Korelasi Permainan Online Games dengan Prasangka di Era Digital

  • Whatsapp

Oleh: Anak Agung Putu Budiartha
Guru Multimedia SMK Negeri 1 Parittiga, Bangka Barat

Anak Agung Putu Budiartha

Jika biasanya tulisan mengenai game online membahas tentang kesehatan jiwa ataupun pengaruhnya terhadap prestasi belajar, kali ini penulis akan menulis sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sebetulnya merupakan hal fundamental, namun acapkali tak dipikirkan banyak orang. Bagaimana game online ternyata memberikan gambaran kepada kita ikhwal kegagalan berpikir di era digital yang sudah sampai pada tahap mengkhawatirkan. Ya, game online merupakan permainan berbasis koneksi jaringan yang harus dimainkan dengan aturan tertentu secara berkelompok baik menggunakan smartphone maupun komputer. Jika menggunakan smartphone, game online tersebut akan mendapatkan tambahan kata mobile seperti game yang jika dimainkan di komputer/laptop bernama Player Unknown’s Battle Grounds (PUBG). Namun, jika dimainkan di smartphone game tersebut mendapatkan tambahan nama mobile menjadi Player Unknown’s Battle Grounds Mobile (PUBGM).

Selain itu, terdapat beragam jenis game online sesuai dengan permainan yang disajikannya mulai dari Massively Multiplayer Online Role-playing games (MMORPG), Massively Multiplayer Online First-person shooter games (MMOFPS), Massively Multiplayer Online Real-time strategy games (MMORTS), sampai Massively Multiplayer Online Browser Game (MMOBG). Namun, apapun bentuk permainan yang disajikan, intinya game online ini harus dimainkan secara Massively Multiplayer atau dimainkan secara beregu.

Manakala ditarik korelasi dari ragam permainan berbasis koneksi jaringan di atas, dan menghubungkannya dengan pembelajaran yang akan dikaji secara umum, mungkin kata yang tepat untuk mewakili itu adalah kata afiliasi. Afiliasi merupakan kata yang diserap dari bahasa inggris affiliation. Penuturan kata afiliation pertama kali dilakukan di Inggris pada Abad Pertengahan awal dalam sejarah eropa. Terdapat dua makna afiliasi menurut KBBI. Pertama afiliasi bermakna pertalian sebagai anggota atau cabang perhubungan dan kedua afiliasi bermakna bentuk kerja sama antara dua lembaga pendidikan. Biasanya yang satu lebih besar daripada yang lain, tetapi masinh-masing berdiri sendiri; bantuan yang diberikan oleh lembaga yang lebih besar dalam bentuk personel, peralatan, atau fasilitas pendidikan.

Lebih lanjut, Arkhadi Pustaka, E-learning Consultant di Pusat Pengembangan Pendidikan UGM yang merupakan alumnus Jurusan Teknologi Pembelajran dari Magister Universitas Negeri Yogyakarta dan sekarang masih melanjutkan studi doktoral di Towson University Baltimore, USA pernah mengemukakan terkait makna afiliasi, yaitu keanggotaan atau keterikatan seseorang pada sebuah kelompok dengan kesamaan identitas.

Manakala sekelompok pemain yang siap bekerja sama untuk mengalahkan sekelompok pemain lainnya pada game berbasis koneksi jaringan inilah yang merupakan konsep afiliasi dan diimplementasikan dalam stategi untuk meraih kemenangan pada permainan sejenis ini.

Kemudian jika dikaitkan dengan pembelajaran yang terjadi di sekolah, konsep afiliasi ditemukan dalam pembelajaran berkelompok atau cooperative learning. Pembelajaran semacam ini, diduga banyak pendidik dapat menjadi solusi pemahaman yang lebih baik dan mencapai tujuan pembelajaran yang lebih cepat dari pada pembelajaran secara klasikal individual. Namun, yang harus dipikirkan lebih lanjut adalah penataan anggota kelompok satu dengan kelompok lainnya yang berimbang. Jika tidak berimbang bisa jadi malah tidak lebih baik dari pembelajaran klasikal individual. Jika tetap ngotot ingin melakukan pembelajaran dengan konsep cooperative learning maka solusinya guru harus menata ulang anggota kelompok.

