Konsumsi ASI, IQ Anak Jadi Lebih Tinggi

  • Whatsapp

Dua Tahun Bisa Hemat Rp60 Juta

PANGKALPINANG – Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Kesehatan dan Kesejahteraan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Hendra Jamal’s mengajak para ibu untuk memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada anaknya ketimbang susu formula. Dengan memberikan ASI bisa membuat Intelegent Quotient (IQ) anak lebih tinggi.

“Anak dengan ASI, ia akan lebih cerdas, tujuan kita adalah menjadikan anak tak hanya pintar, tetapi cerdas dan punya hati atau jiwa yang lebih peka, lebih lembut serta memiliki keterikatan jiwa dengan ibunya, sehingga ia lebih sayang dan menjadi anak penurut,” kata Hendra saat sosialisasi ASI Eksklusif, Gizi Seimbang dan Pembatasan Gula Garam Lemak (GGL) Bagi Keluarga sebagai Pelopor dan Pelapor (2P) di salah satu hotel, Kamis (21/2/2019).

ASI, tambahnya, wajib diberikan untuk bayi hingga dua tahun dan selama enam bulan ekslusif tanpa tambahan makanan atau minuman lainnya, setelah diatas enam bulan baru diberikan makanan pendamping ASI. Menurut dia, dalam ASI, memiliki banyak kandungan gizi, bahkan lebih baik dibandingkan susu formula yang katanya memiliki beragam kandungan gizi.

“Memberikan ASI, juga menghemat biaya hingga Rp60 juta selama dua tahun, tetapi angka ini bisa lebih tinggi tergantung susu formula yang diberikan. Rp60 juta ini dihitung dengan susu yang harganya murah, misalnya satu bulan bayi menghabiskan berapa banyak dus susu, dikalikan harga dan dikali selama ia diberikan susu. Kalau sekarang mungkin harganya jauh lebih tinggi lagi, karena harga susu pasti meningkat,” katanya.

Hendra menyayangkan masih banyak ibu-ibu yang enggan memberikan ASI kepada bayinya. Penyebabnya pun beragam, mulai dari orangtua atau ibu yang malas memberikan ASI dengan alasan sakit, payudara menjadi kendor hingga takut gemuk.

“Di Indonesia data pemberian ASI eksklusif baru 39,2 persen, masih sedikit sekali, artinya masih banyak bayi yang diberikan susu formula. Kalau yang bekerja, pertama bisa saja karena dia malas memberikan ASI, kedua karena di tempat kerja tidak ada ruangan khusus untuk ASI, tidak ada kulkas untuk penyimpanan asi yang sudah dipompa,” jelasnya.

Dia berharap kedepan, akan semakin banyak para ibu yang memberikan ASI kepada anaknya setelah mengetahui manfaatnya. Kepada pemerintah dan swasta, dia berharap juga dapat mendukung dengan menyediakan ruangan khusus ASI, bukan hanya sekedar ruangan pojok ASI, tetapi dilengkapi dengan fasilitas yang membuat nyaman.

“Bukan hanya pemerintah, tetapi di pusat-pusat keramaian dan perbelanjaan pun semestinya dibuatkan ruangan khusus ASI, sehingga mempermudah ibu-ibu menyusui anaknya. Keluarga juga berpengaruh, memberikan motivasi dan dorongan untuk memberikan ASI kepada anak,” pungkasnya.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Setda Pemprov Bangka Belitung (Babel), Toni Batubara mengatakan salah satu upaya pemerintah mencegah anak dengan katagori kekurangan gizi atau stunting dengan lebih menggencarkan sosialisasi ASI hingga pemenuhan gizi kepada bayi hingga balita.

Dia menyebutkan, mendapatkan gizi yang baik dan cukup merupakan hak dasar yang harus dipenuhi guna menunjang proses tumbuh kembang anak yang optimal. Salah satunya, dengan upaya peningkatan kualitas anak Indonesia yang dilakukan sejak sekarang dan berkesinambungan, bahkan pemenuhan gizi harus dipenuhi sejak bayi dalam kandungan.

“Masih dijumpai masalah pemenuhan gizi anak seperti status gizi rendah, stunting dan gizi berlebihan pada anak, ini menjadi PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan bersama,” kata Toni dalam sosialisasi tersebut.

Dia berharap, dengan adanya sosialisasi tersebut dapat menyebarluaskan informasi tentang pentingnya ASI eksklusif, gizi seimbang dan pembatasan GGL (gula, garam, lemak).(nov/10)

Related posts