by

Kontribusi Kritik Sosial dalam Pembangunan Nasional

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Kehidupan sosial memerlukan sistem penyeimbang (balance system) agar tidak terjadi kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh kelompok yang memiliki kekuatan. Salah satu bentuk (balance system) tersebut, yaitu adanya kritik sosial. Kegiatan ini berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya sistem sosial atau proses bermasyarakat. Setidaknya ada dua bentuk kritik sosial, pertama kritik sosial yang disampaikan langsung (demonstrasi/ unjuk rasa) kedua disampaikan secara tidak langsung melalui karya sastra.

Demonstrasi kerap kali muncul diakibatkan munculnya masalah sosial.
Dengan kata lain, adanya keadaan yang tidak sesuai antara kondisi saat ini dengan harapan masyarakat. Horton & Leslie mendefinisikan masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirasakan banyak orang tidak menyenangkan serta menuntut pemecahan melalui aksi kolektif. Sedangkan Jensen menjelaskan bahwa masalah sosial muncul karena adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan atau kesenjangan antara situasi yang terjadi dan situasi yang seharusnya (das Sollen dan das Sein).

Dari teori di atas kita bisa mengambil benang merah bahwa tatkala di tengah masyarakat terdapat realita yang buruk dan bertentangan dengan harapan masyarakat, keadaan ini memacu masyarakat untuk berbuat secara kolektif guna memecahkan masalah tersebut. Salah satu bentuk masalah sosial dapat berupa kekeliruan pemilik kekuatan dalam menetapkan suatu regulasi (kebijakan) yang menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial. Masyarakat tidak akan melakukan tuntutannya (demonstrasi, red) bila pemilik kekuatan yang mengurusi urusan masyarakat mengeluarkan regulasi yang pro pada kesejahteraan publik.

Aktivitas demonstrasi bukanlah aktivitas terlarang, sebab dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia hal tersebut telah di atur sedemikian rupa dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Oleh karena itu, penulis akan memaparkan beberapa jenis aksi demonstrasi guna meluruskan stigma negatif masyarakat terkait aksi demonstrasi ini. Diharapkan setelah ini, para aktivis yang peduli akan persoalan yang dihadapi masyarakat dapat melakasanakan aksi demonstrasi dengan tidak melanggar aturan yang berlaku.

Pertama, aksi demonstrasi konstruktif, yaitu aksi yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat dilandasi dengan kesadaran akan fakta yang rusak, kemudian mereka tergerak untuk melakukan sebuah perubahan guna memperbaiki fakta yang rusak tersebut. Jenis demonstrasi ini sangat terorganisir dan mengusung perubahan yang mendasar di tengah masyarakat serta memiliki konsep perubahan yang jelas, terukur dan terarah. Sebelum melakukan aksi, para pelakunya terlebih dahulu memenuhi syarat prosedural (administratif) melakukan aksi demonstrasi.

Gerakan ini murni dilakukan oleh masyarakat. Indikatornya sederhana, mereka melakukan aksi demonstrasi ini tanpa dibayar. Mereka bukanlah para pengangguran yang tidak ada kerjaan tatkala melakukan aksi demonstrasi, mereka adalah sekelompok masyarakat yang bergerak atas kesadaran dan keyakinan akan kondisi masyarakat yang jauh dari kondisi ideal. Aksi demonstrasi konstruktif ini memiliki karakter yang unik, yaitu mereka melakukannya dengan disiplin dan tanpa kekerasan (aksi anarkis).

Aksi ini biasa disebut dengan aksi damai, yang dilakukan guna merespon persoalan yang terjadi. Aksi demonstrasi konstruktif mengedepankan intelektualitas dalam merespon berbagai persoalan sehingga bersifat konstruktif (membangun). Sebelum aksi demonstrasi ini dilakukan, terlebih dahulu para pelakunya melakukan analisis masalah sosial, yaitu suatu upaya untuk mengidentifikasi, memahami tipe dan ciri dari masalah sosial, faktor penyebab dan akibat serta strategi untuk mengatasi masalah sosial yang ada.

Selain itu, mereka yang melakukan aksi demonstrasi konstruktif ini beranggapan bahwa untuk mencerdaskan dan menyadarkan masyarakat bahwa mereka berada pada kondisi yang tidak ideal tidak cukup hanya dengan melakukan aksi demonstrasi. Aksi ini bagi mereka merupakan salah satu uslub (cara) dalam mengadvokasi kepentingan masyarakat. Mereka tidak berhenti sampai disini, cara lain yang mereka lakukan, yakni dengan membuka forum-forum diskusi, seminar hingga melakukan audiensi pada pihak yang terkait/ berwenang.

Pembaca yang budiman, di dalam Islam, aksi demonstrasi konstruktif ini dikenal dengan nama mashiroh. Ketika menerima wahyu dari Allah Swt untuk dakwah secara terang-terangan, Rosululloh Saw dan para sahabat berkumpul di suatu tempat, kemudian berjalan menuju ka’bah sambil menyampaikan seruan kepada penduduk Quraisy untuk mentauhidkan Allah Swt secara terbuka. Tidak hanya itu, mereka menyampaikan kekeliruan-kekeliruan para penguasa Quraisy dalam mengurusi Penduduk Makkah.