Dalam tatanan pembelajaran yang lebih umum, yaitu kehidupan sosial skala lokal maupun global, secara sadar ataupun tidak, setiap manusia berafiliasi dengan kelompok atau golongan tertentu. Kemudian afiliasi tersebut berkembang menjadi bagian dari identitas pribadi yang bersangkutan. Awalnya semua orang beranggapan bahwa afiliasi dan identitas itu berlaku bolak balik dan akhirnya melupakan bahwa sejatinya afiliasi dan identitas itu tidak selalu harus berlaku dua arah.

Contoh kasus nyatanya begini: jalan lintas sumatra terkenal dengan ketidakamanannya karena banyak orang di sekitar di jalanan tersebut menjarah truk yang membawa muatan bernilai ekonomi dan mampu melarikan diri secepat bajing yang meloncat. Kemudian timbullah cerita bahwa orang-orang sumatra itu menakutkan. Padahal tidak semua orang sumatra memiliki kelakuan seperti itu. Contoh lainnya, Ahmad Dhani seorang musisi terkenal di Indonesia, santer terdengar memiliki afiliasi dengan kelompok orang-orang yahudi. Jika dilihat dari keturunannya, Ahmad Dhani memang dilahirkan dari ibu beretnisitas Yahudi bernama Joyce Kohler. Albert Einstein, seorang ilmuan fisika terbesar pada abad ke 20 dan Sigmund Freud, seorang psikoanalis yang pemikirannya sampai sekarang masih digunakan dalam ilmu psikologi juga memiliki afiliasi dengan kelompok orang-orang yahudi.

Di sisi lain, bagian barat benua asia, Rebecca yang juga memiliki afiliasi dengan kelompok orang-orang yahudi menembak mati perawat muda Palestina Razan Najjar ketika sedang menjalankan tugasnya menjadi perawat di tengah aksi damai di Gaza tahun lalu. Tanpa mengesampingkan fakta bahwa kelakuan tentara-tentara israel yang memiliki afiliasi dengan kelompok orang-orang yahudi sangat melanggar HAM. Lantas apa kita semua harus membenci Ahmad Dhani, Albert Einstein, Sigmund Freud, dan orang-orang yang memiliki afiliasi dengan kelompok orang-orang yahudi yang berjasa pada dunia?

Seringkali kita salah karena menyamakan afiliasi dengan generalisasi, sehingga menyebabkan kita terperangkap dalam penilaian tentang seseorang berdasarkan afiliasinya. Disinilah kita perlu meluruskan lagi pemikiran bahwasanya jikalau kita antipati dengan tingkah laku seseorang yang memiliki sifat/sikap/karakter tertentu sejatinya yang kita benci itu adalah tingkah lakunya bukan afiliasinya. Seperti berita yang sering di rilis di ranah publik, orang yang beragama islam melakukan pengeboman di berbagai daerah di Indonesia yang menjadi fokus khalayak adalah afiliasi keislamannya, padahal harusnya kita tidak bisa serta merta mengeneralisasikan tingkah lakunya dengan afiliasi keislamannya. Kita harusnya berang dengan tingkah lakunya bukan dengan afiliasi keislamannya.

Memaknai afiliasi secara keliru inilah yang membuat stereotipe negatif terhadap suatu afiliasi mengakar kuat dalam kehidupan sosial skala lokal maupun global. Masyarakat yang beragama selain islam kadung menganggap umat islam itu non toleran, saklek, teroris, bahkan menyematkan predikat tukang ngebom. Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika individu yang memiliki afiliasi dengan kelompok orang-orang tertentu melakukan suatu perbuatan yang melanggar hak-hak kemanusiaan khalayak? Jawabannya sekali lagi adalah yang perlu kita kecam itu tindakan yang dilakukannya bukan afiliasi yang melekat padanya.

Sampai hari ini, mungkin masih banyak orang Indonesia yang sentimen dengan etnisitas Yahudi sebagai suku bangsa. Namun, semoga saja tulisan ini bisa membuka pikiran kita bahwa tindakan seseorang berbeda dengan afiliasi yang melekat adanya. Jangan pula menggeneralisasikan tindakan seseorang akan sama dengan tindakan orang lain yang satu kelompok dengannya berbekal afiliasi yang melekat pada kelompok tersebut, karena kehidupan dalam masyarakat lokal maupun global itu tidak semudah pindah afiliasi seperti pindah afiliasi pada game berbasis koneksi jaringan.

Semoga tulisan ringan yang mengambil korelasi dari permainan game online ini dapat kembali menyehatkan akal pikiran kita bahwa sejatinya yang perlu dikecam adalah tindakan oknumnya bukan kelompok atau afiliasinya. (***).

Related posts