Konsep Tabularasa dalam Pendidikan Islam

  • Whatsapp
Foto ilustrasi

Santi Virgianti, M.Pd.I

Guru SMK Negeri 1 Kelapa

Muat Lebih

Pendidikan dari kedua orang tua sangatlah penting dan mempengaruhi bagi masa depan anak. Ada teori yang mengatakan bahwa seorang anak tergantung dari pendidikan yang diberikan orang tuanya. Para tokoh behavioris percaya, seorang lahir bagaikan sebuah “kertas kosong”, atau dalam bahasa Latin disebut tabularasa. Tanpa adanya kecenderungan bawaan untuk berperilaku. Kemudian, selama beberapa tahun, lingkungan akan “menulis” pada kertas kosong ini, membentuk secara perlahan atau mengkondisikan individu menjadi seseorang yang memiliki karakteristik dan cara berperilaku yang unik.

Konsep ini juga disetujui oleh Empirisme. Para tokoh Empirisme berpandangan bahwa jiwa adalah kosong yang menunggu isinya, berupa pengalaman, bagaikan kertas kosong yang menunggu isinya berupa tulisan dan perkembangan jiwa tidak ada batasnya. Konsep tabularasa ini sejalan dengan pendidikan Islam. Rasul Allah SAW bersabda ”Setiap bayi dilahirkan atas fitrah, maka orang tua nyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi, seperti binatang yang melahirkan binatang  yang lain, apakah kamu melihat binatang yang terpotong telinganya di antara binatang-binatang yang dilahirkan itu”. (HR. Bukhari).

Dalam hadits tadi disebutkan, setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah. Secara bahasa, kata fitrah berasal dari kata fathara (فطر  ) yang berarti “menjadikan”. Kata tersebut berasal dari akar kata al-fathr (   ( الفطر yang berarti “belahan atau pecahan”. Fitrah mengandung arti “yang mula-mula diciptakan Allah”, “keadaan yang mula-mula”, “yang asal”, atau “yang awal.” Dan dari makna ini, lahir makna-makna lain, seperti “penciptaan” atau “kejadian”.

Dalam kamus Lisanul Arab, Ibnu Mandzhur menulis salah satu makna ‘fitrah’ dengan arti (Al-Ibtida wal ikhtiro /memulai dan mencipta). Sehingga dapat ditarik pengertian bahwa  fitrah adalah penciptaan awal atau asal kejadian. Fitrah adalah kondisi “default factory setting“, suatu kondisi awal sesuai desain pabrik.

Dalam batasan ini fitrah diartikan sebagai potensi jasmaniah dan akal yang diberikan Allah kepada manusia. Dengan potensi tersebut, manusia mampu melaksanakan “amanat” yang dibebankan oleh Allah kepadanya. Dalam batasan ini fitrah diartikan sebagai potensi jasmaniah dan akal yang diberikan Allah kepada manusia. Dengan potensi tersebut, manusia mampu melaksanakan “amanat” yang dibebankan oleh Allah kepadanya.

Dari berbagai pengertian di atas, bisa disimpulkan, fitrah diartikan sebagai segala potensi dimiliki manusia yang menyertainya sejak dia diciptakan dari dalam alam rahim.  Kalau disebut potensi, berarti apa yang dimiliki dalam bentuk fitrah tadi, masih kemampuan dasar dan belum berkembang. Nah, disinilah peranan keluarga terutama orang tua dalam mengembangkan potensi-potensi (fitrah) yang dimiliki oleh seorang anak.

Di dalam Alqur’an, kata fitrah dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 28 kali. Empat belas kali diantaranya, kata fitrah digunakan dalam konteks uraian penciptaan atau kejadian langit dan bumi. Sedangkan selebihnya, kata fitrah digunakan dalam konteks penciptaan manusia, baik dari sisi pengakuan bahwa penciptanya adalah Allah, maupun dari segi uraian tentang fitrah manusia.

Teori fitrah ini merupakan salah satu aksioma tentang pengajaran. Manusia dilahirkan membawa bakat (potensi-potensi dasar), dan dia akan menjadi aktual serta berkembang setelah mendapat rangsangan dan pengaruh yang diterimanya. Manusia secara fitrah adalah baik. Ia menjadi jahat disebabkan faktor luar dari proses aktualisasinya. Karena itu, pengajaran menjadi keharusan alami untuk mengoptimalkan potensi ”baik” yang bersifat inhern tersebut.

Konsep mengenai faktor yang mempengaruhi pendidikan ini sebenarnya sudah diungkapkan oleh Ibn Khaldun (1332 – 1406) sosiolog dan filsuf sejarah. Dia sudah cukup lama berkecimpung dalam bidang pengajaran telah menciptakan konsep-konsep dan teori yang bermanfaat untuk dikembangkan. Berdasarkan pengamatannya yang jeli dan pengalamannya yang luas, ia telah menghasilkan pokok-pokok pikiran tentang pengajaran yang menarik perhatian sejumlah pakar pendidikan. Pandangan Ibn Khaldun tentang potensialitas dan aktualitas ini sebenarnya telah mendahului bukan saja teori empirisme, nativisme dan teori konvergensi.

Teori Fitrah ini merupakan titik tolak utama pemikiran Ibn Khaldun dalam menerangkan perkembangan. Dia mendasarkan pada hadis ”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah”. Bertolak dari teori fitrah ini, ia memandang belajar (al-ta’allum) sebagai suatu fenomena sosial yang alami dalam mengaktualisasikan potesialitas-potensialitas manusia. Proses aktualisasi belajar itu sendiri diterangkan oleh Ibn Khaldun dengan menggunakan konsep ”malakah” sebagai teori sentral. Inti belajar menurut dia adalah optimalisasi pencapaian malakah. Konsep malakah tersebut adalah sifat (hasil perolehan) yang menancap (mengakar) kokoh dalam jiwa, disebabkan belajar atau mengerjakan sesuatu berulang kali.

Sehubungan dengan teori malakah tersebut, Ibn Khaldun menampilkan pula hukum-hukum dasar dan prinsip umum yang menyertainya. Hukum-hukum tersebut, antara lain, belajar bertahap (al-tadriji), pengulangan (al-tikrar), kebiasaan (al-’adah), kausalitas, trial and error, prinsip kualitas individual, peniruan dan kontinuitas. Menurut hukum tadrij belajar yang efektif dalam arti mencapai malakah seoptimal mungkin, adalah dilakukan berangsur-angsur, setahap demi setahap. (***)

Pos terkait