Konsep Pembelajaran Jarak Jauh Lintas Generasi

  • Whatsapp
Rini Trihastuti, S.Pd
Guru SMA Negeri 4 Pangkalpinang, Babel

Perkembangan dan kemajuan Teknologi dalam bidang Informasi mendorong münculnya berbagai perubahan disegala bidang termasuk dalam pendidikan. Konsep Pembelajaran jarak jauh yang termasuk didalamnya tentunya juga mengalami beberapa penyesuaian yanğ perlu ditinjaıı kembali seiring munculnya berbagai kemudahan yang dapat diwujudkan dengan pemanfaatan Teknologi informasi dalam proses pembelajaran. Walaupun masih memiliki berbagai kelemahan, pembelajaran jarak jauh dirasa masih sangat efektif untuk mengatasi permasalahn pendidikan di Indonesia khususnya. Sistem ini perlu untuk terus dikembangkan untuk melayani kebutuhan belajar sepanjang hayat. Ada kecenderungan dalam pembelajaran jarakjauh bahwa jarak transaksi yang muncul mengakibatkan kendala yang tidak sederhana, namun melalui kelas-kelas virtual persoalan jarak transaksi berusaha untuk dapat dikendalikan.

Virtual learning memiliki potensi yang tinggi untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran dalam sistem pembelajaran jarak jauh ternyata membutuhkan infrastruktur dan biaya yang tidak sedikit. Karena itü, pada saat ini, mungkin hanya dapat dikembangkan di daerah-daerah tertentu, dan bagi lalangan tertentu pula agar sistem pendidikan kita tetap dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dalam bidang pendidikan. Pengembangannya dan penggunaannya merupakan sebuah kebutuhan akan peningkatan kualitas pendidikan yang tidak dapat kita abaikan.

Karakteristik utama dari pembelajaran jarak jauh adalah adanya keterpisahan, baik Keterpisahan secara fisik, psikilogis dan komunikasi, antara pengajar dan peserta belajarnya. Keterpisahan jarak antara siswa dan guru dalam pendidikan jarak jauh tidak hanya dipandang dari segi jarak fisik dan geografis saja, melainkan harus dilihat sebagai jarak komunikasi dan psikologis yang disebabkan keterpisahan antara siswa dan guru. Keterpisahan tersebut, merupakan jarak transaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran, sehingga diperlukan formula untuk menjembatani batas transaksi dalam pembelajaran tersebut, karena jarak transaksi mengakibatkan perbedaan persepsi mengenai konsep yang disampaikan.

Sesuai dengan karakteristik pembelajaran jarak jauh, adanya keterpisahan atau jarak transaksi antara guru dan siswa diatasi melalui penggunaan media pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa, agar dapat membelajarkan peserta belajar dengan bantuan yang relatif sedikit dari dosen untuk menyajikan rangkaian materi pembelajaran. Bahan belajar harus mampu mengupayakan tercapainya sasaran kompetensi yang diharapkan. Menurut Rustam Sehar dan Paulina Pannen (2004), bahan belajar harus berisi tujuan instruksional, uraian materi yang berisi konsep, prinsip dan prosedur, contoh dan non contoh, latihan, rangkuman, tes formatif, umpan balik, referensi dan kuncijawaban tes formatif.

Baca Lainnya

Konsep pembelajaran jarak jauh mempunyai makna yang baru dengan semakin berkembangnya dan informasi. Eksistensi pembelajaran jarak jauh bergantung pada media pembelajaran yang digunakan. Media pembelajaran tersebut selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan teknologi. Teknologi memberikan warna baru dalam pembelajaran jarak jauh, diawali dengan penggunaan bahan tercetak, kaset audio kemudian beralih pada media video dan sekarang berkembang dengan penggunaan komputer dan internet yang berdampak besar terhadap pembelajaran jarak jauh.

Ada enam fase sejarah dalam pembelajaran jarak jauh, yaitu : (l) Fase cetak; (2) Fase cetak dan audio ternasuk gabungan antara radio dan kaset audio; (3) cetak, audio dan video yang melengkapi penggunaan televisi, satelit dan video conference; (4) cetak, audio, video, komputer yang mendasari teknologi masa kini; (5) Teknologi campuran/gabungan dengan penggunaan komputer untuk mengirimkan audio dan video yang sudah dikompresi; dan (6) Lingkungan belajar maya dengan menggunakan internet untuk menciptakan lingkungan yang synchronous dan yang asynchronous untuk para peserta belajar. Kalau kita runut spaling tidak 5 tahap generasi dalam pembelajaran jarak jauh dan sampai saat ini berada pada tahap generasi kelima.

Generasi pertama adalah Pendidikan korespondensi (correspondence study) yang merupakan sistem pendidikan belajar mandiri dengan media cetak sebagai media utama, khususnya panduan belajar dan tugas-tugas. Generasi kedua dengan digunakannya teknologi siaran dan rekaman terutama melalui televisi, radio dan kaset audio/video serta penggunaan komputer dalam satu paket bahan ajar. Walaupun demikian penggunaan bahan tercetak belum ditinggalkan penggunaannya. Generasi ketiga (limulai pada awal tahun 1990-an, bercirikan dengan penggunaan media dan teknologi untuk proses pembelajaran jarak jauh secara sinkronus dalam bentuk telekonferensi-audio, video, audiografik dan juga radio. Media pada generasi ketiga ini, tidak terlalu populer, karena penggunaan telekonferensi yang menggunakan satelit membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Generasi keempat bercirikan dengan pemaniäatan komputer jaringan intranet dan internet.

Melalui cara ini, peserta didik dapat mengakses berbagai layanan belajar seperti bahan ajar atau infomasi lain melalui e-mail, chatting atau browsing di internet dari berbagai tempat sesuai dengan waktu yang mereka inginkan. Generasi kelima merupakan kelanjutan dari generasi keempat. Generasi kelima disebut dengan generasi virtual learning, dimana prinsip keuntungan ekonomis relatif tidak berlaku lagi. Bahkan diprediksikan oleh para ahli bahwa biaya sistem pembelajaran jauh yang berbasiskan virtual learning atau e-learning merupakan pembelajaran berbantuan elektronika khususnya perangkat komputer. Proses pembelajarannya dilakukan dalam kampus maya dan bersifat fleksibel dengan memanfaatkan multimedia interaktif online dan sistem respon dilakukan secara otomatis. (***).

 

Related posts