Korban Bertambah, New Normal Solusi Penanganan Pandemi Covid-19 ?

  • Whatsapp
Ummu Neysariela
Muslimah Bangka Belitung

Covid-19 semakin mengganas. Secara global korbannya (9/06/2020) mencapai 7,2 juta jiwa. Hampir 213 negara baik di benua Asia, Amerika, Afrika dan Eropa tidak berdaya menghadapi serangannya. Bahkan Amerika Serikat yang menyandang sebutan negara adidaya pun tersungkur menghadapi pandemi ini.

Semua aspek kehidupan lumpuh. Baik industri hiburan, pariwisata, ekonomi, pendidikan, kegiatan sosial, budaya atau keagamaan. Kecuali aktivitas kehidupan di rumah sakit. Gerak denyut aktivitas di dalamnya malah semakin kencang. Karena beban para tenaga kesehatan di rumah sakit bertambah. Bahkan tenaga kesehatan banyak yang kewalahan, karena jumlah korban terus meningkat. Hampir  semua daerah di Indonesia, jumlah kasus terinfeksi Covid-19 semakin bertambah. Provinsi Kepuluan Babel sendiri sudah ada cluster lokal dan angka positif terus naik hingga menjadi 121 orang per tanggal 9 Juni. Bahkan Surabaya diklaim menjadi zona hitam.

Ketidakberdayaan negara dalam menangani pandemi ini, memperpanjang masa berdiam diri masyarakat di rumah. Selama di rumah, tidak adanya jaminan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dari negara. Sedangkan masyarakat tidak ada pemasukan. Keuangan atau tabungan semakin menipis. Apalagi terjadi gelombang pemecatan pegawai, buruh dan pekerja dalam jumlah yang besar. Mirisnya di tengah penderitaan masyarakat, pemerintah justru menaikkan tarif fasilitas layanan publik. Seperti biaya listrik, BPJS dan gas melon. Kesulitan demi kesulitan hidup masyarakat semakin memperburuk keadaan. Di satu sisi masyarakat harus melakukan social distancing atau protokol kesehatan lainnya. Tetapi di sisi lain harus memenuhi kebutuhan hidup. Masyarakat harus bertaruh nyawa demi sesuap nasi keluarganya.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi hampir di seluruh negara-negara di dunia. Menyikapi kondisi ini, akhirnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa  tidak ada ‘cara cepat’ untuk melawan Covid-19. Direktur WHO untuk regional Eropa Dr.Hans Henri P Kluge juga menyatakan bahwa negara – negara di Eropa telah memasuki periode untuk menyesuaikan langkah dengan cepat. Langkah ini dengan meredakan pembatasan aktivitas masyarakat secara bertahap. Artinya, negara-negara maju di Eropa akan memulai diri untuk melakukan skenario new normal dalam menghadapi pandemi ini.

Baca Lainnya

Termasuk pemerintah Indonesia, ternyata juga mengikuti trend global dengan menggaungkan new normal atau pola hidup versi baru. New Normal yang menitikberatkan pada perubahan perilaku hidup sehat di tengah pandemi Covid -19. Dengan rajin cuci tangan, pakai masker, jaga jarak dan sebagainya. Aktivitas kehidupan terutama terkait ekonomi dibuka seperti biasanya. Menurut pemerintah cara seperti inilah yang tepat dalam menghadapi pandemi Covid -19. Karena pandemi ini belum bisa dipastikan kapan berakhirnya. Apakah akhir tahun 2020 atau 2021. Bahkan ada yang memprediksi pandemi bisa bertahan hingga 5 tahun kedepan.

Mengacu pada semakin bertambahnya jumlah korban yang terinfeksi Covid-19, patut dipertanyakan klaim pemerintah bahwa new normal cara yang tepat mengatasi pandemi. Karena urusan nyawa masyarakat tidak boleh dipandang sebagai urusan sebelah mata. Membiarkan rakyat bertaruh nyawa di saat pandemi Covid-19 mengganas, sama artinya dengan mengorbankan nyawa masyarakat untuk dijadikan ‘tumbal’ herd immunity. Ini menunjukkan bahwa negara ‘angkat tangan’  terhadap urusan nyawa masyarakat. Seharusnya menghadapi pandemi Covid-19 tidak bisa hanya ditumpukan pada tim medis semata. Tetapi penguasa dan peran negara harus menjadi garda terdepan menyelamatkan nyawa masyarakat. Harus ada telaah ulang terkait kebijakan new normal ini oleh pemerintah. Demi nyawa anak negeri.

 

Solusi Islam yang Terbaik

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya: Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah, ketimbang terbunuhnya nyawa seorang Muslim tanpa haq ( HR. Nasai, Turmudzi dan dishahikan al Albani).

Islam memandang berharga nyawa seorang muslim. Sehingga ada tuntunan dalam hukum syara’ untuk menjaga dan mneyelamatkan nyawa manusia. Banyak hukum syara’ yang menjelaskan cara mengendalikan wabah penyakit menular dalam hadis Rasulullah SAW. Tuntunan hukum syara’ tersebut, pertama yaitu karantina wilayah (lockdown). Sesuai dengan hadis Rasulullah SAW yang artinya: Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wikayah itu. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian kelaur dari wilayah itu ( HR al Bukhari).

Yang kedua, penjaminan kebutuhan pokok rakyat oleh negara bagi masyarakat yang wilayahnya diterapkan karantina wilayah. Karena dalam Islam kewajiban pemimpin untuk melayani rakyatnya dan mengurusi rakyatnya. Hal ini dicontohkan langsung oleh Umar bin Khattab Khalifah kaum muslim saat itu dalam menghadapi paceklik di Madinah. Khalifah Umar bin Khattab saat itu membagikan kebutuhan pokok secara cuma-cuma kepada rakyat Madinah, sehingga menghindari terjadinya kematian masal saat itu. Ketiga, bagi masyakat yang sakit terkena wabah, pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan yang memadai dan gratis. Karena Islam memandang kesehatan masyarakat sebagai kebutuhan yang asasi (utama) manusia.

Hanya dengan  tuntunan hukum syara’ seperti inilah pandemi Covid-19 akan mudah teratasi. Nyawa masyarakat pun akan terselamatkan. Syi’ar Islam dan ibadah masyarakat tetap berjalan. Termasuk roda ekonomipun terselamatkan.

Kalau melihat orientasi penguasa hari ini, dalam menangani pandemi atau hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara lainnya, sangat nampak melepaskan diri dari hukum-hukum Allah SWT. Penguasa mengabaikan syari’at Islam dan berhukum pada hukum buatan manusia yang diputuskan berdasarkan kepentingan penguasa atau pengusaha. Dari hari ke hari yang terjadi kebijakannya berdampak pada kesengsaraan masyarakat, bahkan nyawa pun jatuh menjadi korban. Sehingga diperlukan new system yang bersumber dari Islam (khilafah) yang merubah tatanan kehidupan bernegara sesuai dengan petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya. Agar tidak ada lagi kesengsaraan masyarakat akibat tidak berhukum pada hukum Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawabi.(***).

Related posts