Konsisten Melawan Coronavirus

  • Whatsapp
Saripudin Tanjung
Mahasiswa Fakultas Hukum UBB

Sadar atau tidak, sudah kurang lebih empat  bulan kita hidup bersama Coronavirus disease 2019 (Covid-19). Sampai saat ini, belum dapat diprediksi kapan situasi darurat Covid-19 ini, akan berakhir. Pandemi Covid-19 sejauh ini, masih berlanjut. Pemerintah dan Tim Medis masih bekerja ekstra dalam  menghadapi penyebaran virus corona yang masih saja meningkat setiap harinya dengan beberapa melaporkan kesembuhan. Hingga 30 Juni 2020 telah ada 55.092 kasus positif Covid-19 dengan 2.876 kematian. Pandemi Covid-19 telah membunuh lebih dari 494.489 orang dan menginfeksi 9 juta lebih manusia di seluruh dunia sebagaimana sumber data dari Kementerian Kesehatan 6 Juni 2020. Hal itu menunjukan kepada kita bahwa ancaman Covid-19 masih menghantui, sehingga kita semua harus tetap waspada.

Pertengahan Mei lalu, melalui pernyataan resmi di Istana Negara Jakarta, Presiden Joko Widodo mengatakan, masyarakat harus dapat hidup berdampingan dan berdamai dengan Covid-19. Pemerintah menilai hal tersebut penting dilakukan agar pukulan pandemi terhadap kehidupan sosial ekonomi tak memburuk. Wacana pemerintah yang akan melakukan Penerapan Normal baru sebagai bentuk berdamai dengan Covid-19 harus terlebih dahulu  memenuhi  berbagai persyaratan dan kesiapan yang matang. Setidaknya ada enam persyaratan yang ditetapkan World Health Organization (WHO) dalam penerapan normal baru. Syarat-syarat itu, antara lain keberhasilan mengendalikan transmisi virus. Selain itu, ada kapasitas yang memadai untuk  menangani Covid-19, mulai dari fasilitas kesehatan  hingga kemampuan mendeteksi  dan menguji Covid-19. Kemapuan meminimalkan risiko penyebaran di tempat-temapt beresiko tinggi juga harus diperhatikan. Secara singkat, new normal (normal baru) dapat diartikan sebagai penyesuaian baru dalam tatanan kehidupan, yang mendorong masyarakat untuk berprilaku hidup bersih dan sehat.

Namun, akhir-akhir ini, sering kita lihat dalam tahapan fase menuju normal baru, sebagian warga seperti merayakan euforia setelah dua bulan lebih aktivitasnya dibatasi, kegiatan sehari-hari dilakoni bagai  situasi  sebelum  pandemi Covid-19 terjadi. Kemudian, masih ada masyarakat yang memahami istilah normal baru sama dengan situas normal sebelumnya. Padahal, keduanya sama sekali berbeda dalam normal baru ini, ada protokol kesehatan yang harus diterapakan mulai dari jaga jarak fisik menggunakan masker, hingga cuci tangan serta pola hidup bersih dan sehat. Pemahaman masyarakat mengenai bagaimana menjalani kehidupan normal baru ini sangat penting, begitu pula dengan penerapan protokol kesehatan. Sosialisasi dari pemerintah terkait konsep penerapan kehidupan normal baru sangat di perlukan untuk mengedukasi masyarakat agar memberikan dan menumbuhkan pemahaman dalam diri masyarakat untuk tetap waspada dan konsiten mematuhi protokol kesehatan. Karena konsistensi masyarakat dalam melawan Covid-19 sangat menentukan keberhasilan mengakhiri pandemi ini.

Melalui tulisan ini, Penulis ingin memberikan semangat, motivasi, dan  kewaspadaan agar kita senantiasa konsisten  melawan dan mengakhiri pandemi Covid-19 ini. Konsisten dalam tulisan ini, memiliki akronim yaitu ( Kontinu, Siaga, dan Tenggang Rasa), yang menurut hemat penulis tiga hal tersebut bisa menjadi kunci dan harus diapalikasikan menuju kehidupan normal baru, dalam rangka tetap konsiten melawan coronavirus.

Baca Lainnya

Tentunya melawan Coronavirus harus dilakukan secara Kontinu, yang menurut KBBI berarti berkesinambungan, berkelanjutan, terus menerus. Dalam perang menghadapi Covid-19 dibutuhkan keberlanjutan sampai coronavirus ini, benar-benar berakhir. Jadi, setiap kita harus tetap disiplin  dalam menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari menggunakan masker ketika hendak berpergian,  jaga jarak fisik, rajin mencuci  tangan, membawa hand sanitizer, dan menerapakan pola hidup sehat. Kita harus menyadari, ancaman Covid-19 belum berakhir. Sehingga perang melawan coronavirus harus terus-menerus dilakukan, salah satunya dengan disiplin mematuhi protokol kesehatan. Apa yang kita lakukan sekarang tidak boleh menciptakan potensi penularan yang baru.  Oleh karena itu, protokol kesehatan merupakan harga mati. Kita harus disiplin menjalankan dan mematuhinya. Jadilah patriot dengan tidak menjadi sumber penularan kepada orang lain. Mari kita tingkatkan kedispilinan, karena tingkat kedisiplinan menjadi kunci keberhasilan dalam menahan laju penyebaran coranavirus apalagi kita sedang menuju masa transisi kehidupan normal baru.

