by

Konsumsi Rokok Babel Tertinggi di Indonesia

-NEWS-500 views

Data Riskesdas Tahun 2013
Satu Hari 18 Batang Rokok
8,8 Persen Anak Perokok

Pangkalpinang – Meski hanya berpenduduk 1,4 juta jiwa, ternyata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) tercatat menjadi daerah pengonsumsi rokok tertinggi di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, konsumsi rokok di Provinsi Babel mencapai 18,3 batang per hari, dengan persentase perokok pria 40 persen.
Kepala Sub Direktorat Pembinaan Paru Kronis dan Gangguan Imunologi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Theresia Sandra mengatakan dari data 2013, jumlah perokok di Babel merupakan hasil angka prevalensi 37 persen perokok (pria dan wanita) di Indonesia.
“Di Indonesia ini ada 37 persen perokok, 68 persen di antaranya adalah perokok laki-laki,” ujarnya, usai Seminar Kesehatan Penyakit Tidak Menular Dalam Rangka Memperingati Hari Anti Tembakau Sedunia Tahun 2018, dengan tema “Rokok Penyebab Sakit Jantung dan Melukai Hati Keluarga” di Bangka City Hotel, Pangkalpinang, Kamis (17/5/2018).
Untuk di Babel, dia turut prihatin angka konsumsi rokok cukup tinggi bahkan persentasenya melebihi angka nasional.
“Angka konsumsi rokok di Babel 18 batang dalam sehari, persentasenya mencapai 40 persen, angka ini sekaligus menempatkan Babel peringkat tertinggi di Indonesia, terendah itu Jogja,” tukasnya.
Menurut dia dalam sebarannya angka itu menjelaskan, rokok dikonsumsi oleh perokok berusia 15 tahun ke atas. Namun ada katagori perokok anak di Babel yang cukup tinggi yakni diusia 10-18 tahun mencapai 8,8 persen.
“Makanya Kemenkes melakukan banyak hal, menekan jumlah perokok ini,” tukasnya.
Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi (Sekdarov) Babel, Yan Megawandi mengakui dari data Riskesdas ini Babel memegang dua hasil negatif, yakni penderita hipertensi tertinggi dan perokok tertinggi.
“Kita evaluasi, apakah kebijakan menurunkan penderita penyakit gak menular dengan melakukan kebijakan memperkuat KTR di Babel, terus diskusi, nanti akan sempurnakan strategi untuk makin memperkuat kawasan tanpa rokok, kita ingin mewariskan lingkungan jauh lebih baik,” bebernya.
Disinggung tentang pajak rokok yang seharusnya maksimal didapatkan Babel karena jumlah perokoknya tertinggi di Indonesia, Yan menjelaskan bahwa hal itu diatur pusat. Babel menurutnya hanya mendapatkan bagi hasil pajak rokok saja, dan ini menurutnya harus dipertimbangkan secara komprehensif.
“Kalau dari sisi pendapatan dapat satu sementara yang keluar dua, meskipun pajak rokok menyumbang pendapatan tetapi kalau yang sakit lebih banyak ya jadi bahan pemikiran,” imbuhnya.
Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Babel, Mulyono Susanto menambahkan, tahun ini akan ada riset kesehatan dasar lagi yang dilakukan Kemenkes, dan datanya akan diperoleh pada tahun 2019. Dia berharap angka tahun 2013 terkait hipertensi dan konsumsi rokok ini bisa menurun.
“Salah satu upaya kita melakukan sosialiasi dan pencegahan merokok, menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dan kampanye tanpa rokok,” ujarnya.
Adanya iklan di kotak rokok pun menurutnya juga menjadi upaya menurunkan perokok, karena setidaknya dengan melibat gambar bisa membuat perokok menjadi menguranginya.
“Permenkes 2017, mewajibkan setiap bungkus ada gambar peringatan, diharapkan dari itu sebagian besar dari iklan memberi pengaruh, kalau tidak ada yang melawan makin parah,” tandasnya.
Kedepan, Mulyono berharap semakin banyak KTR di Babel. Pihaknya akan memulai dari lingkungan instansi pemerintahan di Pemprov Babel terlebih dahulu.
“Harus ada satgasnya dulu, memang Perda KTR di Babel sudah disahkan tahun lalu, namun belum maksimal, makanya kedepan kita harapkan bisa diterapkan,” pungkasnya. (nov/1)

Comment

BERITA TERBARU