penduduknya dan sistem pemerintahannya, akan tetapi ia dilihat dari dua aspek saja yaitu keadilan dan kedzaliman.

Negara yang adil adalah negara dimana rakyat bisa mendapatkan tidak kurang dari haknya dan para pelaksana pemerintahan tidak mengambil melebihi haknya. Bila keseimbangan ini tidak tercipta dan terjaga dengan stabil, maka negara termasuk kedalam kategori dzalim mengingat defini sederhana dari dzalim adalah berlaku tidak sebagaimana mestinya.

Tindak pidana korupsi adalah sebuah bentuk kedzaliman yang nyata. Dengan adanya praktik korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat dalam sebuah pemerintahan, maka secara otomatis hak rakyat telah dirampas oleh para koruptor sehingga rakyat tidak lagi mendapatkan haknya.

Mari kita sedikit lebih fokus menelaah fakta yang melanda negara kita akhir-akhir ini. Beban hidup rakyat bertambah berat hampir di semua dimensinya. Harga kebutuhan bahan pokok yang semakin melambung tinggi, PHK merajalela, angka kemiskinan dan pengangguran meningkat tajam, akses pendidikan berkualitas semakin sulit didapatkan, bencana alam datang silih berganti menerpa bangsa kita. Kekeringan di musim kemarau, banjir di musim hujan, kebakaran hutan, letusan gunung, gempa bumi dan tanah longsor, kecelakaan transportasi dan masih banyak ragam bencana menimpa negara kita. Belum lagi soal pemerataan pembangunan yang semakin lama semakin sulit direalisasikan dengan semangat serta upaya pemenuhan kesejahteraan dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia.

Apakah hal sedemikian itu menjadi sebuah pertanda murka Tuhan telah datang menimpa bangsa kita, mengingat tingginya angka korupsi, sehingga praktik kedzaliman kian tumbuh subur berbuah petaka?

Secara dhohir sangat mudah untuk dapat dipahami bahwa korupsi adalah pemicu utama penderitaan rakyat dan robohnya sebuah bangsa yang adil. Kebijakan pemerintah yang bisa dikendalikan oleh pihak tertentu melalui pemberian suap menjadikan arah kebijakan yang diambil pemerintah melenceng dari tujuan utamanya yaitu kesejahteraan bersama, anggaran pembangunan yang tidak dipakai secara keseluruhan namun ditilep untuk kepentingan pribadi maupun golongan sendiri sehingga pembangunan infrastruktur sebagai penunjang kemajuan perekonomian berjalan sangat lamban.

Secara bathin sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah di atas bahwa Allah tidak akan menolong sebuah negara yang dzalim walaupun penduduknya mayoritas muslim. Sebuah kondisi yang tentu saja sangat memprihatinkan dan berpotensi mengancam kedaulatan sebuah bangsa, dimana masa depan bangsa kita yang telah diperjuangkan dengan kucuran darah dan segenap jiwa para pahlawan akan semakin suram dan terancam.

Bila negara dianalogikan sebagai sebuah perusahaan, maka keadilan harus menjadi budaya. Bila ada ketimpangan dalam perusahaan tersebut maka dalam waktu tidak lama bisa bangkrut. Apabila karyawan tidak digaji sesuai kesepakatan kontrak sedangkan para petinggi perusahan menikmati laba perusahaan melebihi dari porsi yang seharusnya didapat, maka akan melahirkan kecemburuan sosial sebagai efek buruk pertama. Kemudian para karyawan akan berkurang rasa kepeduliannya pada perusahaan tersebut sehingga secara drastis kinerja mereka akan turun dan ini sangat mengancam keberlangsungan perusahaan. Semakin rendah etos kerja karyawan menjadikan perusahaan akan semakin lemah dan tak sanggup bersaing dengan perusahaan lain, sehingga akan mudah bangkrut dan gulung tikar.

Berbeda ceritanya bila iklim perusahaan berjalan secara adil. Para karyawan diperhatikan haknya, para petinggi perusahaan menjadi cerminan bagi bawahannya dengan tidak mengambil melebihi bagiannya, maka para karyawan akan semakin semangat dalam memajukan perusahan tersebut. Etos kerja semakin meningkat dan perusahaan akan semakin kokoh dan siap bersaing dengan perusahaan lain.

Ihwal ini semacam hukum kausalitas atau juga dikenal dengan istilah sunnatullah (hukum alam). Semakin masif para pelaku pemerintahan melakukan kedzaliman dengan korupsi, maka semakin menderitalah rakyatnya lalu rakyat semakin apatis dan tidak percaya pada pemerintah. Ketika rakyat sudah tidak lagi percaya pada pemerintahan, niscaya praktik korupsi semakin merajalela terjadi disana. Undang-Undang negara sejatinya dibuat untuk kepentingan bersama, lantas akan dengan mudah diamandemen sesuai kepentingan golongan tertentu. Sungguh, hal ini menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan peradaban sebuah negara yang dirawat dengan segenap cinta demi melestarikan keberadaan bangsanya.

Berpijak pada dua pendekatan di atas, maka tidak ada pilihan lagi kecuali kita harus senantiasa berupaya menciptakan pemerintahan yang adil serta bebas dari kedzaliman koruptor. Negara harus mengedepankan pemenuhan kepentingan bersama bukan hanya terbatas pada golongan tertentu. Rakyat harus antusias memantau dan memperhatikan kinerja petinggi pemerintahan dan aparaturnya mulai dari pusat hingga daerah. Bila ada indikasi tindakan korupsi, maka harus segera dilaporkan. Bila tidak ditindaklanjuti, rakyat harus lebih aktif mendesak aparat penegak hukum agar mendengar aspirasi mereka melalui orasi dan demonstrasi serta mimbar demokrasi lainnya sebagaimana telah dijamin dalam aturan perundang undangan kita.

Memberantas korupsi di tanah air ini, sejatinya bukan hanya sebatas menumbuhkan semangat memperjuangkan nasib rakyat agar memperoleh haknya semata, namun butuh upaya lebih dalam menegakkan hal prinsip guna memastikan bahwa praktek korupsi berhasil dibumihanguskan, agar negara yang kita banggakan ini terhindar dari murka Tuhan. Sebab, telah tergolong kategori negara yang dzalim sekalipun mayoritas penduduknya adalah muslim.(***).

Related posts