Dari siroh nabawiyah di atas, penulis paparkan bahwa aksi yang dilakukan Rasulullah SAW tersebut tidak menggunakan kekerasan (anarkis), malah pada saat itu Rasulullah SAW
dan para sahabat dilempari pakai batu, dihadang pakai ranting dan kayu yang dibakar oleh pamannya Abu Lahab. Rasulullah SAW dan para sahabat mendapatkan tindakan anarkis dari penduduk dan pejabat bani Quraisy yang pada saat itu jahil. Banyak hikmah dan pelajaran bisa diambil dari apa yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat ketika mereka melakukan mashiroh (aksi demonstrasi konstruktif, red). Beliau melakukan itu semua dalam rangka mengawal agar kondisi sosial saat itu kembali pada jalan yang lurus berdasarkan wahyu dari Allah SWT.

Kedua, aksi demonstrasi destruktif, yaitu aksi sosial yang tidak murni dilakukan oleh masyarakat. Biasanya jenis demonstrasi ini sarat akan kepentingan kelompok/ golongan tertentu. Mereka berdemonstrasi seolah atas nama masyarakat padahal kepentingan golongannya yang sedang diperjuangkan dengan menghalalkan semua cara. Demonstrasi jenis ini dilatarbelakangi oleh kekecewaan yang mendalam terhadap persoalan yang dihadapinya. Seringkali mereka yang melakukan demonstrasi cenderung bertindak anarkis/ emosi yang memuncak, tidak lahir dari pikiran yang konstruktif (membangun). Bakar-bakar ban dan pandalisme (merusak fasilitas umum) bagian dari aktivitas demonstrasi ini. Aksi tersebut rentan ditunggangi oleh kepentingan tertentu.

Kelemahan dari aksi ini tidak memiliki konsep yang jelas terkait perubahan yang diusung. Penulis pernah menghadiri seminar yang diadakan oleh salah satu kampus dengan tema HAM dan demokrasi. Salah satu pembicara mengatakan. “Saya tidak yakin, mahasiswa yang berdemonstrasi tersebut murni mereka lakukan untuk membela hak rakyat. Bisa jadi ketika ditanya mereka tidak memiliki konsep (solusi) atas yang mereka demo.” Sebenarnya ini bisa dijadikan indikator bahwa aksi demonstrasi anarkis bersifat temporal (sebentar) dan cenderung tidak serius dalam mengusung perubahan sejati. Toh mereka tidak memiliki konsep (perubahan) itu.

Di akhir pembahasan, penulis berharap dengan adanya tulisan ini membuka wacana baru di tengah persepsi masyarakat yang memandang sebelah mata para pendemo, menuduh mereka tukang rusuh, mereka pemberontak (baca: makar), mereka sekelompok pengangguran yang frustasi, dll. Dengan demikian, suatu saat apabila pembaca melihat dan mendengar aksi demonstrasi di jalanan yang pertama kali dilakukan adalah menganalisa demonstrasi tersebut termasuk ke dalam kategori apa. Seandainya indikator dan ciri demonstrasi tersebut masuk ke dalam aksi demonstrasi destruktif, masyarakat sudah seharusnya antipati kepada para pelaku aksi demonstrasi ini, karena aksi tersebut cenderung merusak.

Sedangkan bila demonstrasi yang dilihat dan didengar termasuk ke dalam demonstrasi yang dilakukan murni oleh masyarakat dan bersifat konstruktif (baca: mashiroh), penulis rekomendasikan untuk bersimpati bila perlu turut serta dalam aksi tersebut. Mengapa harus turut aksi? Jawabannya, karena aksi tersebut sudah pasti bertujuan baik bagi masyarakat dan bersifat membangun kondisi yang ideal.

Pembaca yang budiman, melalui wasilah demontrasi konstruktif, diharapkan masyarakat menjadi lebih cerdas dan sadar bahwa kondisi mereka tidak berada pada kondisi ideal sehingga mereka terdorong untuk bangkit dari kondisi tersebut. Selain itu, mendorong masyarakat untuk peduli pada sesama angota masyarakat di lingkungannya. Bagi pemilik kekuatan yagn mengurusi masyarakat, dengan adanya aksi ini mendorong mereka untuk lebih meningkatkan kualitas kerja dan pelayanan masyarakat. Pemilik kekuatan menjadi tahu kekurangan mereka dalam mengurusi rakyat, sehingga regulasi yang akan ditetapkan sebelum dan sesudahnya di monitoring dan dievaluasi guna melakukan perbaikan-perbaikan dalam pelayanan sosial terhadap masyarakat.

Pemilik kekuatan yang senang dikritik dan senantiasa melakukan evaluasi dan perbaikan atas kinerjanya. Lihat saja Umar bin Khottob, ketika menetapkan harga mahar (pernikahan yang terlalu tinggi, ada seorang nenek tua yang protes kepadanya dan berkata, “wahai Umar, tidakkah kau mengetahui selama Rasulullah SAW hidup, Ia tak menetapkan harga mahar yang begitu tinggi sebagaimana yangg engkau tetapkan?” Mendengar perkataan sang nenek tersebut, Umar kemudian berkata, “Nenek tersebut benar dan Umar Salah.” Subhanallah begitu indah kepribadian seorang Umar yang berwatak tegas dan keras. Akhirnya, ia menarik kembali ketetapannya tersebut.

Siapa yang tidak mengetahui Umar, dialah Amirul Mukminin yang dihormati rakyatnya, disegani lawannya dan ditakuti oleh golongan bangsa jin dan setan. Tatkala Iblis melewati sebuah jalan dan berpapasan dengan Umar, Iblis lari tunggang langgang dan mencari jalan lain yang tidak dilewati oleh Umar. Wataknya yang tegas dan keras, tak membuat hati dan pikirannya keras. Ia menerima kritikan dan masukan dari siapapun rakyatnya. Beginilah hendaknya pemilik kekuatan dalam menyikapi setiap aksi demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat. “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim). Wallohu’alam [****]

Comment

BERITA TERBARU