Kemudian Siaga, atau bersiap siaga, karena kesiagaan masyarakat atas kondisi penularan  masih sangat diperlukan untuk menghindari penularan. Sebab, potensi penularan itu masih ada, karena penyebaran coronavirus sangat cepat dan tidak terlihat. Pada tanggal 8 Juni 2020 Pemerintah menetapkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 41 tahun 2020 tentang perubahan atas Permenhub 18 Tahun 2020 tentang Pengendalian  Transportasi  Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19. Permenhub tersebut, berisi pelonggaran kapasitas angkut, protokol kesehatan, pengendalian hingga sanksi bagi pelanggar. Dengan dikeluarkanya Permenhub tersebut, aktivitas dijalanan menunjukan adanya pelonggaran, jalanan mulai ramai begitu juga dengan ruang-ruang publik. Kemudian pembukaan aktivitas ekonomi yang berdampak pada peningkatan aktivitas perjalanan atau pergerakan orang melalui transportasi. Sehingga kita harus tetap siaga, apalagi sedang ada di kerumunan atau ruang publik.

Namun masih saja ada warga yang melanggar protokol kesehatan  termasuk dalam kerumunan. Misalnya sering ditemukan ada warga yang menggunakan masker hanya jika sedang ada razia dari Satuan polisi Pamong Praja (Satpol PP). Ada yang hanya berjaga-jaga, dalam artian mereka membawa masker akan tetapi tidak dipakai atau mengguakan masker tetapi dileher. Kemudian masih banyak aktivitas penjual dan pembeli dempet-dempetan. Juga masih terlihat penjual atau pedagang tidak bermasker, tidak bersarung tangan, tidak menyediakan hand sanitizer, dan tidak disiplin jaga jarak fisik dengan sesama. Begitu pula dengan  konsumen masih ada saja yang mengabaikan protokol kesehatan.

Meskipun ada pelonggaran, kita harus tetap siaga jangan lengah apalagi di tengah kerumunan. Jangan merasa ancaman Covid-19 sudah tidak ada, jangan menganggap kita saat ini sudah bisa beraktivitas, seperti seolah-olah sudah melewati ancaman Covid-19, semua harus tetap siaga. Tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan ketika akan menjalani aktivitas, terutama di luar ruang atau ruang publik.

Selanjutnya, Tenggang Rasa, atau toleransi  dan gotong-royong di masa-masa sulit seperti sekarang ini sangat dibutuhkan dan perlu di tingkatkan, karena pada saat seperti inilah persatuan dan persaudaraan di uji. Saling menghargai dan mendukung adalah kunci keberhasilan membendung Covid-19. Kita sebisa mungkin harus saling membantu sesama dalam meringankan beban yang sedang kesusahan. Banyak cara yang bisa dilakukan dalam rangka saling membantu di tengah pandemi ini salah satunya dengan berdonasi, karena  sudah banyak juga situs penggalangan dana berbasis daring. Agar kita sebagai warga negara bisa menjadi bagian yang mensejahterakan masyarakat karena negara tidak bisa sendirian menjamin kehidupan masyarakat pada masa pandemi ini. Karena sejumlah negara, bahkan Negara adidaya Amerika Serikat pun kewalahan memulihkan dampak ekonomi dan sosial akibat Covid-19 ini.

Kita ketahui bersama bahwa memang membiasakan diri guna mengubah  kenyamanan rutinitas bukanlah hal yang mudah. Tetapi, sikap adaptif pada kondisi pandemi sudah semestinya terus dibangun. Hal  ini menjadi upaya perlindungan terhadap diri kita sendiri dan orang lain agar terhindar dari penularan Covid-19. Kini, semua orang punya tanggung jawab dalam menentukan keberhasilan normal baru. Rasa tanggung jawab ini, penting di tengah kehidupan tatanan baru yang sebenarnya masih diselimuti bayangan peningkatan kasus pandemi setiap saat bisa saja terjadi.

Oleh karena itu, kesadaran kita mempriorotaskan protokol kesehatan dalam aktivitas luar ruangan merupakan kunci mencegah penyebaran dan penularan Covid-19. Semua bisa terwujud jika setiap warga menjalankannya dengan penuh tanggung jawab dan konsisten dimana pun kita berada. Epidemiologi Universitas Airlangga Windhu Purnomo menyatakan, kepatuhan otoritas dan masyarakat benar-benar menentukan keberhasilan penanganan wabah Covid-19 ini. Pengawasan pemerintah dan kedisplinan masyarakat di tengah pandemi ini, harus diterapakan secara ketat, agar tidak menjadi problem baru pandemi. Mari kita tingkatkan kewaspadaan, jangan lengah waspadai risiko di tengah kerumunan, sebisa mungkin jaga diri sendiri dengan jaga jarak fisik dan pakai masker. Terakhir, tentunya kita semua berharap semoga pandemi Covid-19 ini, segera berakhir. (***).

 

Related posts