Konspirasi Anjing

  • Whatsapp

Karya : R Sutandya Yudha Khaidar

‘Ia bilang aku akan mati empat hari lagi! Empat hari lagi! Tepat pukul enam pagi!’

Jam berlalu begitu cepat. Andre Kecil mengacak rambutnya yang kusut dan bercat kuning tembaga. Kipas angin besar di langit-langit kedai minum itu menderum-derum. “Tidak adakah yang bisa menghentikan kipas angin itu? Sungguh aku benci mendengar suaranya!” teriaknya. Beberapa pengunjung kedai menoleh ke arahnya. Beberapa seolah tak peduli.

Pelayan berdada besar dengan langkah pendek mendekati Andre Kecil. “Kau boleh mabuk semampumu. Tapi kau tak boleh bikin rusuh di sini,” katanya seraya menyunggingkan senyum galak. Bibirnya merah menyala. Giginya putih bersih.“Kau tak tahu apa yang terjadi!” teriak Andre Kecil. Sejumlah gumpalan ludah bacin terlontar dari liang mulutnya. Matanya merah. Wajahnya merah. Matanya tinggal segaris. Namun dari celah sempit itu, si pelayan tahu bahwa Andre Kecil tengah ketakutan.

Perempuan tiga puluhan tahun yang masih betah melajang itu tahu siapa Andre Kecil dan bagaimana lelaki itu mendapatkan reputasinya yang menakutkan. Badan Andre Kecil boleh kurus dan mini untuk ukuran seorang lelaki, seratus empat puluh tiga sentimeter dan tiga puluh tujuh kilogram dan postur itulah yang bertanggungjawab terhadap julukan “Kecil” di belakang nama aslinya.

Namun keberanian dan kebrutalannya tak tersangsikan lagi. Dalam sebuah perang memperebutkan lahan parkir liar di pasar kecamatan, Andre Kecil yang waktu itu masih berusia enam belas tahun, sebelas tahun yang lampau, membuntungi lengan kiri Jon Badas, preman penguasa pasar kecamatan yang tengah berada pada masa-masa jayanya dan konon memiliki ilmu kebal yang didapat setelah bersekutu dengan jin-jin dari lereng Gunung Lawu.

Dan siapa yang tidak tahu bahwa Andre Kecil adalah orang yang bertanggungjawab terhadap pembegalan truk-truk pengangkut beras atau gula yang melintas di jalan raya Pantura. Dua kali ia dikirim ke Lapas Nusakambangan, masing-masing dua dan tiga tahun untuk kasus penodongan dan pembobolan sebuah toko kelontong. Dan di dalam penjara itu, ia menempatkan dirinya sebagai penguasa yang disegani dan ditakuti berkat ketangguhannya menundukkan sejumlah tahanan lain yang terkenal garang. Karena itu, pikir si pelayan, adalah hal yang luar biasa mengetahui ada semacam ketakutan di bola mata Andre Kecil.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya pelayan itu seraya meletakkan pantatnya yang besar dan bulat pada kursi kosong di sebelah Andre Kecil. “Aku akan mati! Kau tahu, aku akan mati!”
“Semua orang akan mati. Memang sudah begitu adanya”. “Bukan begitu! Aku akan mati empat hari lagi! Empat hari lagi! Tepat jam enam pagi!”. “Kau mabuk, Ndre. Karena itu ucapanmu ngawur. Sudah, jangan minum lagi. “Justru aku mabuk karena aku tahu aku akan mati empat hari lagi! Empat hari lagi! Tepat pukul enam pagi!” “Tidak ada orang yang tahu kapan mereka mati, kecuali mereka yang menerima hukuman mati!” “Tapi aku tahu. Aku tahu. Aku tahu karena Kiai Jakfar sudah memberitahuku.” “Kiai Jakfar?”
“Ya. Kiai Jakfar yang konon kalau salat Jumat di Masjidil Haram itu, yang kata orang pernah dan mendapatkan berkah dari Nabi Khidir itu. Aku benar-benar tolol. Semalam, murni karena iseng dan bosan, aku menyatroni rumahnya. Aku masuk dengan mencongkel pintu belakang rumahnya. Aku ingat, waktu itu pukul setengah dua dini hari. Dan kau tahu apa yang kutemukan setelah aku masuk?”.

Pelayan menggeleng namun benaknya menghadirkan sosok Kiai Jakfar yang tinggi, kurus, berjenggot tebal, dan kehidupannya dipenuhi cerita-cerita ajaib yang sudah menjadi pengetahuan umum orang-orang, meski si pelayan tersebut tidak pernah membuktikan kebenaran cerita itu satu pun.

“Kiai Jakfar sendiri! Apa kau percaya? Kiai Jakfar ngelesot di lantai. Lengkap dengan sarung kotak-kotak, baju koko, dan kopiah hitamnya. Dan dia menyambutku dengan sebuah senyuman. Kau tahu apa yang dikatakannya? Dia mengatakan kalau dia sudah menungguku. Awalnya, begitu melihatnya, tubuhku terasa kaku. Namun ucapan Kiai Jakfar yang mempersilakanku duduk di depannya sekaligus menawarkan rokok, membuat tubuhku bisa bergerak lagi meski aku tak bisa berkata apa-apa. Lalu ia bilang bahwa ia ingin menyampaikan sebuah hal penting padaku. Kau tahu apa kabar penting itu?” Si pelayan kembali menggeleng.“Ia bilang aku akan mati empat hari lagi! Empat hari lagi! Tepat pukul enam pagi!” “Bagaimana dia tahu kalau kau akan mati empat hari lagi tepat pukul enam pagi?” “Ia bilang itu sudah tertulis di keningku. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya. Kiai Jakfar termasuk di dalamnya”. “Lalu kenapa dia memberitahukanmu kabar buruk itu?”
“Supaya aku bertobat dan memperbanyak ibadah.”
“Cukup masuk akal. Tapi kau tahu, itu semata bualan. Kalau kau pernah mengaji, walaupun aku yakin kau tak pernah mengaji, kau akan tahu bahwa manusia yang paling dekat dengan Tuhan adalah Nabi Muhammad SAW. Dan beliau sendiri saja tidak tahu kapan beliau akan mati. Sekarang aku tanya kepadamu, lebih suci mana Kiai Jakfar atau Nabi Muhammad? Mana yang lebih dekat dengan Tuhan antara Nabi Muhammad dan Kiai Jakfar?”
Andre Kecil terdiam. Lantas meraih gelas dan mengosongkan isinya dengan sekali tegukan kasar.
“Aku takut mati,” gumam Andre Kecil akhirnya.
“Semua orang, atau mungkin lebih tepatnya sebagian besar orang di dunia ini takut mati. Kau tidak sendirian. Kau tidak perlu memikirkannya. Atau kalau kau memang terus kepikiran dan yakin kalau kau benar-benar akan mati empat hari lagi tepat pukul enam pagi, kau harusnya menuruti saran Kiai Jakfar. Kau seharusnya memperbanyak ibadah dan bukannya mabuk-mabukan di sini. Jangan salah sangka. Tentu saja aku bukan orang alim atau salih. Penghidupanku juga bergantung pada para pemabuk, termasuk kau. Tapi aku benar-benar tidak tega melihat kondisimu yang mengenaskan dan menderita seperti ini.”
“Aku mabuk justru karena aku takut akan mati. Sepulangnya dari rumah Kiai Jakfar, aku mencoba sembahyang. Namun aku tak mampu. Bayangan akan mati terus menghantuiku. Kau mengerti maksudku? Kau bisa membayangkan apa yang aku rasakan kan? Aku tak mampu melakukan apa-apa. Aku benar-benar takut. Sungguh!”
“Kalau begitu, Ndre, kenapa kau tidak memelihara seekor anjing saja? Kau percaya, dalam kitab suci atau hadist, aku lupa yang mana, disebutkan bahwa malaikat tidak akan mendekati rumah yang ada anjingnya. Dengan begitu, kau akan aman. Maksudku, malaikat maut tidak akan masuk ke rumahmu untuk mengambil nyawamu bila di rumahmu ada anjing dan kau diam saja di rumahmu pukul enam pagi empat hari dari sekarang. Kau mengerti maksudku?”
Andre Kecil memegang kepalanya dengan kedua tangan yang ditopangkan pada permukaan meja. Jari-jemarinya menjambaki rambutnya sendiri. “Aku tidak ingin mati! Aku tidak ingin!” dengusnya.
“Aku temanmu, Ndre. Percayalah padaku, apa yang dikatakan Kiai Jakfar, kalau saja ia memang mengatakan hal itu, pastilah lelucon belaka. Tak ada orang yang tahu kapan ia akan mati, atau kapan orang lain akan mati. Sudahlah, kau butuh istirahat dan aku mesti kembali bekerja.”
Si pelayan bangkit dari kursinya. Berjalan ke belakang. Menggeleng-gelengkan kepala. Menggumam pelan, “Ada-ada saja orang yang sedang mabuk.” Andre Kecil menatapnya tajam. Matanya mendadak berkilau.
“Woi… Beri meja ini satu botol oplosan lagi,” seseorang berteriak.
“Tunggu sebentar,” jawab si pelayan.

****
Cuaca cerah. Suhu dingin. Gonggongan anjing mengambang di udara terbuka. Pukul delapan lebih enam. Orang-orang bergerombol di rumah Andre Kecil.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” seseorang bertanya.
“Andre Kecil mampus. Tubuhnya dimangsa anjing yang baru ia pelihara sejak beberapa hari yang lalu. Lehernya putus. Dan kepalanya menggelinding ke sana ke mari. Mang Jai yang pertama mengetahui kejadian itu. Dia mendengar teriakan Andre Kecil sekitar jam enam pagi. Mang Jai yakin Andre Kecil lupa memberi makan anjing itu sehingga si anjing yang marah dan lapar menyerang Andre Kecil.
“Lalu di mana anjing itu sekarang?”
“Itu, di belakang rumah. Diikat di batang jambu. Orang-orang berhasil menangkapnya tadi.”

Pelayan kedai minum itu ada di antara kerumunan orang-orang. Begitu pula Kiai Jakfar. Dan ketika pandangan Kiai Jakfar bertubrukan dengan pandangan pelayan itu, si pelayan buru-buru menundukkan muka dan menyelinap di antara kerumunan.(**)

Related posts